Meningkatkan Produksi Tomat dengan Mulsa dan Turus

Meningkatkan Produksi Tomat dengan Mulsa dan Turus

produksi tomat per hektar, respon pertumbuhan dan produksi tomat, cara menanam tomat dari biji, cara menanam tomat yang baik dan benar, cara menanam tomat secara hidroponik, cara menanam tomat organik

Tanaman tomat tanpa turus dan mulsa
gambar : sewamobilbali.web.id

Penggunaan mulsa dan turus mampu meningkatkan produksi dan kualitas tomat. Mulsa meningkatkan produksi sebesar 39,50 – 60,50%, dan menekan buah busuk hampir 50% dibandingkan tanpa mulsa.

Sedangkan penggunaan turus dapat meningkatkan produksi 35 – 48%, serta menekan busuk buah tanah sekitar 20 – 30%.

Produksi tomat di Indonesia rata-rata 5-6,3 ton / ha.

Angka ini jauh di bawah produksi tomat dunia yang rata-rata 20,6 ton /ha. Rendahnya produksi tomat di Indonesia, di antaranya disebabkan masih ditanamnya varietas tomat yang produktivitasnya rendah dan budidaya masih dilakukan secara konvensional. Jadi, salah satu cara meningkatkan produksi dan kualitas tomat dengan menanam varietas hibrida unggul didukung sistem budidaya intensif. Pengembangan tomat secara intensif ini dicirikan dengan penerapan sistem mulsa dan penggunaan turus.

Mulsa Jerami Sampai Plastik

Penggunaan mulsa sangat berpengaruh terhadap produksi dan kualitas tomat. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Agus Sumarna dan Suwandi, peneliti dari Balithort Lembang, produksi tomat varietas Berlian hanya mencapai 11,73 ton /ha, dengan buah rusak 1,9 ton / ha. Sedangkan dengan menggunakan mulsa jerami, produksi dapat mencapai 15,69 ton /ha, meningkat 35,04% dengan buah rusak 1,89 ton /ha.

Penggunaan mulsa jerami dianjurkan dilakukan pada musim kering. Hasil penelitian Surachmat Kusumo, peneliti dari Balithort Pasar Minggu, Jakarta, menunjukkan produksi tomat pada musim hujan tanpa mulsa mencapai 14,6 ton /ha. Namun dengan mulsa jerami justru turun sebesar 32,9%. Keuntungan menggunakan mulsa jerami pada musim kemarau, antara lain dapat mempertahankan kelembapan tanah, mengurangi fluktuasi suhu tanah, menekan pertumbuhan gulma, dan mencegah terjadinya kontak langsung antara buah dengan tanah yang dapat menyebabkan busuk buah.

mutasi gen tunggal tingkatkan produksi tomat, hasil mutasi gen tomat, produksi tomat per hektar, respon pertumbuhan dan produksi tomat, cara menanam tomat dari biji, cara menanam tomat yang baik dan benar, cara menanam tomat secara hidroponik, cara menanam tomat organik

Produksi tomat per hektar di Indonesia rata-rata 5-6,3 ton / ha
gambar : journal.ipb.ac.id

Selain jerami kering, bahan mulsa lain adalah plastik hitam atau plastik hitam perak. Fungsinya sama dengan mulsa jerami, hanya saja plastik hitam perak dapat memantulkan sinar matahari yang secara tidak langsung berfungsi menghalau hama seperti tungau, thrips, dan aphid. Pantulan sinar matahari itu juga dapat menaikkan suhu dan menurunkan kelembapan di sekitar tanaman – ini dapat menghambat munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan. Etty Sumiati, pakar dari Balithort bidang fisiologi tanaman, berpendapat bahwa mulsa plastik hitam dapat meningkatkan kualitas tomat, khususnya kekerasan buah saat panen dan kandungan gula total gula setelah 7 hari penyimpanan. Sedangkan menurut Surachmat Kusmono, penggunaan mulsa jerami maupun plastik hitam dapat meningkatkan produksi tomat 39,5 – 60,5% dan menekan busuk buah 8,3 – 8,4%.

Turus Tegak

Tidak hanya mulsa yang dapat meningkatkan produksi tomat, tetapi turus pun mampu memacu produksi dan kualitas buah. Penggunaan turus sudah lama dilakukan oleh petani tomat, namun ukuran, bahan, dan teknik pemasangannya beragam. Turus dapat dibuat dari bahan kayu, bambu, atau tali rafia. Bahkan ada yang hanya menancapkan ranting-ranting pepohonan sebagai penyangga tanaman tomat.

Selama ini sebagian besar petani menggunakan turus dengan cara miring membentuk segitiga. Cara pemasangan turus ini ada kelemahannya, yaitu bahan lebih banyak (3 bilah) dan sirkulasi udara di sekitar tanaman (lingkungan mikro) kurang lancar, sehingga bisa mengundang berbagai penyakit. Oleh sebab itu cara ini diperbaiki/disempurnakan dengan sistem turus tegak.

Keuntungannya, dapat memperbaiki penyebaran daun dan tunas, sirkulasi udara lebih baik, lebih banyak bagian tanaman yang terkena sinar matahari, dapat memelihara 2 cabang utama secara optimal, dan mempermudah perawatan.

Hasil penelitian Agus Sumarna dan Suwandi membuktikan, tanpa turus tanaman hanya mampu menghasilkan buah tomat sebesar 10,03 ton /ha, dengan buah rusak 2,18 ton /ha. Sedangkan dengan turus bilah bambu produksi tomat bisa mencapai 16,49 ton /ha, atau meningkat 48%, dengan buah rusak 1,6 ton /ha. Penggunaan turus tali rafia/plastik pun mampu meningkatkan hasil menjadi 14,61 ton /ha, meningkat 35%, dengan buah rusak 1,9 ton /ha.

Tinggi rendahnya turus yang digunakan tergantung jenis tomat yang ditanam. Tomat yang tipe pertumbuhannya determinate (pertumbuhan batang diakhiri dengan rangkaian bunga, periode panen relatif pendek, dan sosok tanamannya rendah) menggunakan turus setinggi 80—100 cm. Sedangkan tipe pertumbuhan indeterminate (pertumbuhan batang tidak diakhiri dengan rangkaian bunga, periode panennya panjang, dan sosok tanaman tinggi) sebaiknya menggunakan turus setinggi 200-250 cm. #RR ~~ Meningkatkan Produksi Tomat dengan Mulsa dan Turus