Lazada Indonesia

SAWO LENGKENG, SAWO MIRIP LENGKENG

SAWO LENGKENG, SAWO MIRIP LENGKENG

Buahnya kecil, hanya lebih besar sedikit daripada lengkeng, sehingga petani dan pedagang menamainya sawo lengkeng. Selain rasanya yang lebih manis dan bertkstur halus dibandingkan sawo apel, ia juga menarik sebagai tanaman hias.

sawo fruit, sawo lengkeng, sawo kecik, sapodilla, sawo jumbo, sawo duren, sawo wood, sawo steam generator, sawo inc

Contoh sawo lengkeng
gambar : pohonbuahnursery.com

Dibandingkan sawo biasa (sawo manila atau sawo betawi), rasanya memang kurang manis. Daging buahnya agak keras dan masir. Namun ia tetap lebih manis dan bertekstur lebih halus daripada sawo apel lain (sawo apel kelapa atau sawo apel lilin). Sawo ini enak dimakan bila telah cukup matang, dan terasa agak sepat bila masih kurang matang. Buahnya muncul sepanjang tahun, paling lebat bulan Desember sampai Februari. Bagi masyarakat Betawi, sawo lengkeng juga digunakan sebagai obat sembelit.

Bentuk sawo ini mirip sawo apel, bahkan menurut K. Heyne, ia kemungkinan tumbuh dari benih yang berasal dari pohon sawo apel. Hanya ukurannya lebih kecil, berbentuk bulat dengan diameter 3-5 cm. Daun sawo lengkeng lebih kurus dan panjang dibandingkan sawo apel, namun lebih melebar daripada daun sawo biasa. Pohonnya tumbuh meninggi dan tidak mempunyai banyak percabangan yang melebar ke samping seperti sawo biasa.

Sawo lengkeng hanya dijumpai di daerah-daerah tertentu. Di Jakarta, ia banyak ditemui di Lenteng Agung, Kampung Jawa, Kelapa Tiga, Condet, dan Pasar Minggu. Ia juga banyak dijumpai di daerah Bogor. Selain disebut sawo lengkeng, ada juga yang menamakannya sawo apel sejati, sawo apel bener, sawo kecil, atau sawo kerikil.

Tidak Manja

Sawo lengkeng dapat diperbanyak dengan cara mencangkok atau melalui biji. Menurut H. Rozak, pedagang bibit buah-buahan di Ragunan Pasar Minggu, pohon sawo lengkeng dari cangkokan mulai berbuah pada umur 2 tahun atau kurang, tergantung besarnya cangkokan. Sekitar enam bulan kemudian, ia sudah dapat dipanen. Sekitar enam bulan kemudian, ia sudah dapat dipanen. Pohon yang berasal dari biji, paling cepat berbuah pada umur 4-5 tahun. Pada panen pertama ini akan didapatkan hasil sekitar 10 kg.

Ada beberapa cara mempercepat sawo lengkeng berbuah. Menurut Husin, karyawan H. Rozak, cara pertama adalah dengan mencekik pangkal batang menggunakan kawat. Dapat juga dengan menggunting akar yang menyisakan 2-3 cabang akar saja. Perlakuan ini lebih tepat diberikan pada pohon dari biji yang berumur sekitar 1 tahun. Cara lain dengan mengurangi penyiraman atau tanpa penyiraman sama sekali selama 3-4 hari, dan setelah itu baru disirami sedikit air. Melalui cara ini, sawo lengkeng dari biji dapat berbuah pada umur 3 tahun.

Sawo lengkeng bukan tanaman “manja”, sehingga mudah merawatnya. Menurut H. Rozak, ia sangat jarang memberikan pupuk dan pestisida anorganik pada bibit sawo lengkengnya. Pemupukan cukup 1 kali enam bulan dengan pupuk kandang. Bila perlu, dapat ditambahkan 1-2 sendok makan NPK. Untuk merangsang pembungaan diberikan zat pengatur tumbuh seperti Atonik atau Dekamon dengan dosis sesuai label.

Penyemprotan pestisida juga tidak mutlak, karena tidak ada hama dan penyakit yang membahayakan bagi tanaman ini. Pemangkasan dilakukan kalau perlu saja, atau untuk mendapatkan bentuk pohon yang bagus terutama bila penanaman lebih dipentingkan sebagai tanaman hias. TI – SAWO LENGKENG, SAWO MIRIP LENGKENG