Lazada Indonesia

Kedewasaan dan Kecerdasan dalam menyikapi Pernikahan (Perkawinan)

Kedewasaan dan kecerdasan kita dalam menyikapi perkawinan

masalah pernikahan dalam islam, tanya masalah pernikahan, permasalahan pernikahan, artikel pernikahan, bosan dalam pernikahan, konseling pernikahan islam

Permasalahan pernikahan bosan. gambar via : pinterest.com

Ada perempuan yg hobi kirim foto kurang sopan ke orang lain. Pasalnya? Ibarat ponsel android, baterai gairah suaminya tinggal dua strip; lelaki itu di rumah seperti pasien Parkinson. Tidak lagi perhatian dan kikir sanjungan, sehingga terpaksa permaisurinya cari saluran pelampiasan. Perkawinan tidak seindah yang dia pernah mimpikan.

Ada lelaki suka genit tebar pesona di luar huniannya. Alasannya? Dia punya bini / istri sudah abai pada kebutuhannya dan (konon) lebih sibuk memikirkan kesenangan dirinya. Merasa tak lagi dihargai, sang suami kreatif mencari kompensasi. Perkawinannya hambar, dia di ujung kegagalan.

Ada juga pasangan yang sama-sama sudah jenuh dan saling bosan. Komitmen menjaga keutuhan pernikahan tetap dipegang, demi anak-anak, demi stabilitas perusahaan, demi menjaga karir, demi menjaga martabat dan citra di mata lingkungan, tapi di luar kamuflase itu mereka saling membebaskan partnernya mencari kesenangan dan secuil nikmat hidup yang hilang.

Kenapa itu bisa terjadi? Apa mereka tidak punya agama? Jawaban dan dalilnya sangat panjang. Di bumi ini psikolog, penasehat perkawinan dan rokhaniawan tak kurang-kurangnya memberikan nasehat, tapi tetap saja kejadian ini berulang. Yang saya ingin katakan: kita semua (yg sudah berumah tangga) bisa kapan saja terperosok ke dalam kubangan seperti itu. Ada yang sadar dan segera bangkit memperbaiki kualitas perkawinannya, ada yang malah merasa asyik berkubang berlama-lama. Solusi dan cara mencegahnya bagaimana? Halah, buku manual cara menjaga perkawinan plus buku-buku agama ada ribuan!

Bagi saya, yang jauh lebih diperlukan adalah kedewasaan dan kecerdasan kita dalam menyikapi perkawinan. Pada umumnya kita ini tolol dan tidak sungguh-sungguh memahami makna perkawinan, dan lebih mengedepankan obsesi dan fantasi kita tentang lembaga itu. Celakanya lagi, harapan lelaki dan perempuan tentang perkawinan terkadang berbeda, atau bahkan bertolak belakang. Mereka sepakat saling mengikat demi mencari surga (jannah) dan kebahagiaan no matter what, tapi kalau di jalan kena sandungan, yang disalahkan adalah perkawinan. Ketidaksiapan mental menyaksikan perubahan, gejolak ego yang sulit diselaraskan dengan kenyataan, dan selusin ketololan lainnya ikut andil membuat situasi jadi runyam. Kita kadang juga berlebihan dalam memaknai perkawinan (termasuk juga mendefinisikan konsep kesetiaan, kepatuhan, tanggungjawab dan kekuasaan sehingga salah satu pihak pasti teraniaya jadi korban).

Solusi yang saya tawarkan: ajak pasangan Anda bicara baik-baik untuk merumuskan ulang visi misi atau tujuan perkawinan kalian. Jika ada aspek perkawinan yang gagal, tak ada salahnya anda bersepakat membangun aspek lainnya. Orang hidup itu yang luwes dan realistis saja, jangan ngotot menganiaya diri mengejar satu target semata. Mengakui kegagalan tidak akan merendahkan harga diri kalian.

Kembali ke persoalan semula: Bagaimana jika suami-istri sama-sama sudah bosan? Bosan itu juga bagian hidup yang sangat lumrah. Sesekali pasangan pasti merasa muak dan bosan, tapi jangan langsung berpaling dan membuang dia dari peredaran. Ingat kembali apa alasan Anda dulu memilih dan mempertahankan dia. Ingat juga dulu Anda pernah sumpah-sumpah akan setia, sanggup menerima dia apa adanya. Ingat juga kebaikan dan semua pengorbanan darinya. Anda sudah lakukan semua itu tapi rasa bosan di hati tidak hilang juga? Pergilah beberapa lama. Menyendiri. Bulatkan tekad untuk hidup tanpa memikirkan dia. Tanpa bergantung pada tanggungjawab atau layanan darinya. Kalau ada satu saja alasan yang membuat Anda harus kembali padanya, jadikan itu pegangan meski alasan itu tidak masuk akal dan samasekali tidak indah. Siapa bilang perkawinan mesti indah? Keindahan itu subyektif dan relatif. Tapi bukan berarti anda harus mengumbar keburukan jika ada kecewa di hati, cobalah bertahan dengan pilihan yang dulu anda buat sendiri. Perkawinan tak mesti seindah syurga: kadang ikatan itu memberimu banyak cobaan dan ujian ketahanan diri. Kadang perkawinan juga sebuah misteri. Hidup memang tak gampang, tapi sebaiknya jangan menyerah apalagi melarikan diri.

Dari : Bpk. Arif Subiyanto