Lazada Indonesia

PENYAKIT KUNING MASIH MENJADI ‘MOMOK’ BAGI PETAMBAK UDANG

PENYAKIT KUNING MASIH MENJADI ‘MOMOK’ BAGI PETAMBAK UDANG

Hanya dalam waktu 3-5 hari jika tidak segera dipanen, tingkat kematian udang berumur 50-60 hari, bisa mencapai 100% secara bertahap. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini pernah mewabah di Thailand bagian tengah dan timur. Penelitian Akhmad Rukyani, Ph.D, pakar penyakit udang, membuktikan penyakit ini sudah berjangkit di Indonesia.

Elow-head disease atau penyakit kuning pertama kali dikenali oleh Chalor Limsuwan, ahli penyakit udang Thailand, di sebuah areal pertambakan yang terletak di dekat Bangkok pada 1990. Penyakit yang disana disebut hua leung ini menimbulkan banyak kerugian, terutama provinsi-provinsi. Thailand tengah dan timur. Ciri serangannya khas, dan udang akan mati di dasar tambak secara bertahap. Sehingga tanpa pemantauan dini adanya penyakit ini bisa berakibat fatal bagi petambak.

Petambak Indonesia pun mesti waspada, karena “Penyakit kuning ini sudah saya temukan di Gresik dan Tangerang pada awal 1993”, ungkap Akhmad Rukyani, Ph.D. Bahkan menurutnya, di Gresik udang yang terserang berasal dari tambak tradisional. Sehingga petambak baik tradisional maupun intensif diharapkan mampu mengenali gejala klinisnya sejak awal, supaya bisa menyelamatkan tambaknya.

Gejala penyakit

tambak udang air tawar, tambak udang windu, tambak udang lampung, tambak udang galah, budidaya tambak udang, usaha tambak udang

Gambar udang di tangan
gambar : girlsgirlsasia.com

Menurut Akhmad Rukyani, mula-mula udang yang terserang penyakit kuning makan dengan baik dan pertumbuhan fisiknya pun bagus. Namun, ketika mencapai umur 50-60 hari, tiba-tiba nafsu makannya menurun drastis. Akibatnya, perut udang tampak kosong dan warna tubuhnya pucat. Jika diperhatikan, bagian kepala termasuk hepatopankreasnya berwarna kekuningan. Itulah sebabnya penyakit ini disebut yellow head disease. Namun, ahli udang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Slipi, Jakarta ini mengingatkan, gejala kuning tidak selalu tampak pada semuaindividu udang yang terserang. Oleh karena itu, perlu pengujian di laboratorium.

Di laboratorium, pemeriksaan bisa dilakukan pada hepatopankreas atau insang. Dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin (H&E), jaringan yang sakit kelihatan berwarna biru dan terdapat banyak bulatan yang disebut basophilic globose bodies dan rapat letaknya. Selain itu, Rukyani menganjurkan cara diagnosis cepat yang bisa dilakukan dalam waktu hanya satu jam. Caranya, darah udang yang sakit-biasanya disebut haemolymph-dicat dengan pewarna Giemsa.  Hasilnya, melalui mikroskop tampak ada kerusakan sel, piknosis, karioreksis, atau terdapat sel fagosit. Piknosis ialah degenerasi dari kondisi inti sel yang ditandai dengan adanya penggumpalan kromosom, penyusutan inti, dan penyerapan warna yang berlebihan. Sedangkan istilah karioreksis mengacu pada terjadinya kehancuran inti sel.

Virus ganas

Penyakit kuning yang menyebabkan kerugian besar tahun 1992 di Thailand itu ternyata disebabkan oleh virus. Belakangan virus tersebut diidentifikasi sebagai yellow head baculo virus like. Melalui suatu infeksi buatan di laboratorium di Thailand, virus mampu mematikan seluruh udang sehat percobaan dalam waktu 2 minggu.

Berdasarkan laporan Asian Shrimp News, 2nd Quarter 1993, virus ini termasuk ganas. Ia tetap menimbulkan kematian pada udang percobaan, kendati sampel udang sakit telah diencerkan sampai 1 : 12.000. Virus ini terbawa air dan bisa bertahan tanpa sel inangnya selama 72 jam.

Selain menginfeksi udang windu, ia pun menyerang udang putih. “Udang putih relatif lebih tahan terhadap penyakit kuning. Ia terserang tapi tidak sampai sakit, sehingga bisa berperan sebagai pembawa virus (penular penyakit)”, jelas Rukyani yang meraih gelar Ph.D-nya di Amerika Serikat. Sementara itu, Asian Shrimp News menyebutkan, spesies udang kecil bernama Palaemon styliferus juga bisa membawa virus ini. Jadi, penyebaran penyakit kuning dapat terjadi karena dua cara, melalui air dan dari udang sakit ke udang sehat.

Dengan mengetahui sifat penyebab penyakitnya, petambak penyakitnya, petambak bisa melakukan langkah-langkah pengendalian yang efektif.

Pengendalian

Alternatif pengendalian penyakit kuning yang direkomendasikan dengan mempercepat panen, penambahan vitamin C untuk memperkuat kondisi tubuh udang, vaksinasi, dan penggunaan immunostimulant. “Namun dari sejumlah alternatif, pencegahan dengan pond management-lah yang lebih baik dilaksanakan sembari menunggu hasil penelitian immunostimulant”, tegas Rukyani. Prinsip pond management (pengelolaan tambak) terdiri dari kebersihan dasar kolam, pengendalian populasi plankton, dan stabilitas pH.

Kebersihan dasar kolam dapat dicapai dengan mengatur arah pusaran kincir air ke saluran pembuangan, sehingga sisa pakan dan kotoran udang terakumulasi seluruhnya di dekat saluran tersebut dan siap dibuang keluar tambak. Populasi plankton dijaga agar tidak terjadi blooming yang membahayakan udang. Sedangkan pH bisa distabilkan dengan pemberian kapur pertanian atau dolomit. Hal lain yang perlu dilakukan adalah pemberian aerasi yang cukup.

Bila dalam satu petak sudah terlanjur ada udang yang terinfeksi, sebaiknya udang segera dipanen sebelum semuanya mati. Yang perlu diingat, kematian dang terjadi di dasar tambak, sehingga pemantauan di dasar tidak boleh terlewatkan. (PSP) ~~~ PENYAKIT KUNING MASIH MENJADI ‘MOMOK’ BAGI PETAMBAK UDANG