Lazada Indonesia

Renungan Hidup Seorang Suami

Untuk Kita Renungkan

kata renungan terbaik, kata renungan cinta, kata renungan indah, kata renungan islam, kata renungan pagi, kata renungan kristen, kata renungan sore, kata perenungan master cheng yenSeorang kenalan saya terang-terangan mengaku kecewa pada istrinya. Perempuan itu bukan hanya pemalas (urusan cuci baju, kebersihan rumah, kebutuhan sekolah anak-anak plus sekian banyak tugas domestik ditimpakan kepada sang suami), tapi juga dingin, acuh dan sesekali bertindak kasar pada anak-anak mereka.

Rasa kecewa di hatinya kian menjadi-jadi setiap kali dia mengingat tujuan ‘mulia’ yang mendasari pilihan hatinya pada perempuan itu.

Singkat kata, dia sengaja mencari perempuan yang yatim piatu. Harapan dan asumsinya, perempuan macam itu pasti mendambakan kehangatan, kasih sayang, keharmonisan dan kesetiaan. Harapan yang masuk akal, bukan? Jadi kenapa realitas yang dia hadapi sungguh berlawanan? Oalah…ternyata istrinya dulu dibesarkan di panti asuhan yang sadis. Di tempat itu sejak kecil dia bukan saja kekurangan kasih sayang, tapi juga kerap diperlakukan dengan kasar dan disia-siakan.

Apa yang dia alami dan saksikan itu membekas di dalam jiwa. Perempuan itu tidak mengenal konsep kasih sayang. Saya bahkan agak yakin dia tak pernah mendambakan manisnya kehidupan berumahtangga seperti yang dibayangkan suaminya. Dia jalani hidup asal mengalir saja, dan ketika ada lelaki mendekatinya, dia terima cintanya, hidup berumahtangga…tapi tanpa wawasan dan cita-cita indah sebagaimana lazimnya.

Sungguh keliru dan naif asumsi dan harapan kenalan saya itu! Dia tak paham bahwa lingkungan dan pola pengasuhan sangat dominan membentuk watak, wawasan hidup dan keinginan seseorang. Dia ingin jadi pahlawan, suami dambaan yang mengentaskan istrinya dari keterpurukan, dan bersama membangun biduk rumahtangga yang menentramkan. Di luar nalar dan dugaannya, sang istri malah menerapkan warisan pola asuh yang dingin, kerontang dan berbumbu kekerasan. Saya cuma bisa membatin: kasihan.

The moral lesson of my story: when it comes to important decisions about your life, never assume! *Saya tidak bermaksud mendiskreditkan panti asuhan. Mayoritas panti asuhan memang baik dan dipenuhi malaikat berhati emas. Panti asuhan yang brengsek pun tidak kurang-kurang.

Untuk Kita Renungkan. Oleh. Bpk. Arif Subiyanto