Tips Hidup Tenang dan Bahagia No. 104 – 105

Tips & Resep Hidup Tenang dan Bahagia No. 104 – 105

Resep Hidup Tenang No. 104

hidup bahagia dunia akhirat, kata hidup bahagia, tip hidup bahagia, hidup bahagia dengan poligami, cara hidup bahagia, resep hidup bahagia, hidup bahagia info

Ilustrasi hidup bahagia
gambar : dinamikahidup

Hindari penyakit latah alias kecenderungan untuk menjadi penjiplak. Kalau melihat kesuksesan orang, jangan buru-buru bertanya lalu menirukan cara dia menggapai keberhasilannya, meski semua terkesan gampang dan masuk akal adanya. Anda bukan dia. Apa yang baik untuknya belum tentu baik untuk saudara. Carilah cara sendiri kalau Anda merasa bisa, atau bersyukurlah dengan apa yang sudah anda punya.

Jangan memaksa diri untuk memiliki sesuatu hanya karena orang lain nampak mentereng dengan benda itu. Anda tak pernah tahu: mungkin harta, perhiasan dan kekayaan yang membuatmu silau itu hanya obat penebus trauma di masa lalu, sedangkan dia tak sungguh-sungguh bahagia memilikinya. Dan sekiranya anda dianugerahi kelimpahan materi dan kemudahan hidup, kekanglah hasrat untuk pamer dan melukai hati orang dengan apa yang anda punya, sebab sedikit banyak itu menunjukkan bahwa jiwa anda masih saja compang camping dan merana.

Resep Hidup Tenang No. 105 : Mengelola Kebahagiaan

Sudah jamaknya manusia yang waras ingin memiliki dan selama mungkin mempertahankan rasa bahagia. Tapi semua orang yang normal otaknya pasti mengakui juga bahwa kesenangan, kegembiraan dan rasa bahagia adalah sesuatu yang elusive, misterius, licin bagaikan belut, sulit ditangkap dan digenggam, dan sebelum kau benar-benar meresapinya, dia sudah lenyap menghilang. Agar saya dan Anda tidak kelewat frustrasi karenanya, cobalah lebih bijak menyikapi dan mengelola rasa bahagia.

Ketahuilah bahwa sensasi bahagia itu hanya sementara. Tuhan yang lebih tahu berapa lama perasaan itu boleh singgah di hati anda, sebelum datang lagi badai kehidupan atau riak-riak kecil yang menyengat kesadaran kita agar tidak terlalu lama terlena. Mengapa demikian? Kegembiraan yang overdosis dan kebahagiaan yang kadaluwarsa bisa menumpulkan nurani dan menjadi racun jiwa.

kata hidup bahagia, tip hidup bahagia, hidup bahagia dengan poligami, cara hidup bahagia, resep hidup bahagia, hidup bahagia info, hidup bahagia menurut islam, hidup bahagia dunia akhirat

Ilustrasi kegembiraan / rasa bahagia bersama pasangan
gambar : dataseru

Manusia harus terus diasah kepekaan jiwanya, dengan apa lagi kalau bukan dengan derita. Kegembiraan yang berlangsung kelewat lama tak ubahnya gula-gula yang manis di lidah tapi menggerus gigi Anda, dan kalori yang berakumulasi di jaringan tubuh akan menimbulkan gumpalan lemak dan racun darah yang efeknya sungguh tak nyaman. Oleh karenanya, jangan mengharap bahagia tinggal terlalu lama, sebab anda akan dibutakan olehnya. Anda yang sudah dewasa pasti mengenal klimaks syurga dunia alias orgasme. Apa yang anda rasakan setelahnya? Paling-paling capek sekujur badan, dan anda lintang pukang ke kamar mandi karena merasa kotor san amat tolol seusai bergumul kesetanan. Seakan semua kemesraan yang berpayah-payah anda bangun tadi hanya berbuah kesia-siaan.

Tak ada salahnya memburu rasa bahagia. Manakala buah manis dari hasil perjuangan anda itu ada di genggaman, ekspresikan rasa syukur anda, rayakan, berteriaklah sampai serak. Tapi setelah puas anda meresapi perasaan itu, mulailah menata hati dan pikiran: setelah surut ekstasi jiwamu, setelah reda badai delirium yang memabukkan itu, Anda bakal kembali dihadapkan pada cobaan. Tak jarang cobaan itu berasal dari prestasi atau kemenangan anda sendiri. Contohnya banyak, silakan dicari sendiri.

Bila saatnya telah tiba, belajarlah mencari kebahagiaan yang jauh lebih hakiki, meskipun untuk itu anda terpaksa menanggalkan gebyar keduniaan yang anda banggakan selama ini. Kebahagiaan hakiki adalah rasa cukup, rasa tenteram, rasa terlindungi dan dipelihara oleh kekuatan, kuasa dan kasih sayang Illahi. Maybe it’s too premature for you to grasp that sort of feeling, but keep trying.

Tips Hidup Tenang dan Bahagia No. 104 – 105 Oleh : Bpk. Arif Subiyanto