Bertanam Jamur Tiram Dengan Media Kertas

Bertanam Jamur Tiram Dengan Media Kertas

resep masakan jamur tiram, manfaat jamur tiram, harga jamur tiram, cara budidaya jamur tiram, jamur merang, jamur kuping, jamur kancing, resep jamur tiram

Jamur Tiram
gambar : scribd.com

Serbuk gergaji yang sampai kini masih merupakan media tanam utama jamur tiram, ternyata dapat diganti bahan lain seperti kertas bekas yang sudah tidak termanfaatkan. Potensinya sebagai media tanam tak kalah menarik, karena dapat menghasilkan rata-rata 150 gram jamur tiram setiap periode tanam per 1.000 gram kertas.

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan sayuran yang sedang nge-trend di Indonesia, karena banyak diminati pasar swalayan. Ada yang dijual segar, ada pula yang dalam bentuk kering.

Di hutan, jamur tiram tumbuh liar secara saprofit (artinya : hidup pada hasil perombakan atau pelapukan jasad lain). Pada kayu yang telah lapuk atau kayu yang sedang mengalami proses pelapukan. Sosoknya mempunyai ciri-ciri seperti cangkang kerang, bertangkai pendek, bertudung tebal, berwarna merah muda sampai putih.

Karena penampilannya menarik dan cita rasanya lezat, jamur tiram banyak dibudidayakan orang di berbagai negara seperti Jepang, Korea, Taiwan, Italia, Perancis, Muangthai dan kini di Indonesia.

Pembudidayaannya di Indonesia masih terbatas di beberapa tempat seperti di Jawa Barat, terutama di daerah sejuk bersuhu antara 18 – 25oC, berkelembapan udara tinggi antara 80 sampai 95 persen. Media tanamnya yang paling banyak digunakan adalah serbuk gergaji. Tetapi kini ada alternatif lain untuk media tumbuh jamur tersebut. Media alternatif yang bisa mengganti serbuk gergaji itu adalah kertas bekas.

Kertas-kerta bekas yang dipergunakan bisa koran, HVS, duplikator dan lain-lain yang sudah jadi sampah. Kertas-kertas itu bisa diolah jadi media tanam jamur tiram dengan hasil yang cukup produktif. Dari 1 kg kertas koran rata-rata bisa menghasilkan 150 gram jamur segar.

Berikut ini tahap-tahap proses pembudidayaan jamur tiram dengan media kertas :

  1. Kertas bekas yang telah terkumpul dibersihkan dari kotoran.
  2. Kertas itu dipotong-potong dengan ukuran 1 cm x 1 cm.
  3. Kertas direbus sampai airnya mendidih, agar steril.
  4. Kertas yang telah direbus ditiriskan satu malam agar kelebihan airnya terbuang, tapi tingkat kelembapannya tetap mencukupi.
  5. Ditambahkan bekatul sebanyak 20 persen dari berat kertas, untuk mendukung pertumbuhan jamurnya.
  6. Kertas dan bekatul yang tercampir diaduk sampai merata.
  7. Media tanam yang telah tercampir rata itu dimasukkan dalam kantung plastik yang tahan panas.
  8. Mulut kantung disumbat dengan kapas sebelum diikat dengan karet.
  9. Selanjutnya media tanam itu direbus dalam ketel atau disterilkan sekali lagi dalam tangki sterilisasi selama 30 sampai 60 menit pada suhu 121oC dan tekanan 15 lbs/cm. Tempat sterilisasi ini dapat diganti dengan dandang nasi biasa.
  10. Media tanam kemudian didinginkan sampai mencapai suhu kamar.
  11. Sumbat dibuka dan bibit jamur tiram sebanyak 1 cm2 ditanam pada media tanam yang sudah steril itu dengan menggunakan jarum Ose.
  12. Kantung ditutup kembali dengan sumbat kapas.
  13. Kantung media tanam yang telah diinokulasi bibit jamur tiram itu disimpan di tempat yang terlindung dan lembap, pada rak penyimpanan khusus.
  14. Rak penyimpanan perlu tertutup selimut plastik agar tidak dihinggapi serangga nyasar. Tujuannya untuk mencegah tercemarnya jamur oleh mikroorganisme yang terbawa serangga itu.
  15. Kalau penanamannya berhasil, sekitar 5 sampai 7 hari kemudian campuran media tanam dalam kantung plastik itu sudah ditumbuhi miselium (jalinan-jalinan bening halus) yang menyebar ke seluruh relung media tanam.
  16. Sekitar 2 sampai 4 minggu kemudian jamur bisa dipanen untuk pertama kalinya. Pemanenannya, batang jamur harus dipotong sampai dasar pangkal batangnya. Kalau ada bagian yang masih tersisa, dikhawatirkan membusuk nantinya.
  17. Pemanenan selanjutnya bisa berturut-turut antara 5 sampai 8 kali, tapi hasil terbaik adalah panenan pertama dan kedua.

Selain kertas bekas, bahan lain untuk media tanam jamur tiram yang tak kalah menarik potensinya adalah limbah pertanian. Limbah seperti kulit kacang tanah, kulit kacang merah, kulit kedelai, kulit kacang hijau, daun pisang kering, sekam padi, jerami padi, batang jagung, tongkol jagung dan sisa pengolahan kapas, yang sampai saat ini belum banyak termanfaatkan bisa diolah juga jadi media tanam jamur tiram. Semua limbah itu cukup banyak mengandung selulosa (serat kasar) dan lignin (zat penyusun kayu) yang sulit terurai. Kalau penguraian kedua unsur itu diserahkan pada alam dengan cara membuangnya jadi sampah, prosesnya bisa makan waktu sangat lama. Dengan memanfaatkannya sebagai media tanam jamur, dua keuntungan bisa diperoleh sekaligus, yaitu jamurnya yang bernilai ekonomis tinggi dan limbah tanaman yang telah terurai oleh jamur itu bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. #LP “` Bertanam Jamur Tiram Dengan Media Kertas