Sejarah Ayam Sebagai Simbol Kekuasaan

Sejarah Ayam Sebagai Simbol Kekuasaan

sejarah ayam serama, sejarah ayam penyet, sejarah ayam goreng suharti, sejarah ayam betutu, sejarah ayam lepas, sejarah ayam taliwang, sejarah ayam kampung

Ayam jago petarung bagus
gambar : youtube.com

Kepulauan Nusantara ini pernah mengalami puncak kejayaan. Waktu itu negara di kepulauan ini bernama Majapahit. Yang berkuasa adalah seorang raja bernama Hayam Wuruk. Hayam berarti ayam, yang ternyata bukan binatang sembarangan. Bahkan seorang raja besar pun berkenan menggunakan nama “ayam”. Waktu itu, memang sedang populer para pejabat tinggi negara menggunakan nama-nama binatang seperti mahisa yang berarti (kerbau), lembu (sapi), dan juga gajah.

Meskipun ada pendapat yang mengatakan bahwa penguasa sebenarnya Kerajaan Majapahit di abad XIV adalah Mahapatih Gajah Mada, namun lambang kekuasaan itu tetap ada pada Hayam Wuruk. Ayam, terutama ayam jantan, memang biasa digunakan sebagai lambang kekuasaan, keperkasaan, dan kekuasaan. Sampai sekarang, keperkasaan selalu diidentikkan dengan ayam jantan (=jago). Tidak pernah keperkasaan disebut “gajahan” atau “kerbauan”. Selalu kita menyebutnya “jagoan”. Istilah jago sendiri (=sawung) juga sering digunakan langsung sebagai nama diri. Misalnya Sawung Galing, Sawung Geni, juga Sawung Jabo.

Memang, tidak semua tempat di dunia menaruh hormat terhadap ayam. Di Amerika Serikat misalnya, istilah chicken justru digunakan untuk melecehkan sesuatu. Namun di Indonesia, tidak pernah terdengar pelecehan atau makian yang menggunakan istilah ayam. Kata-kata makian yang lazim kita dengar selalu terkait dengan babi, monyet, (untuk kejelekan); kerbau, keledai (untuk kebodohan); beo, bebek (untuk sifat pengekor); bunglon (untuk sifat mudah berubah pendirian), buaya (untuk sifat licik), dan lain-lain. Kebalikan dari itu semua, ayam, terutama ayam jago, selalu dikaitkan dengan kejantanan, keberanian, dan keperkasaan.

cara merawat ayam aduan, gambar ayam aduan, ciri-ciri ayam aduan super, jamu ayam aduan, ayam aduan pukul ko, jual ayam aduan

Gambar sabung ayam.
gambar : jokuci.blogspot.com

Kecintaan masyarakat terhadap ayam memang belum sampai pada tingkat pemujaan. Berbeda misalnya terhadap perkutut. Atau di masyarakat Eropa terhadap anjing. Di Indonesia, khususnya di Jawa, perkutut sering dikaitkan dengan hal-hal yang tidak rasional. Betapa pun besarnya perhatian seseorang terhadap ayam, tidak pernah mengarah ke hal-hal yang aneh. Semua tetap rasional. Memang, terhadap ayam cemani misalnya, ada kepercayaan yang mengarah ke persoalan paranormal. Namun yang terjadi tetap rasional. Ayam cemani itu dipotong dan daging atau darahnya dimasak, lalu dimakan sebagai obat. Pada perkutut hal ini tidak pernah terjadi.

Dewasa ini, ayam adalah jenis unggas yang paling banyak dipelihara dan diternak manusia. Gradasi kepentingan maupun tingkat sosial ekonomi pemeliharanya sangat tajam perbedaannya. Seorang petani di pedalaman Kalimantan sana memelihara ayam untuk tujuan yang sangat praktis. Untuk diambil telurnya, untuk dipotong pada saat hajatan, atau dijual ketika memerlukan uang. Antara pengusaha dan peternak ayam ras pasti berbeda pula kepentingannya. Dan seorang pejabat tinggi, yang menaruh bekisar atau ayam pelung di halaman rumahnya, pasti punya kepentingan lain lagi. Dalam tingkat seperti ini, ayam lalu menjadi salah satu dari sekian banyak simbol statsu.

Dalam mitologi, ayam jago memang disebut-sebut sebagai lambang kesombongan. Kesombongan ayam jago ini demikian besarnya hingga mereka berani “mengklaim” memiliki kekuasaan untuk “membangunkan” matahari. Ayam jagolah yang memanggil matahari terbit pada pagi hari dengan kokoknya yang nyaring. Namun dalam mitologi juga disebutkan bahwa kokok ayam jago itu sebenarnya adalah merupakan ratapan. Dulu ayam jago dipercaya memiliki tanduk. Namun tanduk itu dipinjam kambing sampai sekarang. Dan kokok itu merupakan upaya untuk menagih tanduk yang sia-sia. TH ~~ Sejarah Ayam Sebagai Simbol Kekuasaan ~~

Comments
  1. MissNews |