Manusia Sebagai Mahluk Berbudi, Berakal, Berilmu dan Mulia

Posted on

Manusia Sebagai Mahluk Berbudi, Berakal, Berilmu dan Mulia

Tanpa berpikir mendalam kita sering semena-mena menyetarakan kebodohan, kejahatan atau kebejatan orang lain dengan watak perilaku hewan. Ada orang kumpul kebo, incest atau mencuri istri orang kita maki kelakuannya seperti hewan.

Ada orang serakah dan rakus kita bilang juga tabiatnya seperti binatang, misalnya yang mengambil content dari ngasih.com untuk kepentingan dan keuntungannya di yutub atau web lainnya tanpa memberikan kredit ataupun backlink, tanpa memikirkan seberapa lama dan sulit serta berapa harga yang dikeluarkan untuk membuat sebuah artikel. Ada orang tega membantai manusia yang beda suku, ras atau keyakinan juga kita label dia mirip satwa yang tidak kenal perikemanusiaan.

manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral, manusia sebagai makhluk sosial dan individu, manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi ppt, manusia sebagai makhluk sosial yang bermoral
via : bbm debayu

Pokoknya perbuatan yang tak elok atau menjijikkan hampir selalu diasosiasikan dengan para penghuni jagad fauna. Sebenarnya apa salah dan dosa mereka kok sampai namanya kita bawa-bawa untuk menghujat kelakuan yang menyalahi selera moralitas kita?

Ada lelaki suka selingkuh kita maki ‘anjing’ padahal anjing itu mahluk paling loyal dan kesetiaannya tak bersyarat.

Ada orang gemar korupsi lantas dibuatkan karikatur tikus. Padahal tikus bukan mahluk yang korup. Coba dipikir, segoblok-gokloknya hewan, pernahkah mereka menimbulkan kerusakan dunia? Adakah munyuk yang melakukan genosida dan membantai habis orang hutan atau sesama primata? Adakah nyamuk rakus yang kemaruk mengisap darah orang sekampung dalam semalam? Adakah babi yang mencatut nama ayam atau ikan demi mendapat sertifikat halal untuk dagingnya?

Pernahkah Anda dengar ada rekaman suara sapi perah yang minta saham kepada direktur utama pabrik susu? Adakah babi yang gemar berorasi mengatasnamakan sesama babi, teriak-teriak merdeka, tapi aslinya hidup mewah mengelabui sesama babi? Pernahkah ada majelis kehormatan bedhes yang melindungi bedes berwatak begal? Adakah celeng yang suka main paksa? Adakah trenggiling yang mengemis jabatan untuk anak kesayangannya?

Kita menempatkan diri sebagai mahluk berbudi, berakal, berilmu dan mulia. Sungguhkah akal kecerdasan dan kemuliaan itu membawa kesejahteraan dan keselamatan bagi sesama manusia, belum lagi kepada segenap penghuni dunia? Hewan mungkin tolol bebal dungu dan tak bermoral. Tapi mereka tidak menimbulkan kerusakan dunia. Mereka itulah noble savage yang sesungguhnya. Catatan : Bpk. Arif Subiyanto