Jenis Kodok, Ular dan Kadal Yang Bisa Terbang

Jenis Kodok, Ular dan Kadal Yang Bisa Terbang

rhacophorus nigropalmatus habitat, rhacophorus nigropalmatus information, wallace's flying frog, wallace flying frog facts, http en wikipedia org wiki flying frog, wallace's flying frog video, rhacophorus nigropalmatus breeding, rhacophorus reinwardtii1. Jenis Kodok

Rimba belantara di Lembah Danum, Kalimantan Utara ternyata menyimpan aneka ragam kodok, kadal, dan ular yang bisa ‘terbang’. Ada kodok yang mampu melayang dari ketinggian 42 meter dan sampai ke tanah dalam waktu 7,5 detik.

Kodok terbang yang pertama kali dikenal orang ialah Rhacophorus nigropalmatus dari keluarga Rhacophoridae. Kodok berwarna hijau ini diberi nama oleh Alfred Russel Wallace atau wallace’s flying frog. Panjang tubuh kodok jantan 90 mm; betina 100 mm. Mata besar. Jari kaki kuning. Membran berwarna hitam dan kuning.

Di wilayah itu tinggal pula spesies lain, yaitu kodok pohon harlequin, Rhacophorus pardalis. Selaput diantara jari kakinya lebih sehingga menambah kemampuannya untuk terbang layang. Panjang tubuh kodok jantan 5,5 mm; betina 6-7,5 cm. Ketika melompat turun, ia mengembangkan selaputnya yang berfungsi sebagai parasut agar daya luncurnya berkurang dan ia bisa mendarat pelan.

Selain di Kalimantan, pada tahun 1915, ditemukan lagi seekor kodok terbang di India Selatan. Kali ini diberi nama Rhacophorus malabaricus. Berdasarkan pengamatan diketahui, para kodok / katak itu tidak hanya mampu terbang layang sembarangan, tapi mereka pun sanggup mengendalikan arah terbang untuk mencari tempat pendaratan yang pas. Inilah kelebihan kodok dibandingkan ular terbang yang tidak bisa mengendalikan arah terbangnya.

Ratusan Butir Telur

Sebagai anggota keluarga Rhacophorus, R. nigropalmatus, R. pardalis, dan R. malabaricus memiliki banyak persamaan. Bentuk kepala mereka datar. Mata besar dan menonjol keluar. Iris mata horizontal. Anak telinga terlihat jelas. Jari kakinya bisa mengembang sampai setengah dari panjang jari. Dibandingkan betina, ukuran tubuh kodok jantan lebih kecil.

Kodok-kodok terbang ini aktif pada malam hari.

Mereka dapat memanjat sampai ke puncak pohon lantaran memiliki semacam alat cengkeram di ujung jarinya. Dari puncak pohon mereka meluncur turun dengan jarak tempih sampai puluhan meter. Pada masa kawin, pasangan kodok terbang membuat sarang berwarna putih, menggumpal, dan berbentuk seperti buih. Sarang ini ditempelkan di ranting dan daun yang ada di atas air. Warna sarang berangsur-angsur berubah dari putih menjadi kekuningan dan akhirnya cokelat.

Sebelum bertelur, kodok betina mengeluarkan semacam cairan dan menempelkannya di sarang dengan kaki belakang. Cairan ini berfungsi untuk menempelkan telur disarang. Selanjutnya kodok jantan naik ke atas kodok betina dan menekankan kloakannya agar telur terbuahi.

Setelah semua telur keluar (sekitar 800 butir) dan terbuahi mereka berpisah. Telur sebaian besar menempel di bagian bawah sarang. Ada yang bergerombol, ada pula yang terpisah satu sama lain. Kecebong akan jatuh ke air ketika hujan turun. Selanjutnya, mereka mulai dengan kehidupan normal.

Bisa Dipelihara

Kini kodok terbang dari hutan belantara tropis itu mulai dipelihara orang. Di Amerika para hobiis memasukkan sang kodok ke dalam sebuah terarium besar, lengkap dengan tanaman tropis dan air. Tempatnya terlindung dari sengatan sinar matahari langsung dan sirkulasi udara cukup. Terarium yang dipakai bukan berukuran 80×40 cm. Ukuran ini hanya cocok untuk kodok spesies lain. Kodok terbang membutuhkan terarium dinding berukuran minimal 2 m x 1,2 m. Biasanya dalam satu terarium pemeliharaan kodok terbang dikombinasikan dengan kodok jenis lain yang tidak bisa terbang, asal tidak terlalu padat.

Selama prosses adaptasi diterarium, kodok diberi pakan hidup, seperti cacing, serangga dan larvanya, laba-laba, dan keong. Setelah terbiasa dengan lingkungan terarium, ia bisa diberi pakan lain. Ada kemungkinan kodok terbang kawin di terarium. Kalau hal ini terjadi, kecebongnya harus diberi makan alga dan daun selada yang sudah dilumatkan. Air diganti setiap hari agar kolam tetap bersih. Masa krisis terjadi pada tahap perubahan dari kecebong menjadi percil. Saat itu mereka membutuhkan setumpyk pasir dikolamnya supaya bisa naik setiap saat diinginkan.

Tidak semua Keluarga Rhacophorus

katak terbang wikipedia, katak terbang auto like, agalychnis saltator frog, agalychnis callidryas, agalychnis spurrelli, agalychnis annae

Agalychnis saltator

Kodok yang bisa terbang ternyata tidak hanya monopoli keluarga Rhacophorus. Pada tahun 1920 ditemukan spesies kodok terbang lain yang diberi nama Phrynohyas venulosa. Dibandingkan kodok terbang dari Kalimantan dan India, kemampuan terbang spesies ini luar biasa. Ia bisa meluncur turun dari ketinggian 42 meter. Sejauh 3,6 m pertama, kodok seakan jatuh, kemudian anggota tubuhnya mulai membengkok diiringi terkembangnya jari-jari untuk menahan gravitasi. Dalam waktu 7,5 detik, ia sampai ke tanah.

Kodok yang berasal dari Amerika Selatan itu memiliki dua kantung suara. Kulit tengkuknya beracun dan sangat berbahaya bila terkena mata. Panjang tubuh sekitar 8 cm. Hampir sepanjang hidupnya ia tinggal di pohon, kecuali ketika akan bertelur. Saat itu, kodok betina turun ke sungai atau genangan air.

Di Amerika Tengah pun ditemukan kodok terbang Agalychnis saltator yang mampu meluncur setinggi 5 m. tempat pendaratan yang dituju biasanya daun lebar yang mampu menahan goncangan sewaktu mendarat. Begitu ada monyet dan ular yang mengancamnya, ia akan meloncat ke dalam air. Kodok ini akan melompat lebih sering selama dan sesudah hujan lebat.

2. Ular Terbang. Lanjutkan Ke –> Page / Halaman 2