Lazada Indonesia

BUDIDAYA ULAT SUTERA

BUDIDAYA ULAT SUTERA

ulat sutera budidaya, sejarah sutera, silk, jedwabnik, bourec morušový, ipek böceği, priadka morušová, where do silkworms live, pengolahan sutra, pengolahan sutera

Cara lengkap budidaya ulat sutra

Air liurnya menggiurkan. Keuntungan besar dapat diperoleh dengan mudah dari kokon (yang disebut pelindung kepompong) yang dihasilkannya. Apalagi bila diproses menjadi produk lain seperti benang bedah, tekstil bermutu tinggi, parasut. Berikut ini diberikan beberapa informasi dan petunjuk tentang budidayanya yang perlu diketahui.

Bibit ulat sutera dapat diperoleh dalam bentuk telur yang siap ditetaskan. Telur diperjualbelikan dalam bentuk lembaran kertas tempat telur-telur itu menempel, dan dalam bentuk kotak atau boks tempat telur-telur itu dikemas lepas. Telur demikian pada saat ini banyak berasal dari Perhutani Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah. Itu merupakan hasil persilangan bibit ulat sutera ras Jepang yang mempunyai produktivitas tinggi dengan bibit ulat sutera ras Cina yang relatif tahan terhadap penyakit. Tiap boks biasanya berisi 20.000 butir telur, dengan kemampuan hidup 90%. Harganya pun relatif lebih murah dibandingkan telur ulat sutera impor, sedangkan kokon yang dihasilkan bermutu tinggi. Satu kokon dapat menghasilkan lebih seribu meter serat benang sutera.

Tahapan budidaya ulat sutera meliputi persiapan, pemeliharaan ulat kecil (stadia I hingga stadia III), pemeliharaan ulat besar (stadia IV hingga stadia V), dan pengokonan. Masing-masing tahapan memerlukan penanganan yang berbeda-beda dan memerlukan perhatian penuh yang akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ulat sutera dan mutu kokon yang dihasilkan.

I.  Persiapan Pemeliharaan

Persiapan yang perlu dilakukan sebelum dan pada saat melaksanakan pemeliharaan ulat sutera adalah persiapan ruangan dan alat-alat perlengkapan serta persiapan untuk penetasan telur.

1.  Persiapan ruangan dan alat-alat perlengkapan

Ruangan ini dibutuhkan untuk pemeliharaan ulat dan penyimpanan daun murbei. Suhu ruangan kelembapan maupun sirkulasi udara harus dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Bila suhu dan kelembapan tinggi, maka dilakukan pendinginan (biasanya dengan menyiramkan air ke lantai) dan mengatur sirkulasi udara. Bila suhu rendah dan kelembapan tinggi, maka dilakukan pemanasan dan mengatur sirkulasi udara. Ruangan juga harus dijaga dari pengaruh langsung cahaya matahari dan angin serta gangguan-gangguan binatang seperti tikus, lalat, dan semut, terutama pada saat pemeliharaan ulat sedang berlangsung.

Di samping itu ruangan dan alat-alat perlengkapan harus didisinfeksi untuk mencegah penyakit pada saat pemeliharaan ulat sutera. Sebelum dilakukan disinfeksi, alat-alat perlengkapan yang dibutuhkan seperti sasag (tampah), jaring, keranjang tempat daun murbei, rak-rak, dan berbagai peralatan pendukung lainnya harus dicuci bersih dan dijemur atau dikeringkan. Disinfeksi ruangan dan alat-alat perlengkapan dilakukan dengan bahan dan cara sebagai berikut :

a.  Dengan larutan formalin (2-3%)

Ruangan disemprot larutan formalin dengan dosis 1 lt/m2. Setelah penyemprotan, ruangan ditutup rapat sekurang-kurangnya 24 jam dan baru dibuka kurang lebih 24 jam sebelum penggunaan.

b.  Dengan Neo PPS

Sebelum dilakukan disinfeksi, bahan-bahan yang tidak tahan basah seperti kertas-kertas, dan alat-alat yang terbuat dari logam, terlebih dahulu dimasukkan ke dalam ruangan yang hendak didisinfeksi. Disinfeksi dilakukan dengan cara fumigasi, yaitu dengan cara memanaskan Neo PPS yang berupa tepung di atas semacam piring kaleng, yang diletakkan di atas anglo dengan api yang membara. Dosisnya adalah 60 gram untuk ruangan seluas 10 meter kubik, dan tepung Neo PPS tidak boleh langsung terkena api agar pengaruhnya untuk membasmi dengan asap yang dihasilkan tetap besar. Ruangan dibiarkan tertutup sekurang-kurangnya 6 jam.

2.  Persiapan untuk penetasan

Telur yang akan ditetaskan disimpan dalam ruangan bersuhu 24-25oC, kelembapan udara 80-85%, dan cahaya cukup (17-18 jam/hari terang dan 6-7 jam/hari gelap adalah yang baik).

Telur akan menetas dalam waktu 10 hingga 11 hari. 2-3 hari sebelum menetas akan tampak bintik-bintik berwarna gelap pada telur, dan berangsur-angsur akan menutupi permukaan telur hingga muncul ulat-ulat kecil. Supaya penetasan terjadi pada waktu yang hampir bersamaan, ruangan penetasan dijadikan “kamar inkubasi gelap”. Ini untuk memperlambat waktu penetasan telur yang tadinya akan menetas lebih cepat dan menunggu telur-telur yang perkembangannya agar terlambat. Untuk membuat “kamar gelap”, boks ditutup kain atau kertas berwarna gelap.

Pada hari yang diperkirakan telur akan menetas, pagi-pagi boks diperiksa (biasanya telur menetas pada pagi hari). Bila hanya sedikit ulatnya yang tampak dan sebagian besar telur belum memperlihatkan tanda untuk menetas, maka segera boks ditutup lagi, menunggu keesokan harinya, agar penetasan dapat terjadi pada waktu yang hampir bersamaan. Kalau sudah banyak ulat kecil yang tampak dan sebagian besar telur sudah memperlihatkan tanda akan menetas, maka penutup segera dibuka agar telur segera mendapat cahaya. Ini mempercepat proses penetasan. Ulat yang menetas dari telur (kurang lebih 2-3 mm), berwarna hitam penuh bulu.

II.  Pemeliharaan Ulat Kecil. Lanjutkan Ke –> Page / Halaman 2