Lazada Indonesia

Waspada! Ancaman Tungau Di Musim Kemarau

Mewaspadai, Mencegah, Mengatasi Ancaman Tungau Di Musim Kemarau

hama tanaman jeruk bali, hama tanaman jeruk pdf, hama tanaman jeruk purut, mengatasi hama tanaman jeruk, makalah hama tanaman jeruk

Tanaman buah jeruk yang terkena serangan tungau
gambar : link.springer.com

Musim kemarau merupakan masa yang rawan bagi tanaman jeruk, saat itu perkembangan tungau pesat sekali, sehingga serangannya membahayakan tanaman dan bisa menurunkan mutu buahnya.

Di musim kemarau, musuh jeruk tambah satu lagi, yaitu tungau, kalau ia menyerang tangkai daun, tangkai menjadi berwarna seperti perunggu. Kalau ia menyerang daun, timbullah titik-titik kuning atau cokelat pada permukaan atas, sedang daging daunnya rusak. Akibatya, banyak yang gugur, karena penguapan air dari daun meningkat.

Kalau yang terserang itu buahnya, permukaannya berbercak-bercak, buah tidak segar lagi. Kulit buah akibat tungau ini ternyata khas, untuk setiap jenis jeruk dan tingkat kematangan buahnya. Pada jeruk, grapefruit (anggur), lemon, stroberi dan jeruk nipis, serangannya mula-mula menimbulkan warna keperak-perakan pada kulit buah. Makin parah, kulit buahnya makin menjadi bersisik. Pada jeruk manis, serangan pada fase perkembangan buah menimbulkan retakan-retakan cokelat pada kulit buah. Serangan pada fase pematangan, menyebabkan kulit buahnya berkerak.

Jenis tungau

Jenis tungau yang umum menyerang jeruk adalah Eriophyes sheldoni, ukurannya hanya sekitar 0,1 mm. Warnanya kuning terang sampai kuning jerami. Mulai dari bentuk telur sampai berupa tungau dewasa yang siap bertelur, perlu waktu 7 – 10 hari pada musim kemarau dan sekitar 14 hari pada musim hujan. Setiap hari tungau ini bertelur 1 – 2 butir, masa bertelurnya 20 hari. Jadi selama hidupnya, tungau ini bisa menghasilkan telur 20 – 40 butir, telur-telur diletakkan di permukaan daun atau buah.

penyakit tungau, jenis hama tungau, hewan tungau, taksonomi tungau, pengertian tungau, jenis hama tungau, tungau tanaman, tungau pada tanaman jeruk, tungau hama tanaman singkong, tungau pada tanaman cabai, tungau pada tanaman karet

Jenis hama tungau bernama latin (ilmiah) Tetranychus urticae
gambar : agric.wa.gov.au

Populasi tungau ini mulai meningkat pada awal musim kemarau dan mencapai puncaknya pada pertengahan musim. Kerusakan terutama timbul pada saat tanaman sedang bertunas. Beberapa jenis jeruk yang pertunasannya berlangsung beberapa kali, seperti grapefruit (anggur) dan lemon, membuat populasi tungau meningkat. Tungau ini akan berkembang juga sepanjang masa berbuah, sejak tunas buahnya keluar hingga buah itu matang.

Jenis tungau kedua adalah Tetranychus urticae, telurnya berwarna merah, berbentuk bulat. Bisaanya ia meletakkan telur-telurnya itu di sepanjang tulang daun dan tangkau daun muda yang masih sukulen. Seekor betina dewasa bisa bertelur 17 – 37 butir selama 11 – 14 hari. Dari telur sampai menjadi dewasa perlu waktu 12 hari, kalau betina dan 11 hari kalau jantan. Lama hidup tungau ini 23 hari. Kalau udara kering populasi tungau bisa berlipat 8,5 kali selama 10 hari.

Tetranychus mulanya menyerang tunas daun, kemudian bergerak ke buah muda. Tungai ini tidak menyukai bagian tanaman yang ternaungi. Oleh sebab itu, kerusakan terberat bisaanya terjadi pada bagian buah yang menghadap ke arah datangnya cahaya.

Yang ketiga, tungau Tenuipalpus sp, tungau ini berbiak terutama pada musim kemarau. Pada musim hujan ia berbunyi di ketiak ranting atau sela-sela kulit ranting tua. Tungau ini tidak begitu merusak buah, karena serangannya bisaanya pada ranting dan daun.

Pengendaliannya

Tungau ini bisa dikendalikan dengan cara sanitasi, yaitu dengan membuang dan memusnahkan bagian tanaman yang sudah terserang. Pencegahannya, kebun dijaga agar bebas dari tumbuhan liar yang diperkirakan menjadi inangnya. Selain itu, kelembapan di sekitar tanaman harus diusahakan tetap tinggi, agar perkembangbiakan tungau terhambat.

Untuk memberantasnya diperlukan akarisida (racun pembunuh tungau). Beberapa merek perstisida yang bisa berfungsi sebagai akarisida antara lain Omite, Kelthane, Morestan, Sevin dan Dicarbam.

Mengingat telur tungau tidak mati kalau terkena racun kimia, maka frekuensi penyemprotan pestisida terhadap tanaman yang sudah terserang harus ditingkatkan. Misalnya, kalau menurut petunjuk pada kemasannya racun kimia itu selang penyemprotannya 2 minggu, maka agar tungau terberantas selang penyemprotannya dipersingkat menjadi 4 – 5 hari. Alasannya, umur tetas telur tungau adalah 4 hari. Peningkatan frekuensi penyemprotan akarisida ini dilakukan sampai tungau diperkirakan sudah habis. Untuk selanjutnya, sebagai tindakan pencegahan, penyemprotan dilakukan sesuai dengan petunjuk penggunaan dari setiap pestisida. #YE ~~ Waspada! Ancaman Tungau Di Musim Kemarau ~~