Lazada Indonesia

Resep Hidup Bahagia Sehat Ceria Pasca Usia 50 Tahun

Tips dan Resep Hidup Bahagia Sehat Ceria Pasca Usia 50 Tahun (Menurut Pengalaman Saya)

  • Saya tidak mau berlama-lama memikirkan kehebatan dan kesuksesan orang lain. Kalau hati mulai resah ketika dipameri prestasi orang, malaikat gokil sahabat saya pasti datang dan berkata: “Andai kamu mau seperti dia, dari dulu pasti juga bisa” – dan saya memang malas menirukan kiat kesuksesan lain orang.
  • Kalau ada kegagalan atau kekalahan dalam hidup, saya akan cepat-cepat memaafkan diri lalu melu Persetan orang mau bilang apa tentang saya, persetan juga mereka seharian mau menggunjing tentang diri saya, pada akhirnya mereka bakal bosan dan kembali merungsingkan kesulitan hidupnya.
  • Begitu pula kalau saya merasa lagi kaya, sukses dan hebat. Saya tidak mau terlalu lama membicarakannya. Jadi bintang panggung cukuplah sehari atau semalam saja. Di atas saya masih banyak jawara lainnya. Kalau masih ada stamina, mungkin saya akan peras keringat mengejar target lainnya. Tapi biasanya saya lebih suka menikmati hidup apa adanya. Pernah jaya, pernah melambung, pernah keseleo, pernah terpuruk juga. Hidup memang begitu. Sungguh edan kalau orang musti jadi bintang seumur hidupnya.
  • Kalau saya marah atau jengkel biasanya akan saya letupkan sampai puas. Setelah hati lega saya kembali tertawa-tawa, tidak peduli orang yang saya omeli masih sakit hatinya.
  • Saya tidak percaya ada manusia yang baik sempurna atau buruk sempurna. Manusia ideal adalah yang lengkap: ada baik dan buruknya, ada hari esok dan punya masa lalu juga. Punya rahasia, punya cita-cita, punya kharisma serta daya pesona, tapi pasti ada boroknya juga. Begitu pula saya.

Separuh abad saya menghirup udara, mengagumi surya, rembulan, kelap-kelip bintang dan bentang cakrawala. Setengah abad saya mencintai derai hujan dan meneguk tirta kehidupan.

Setengah abad pula saya mengejar nafsu keinginan, dikejar dan diombang-ambingkan obsesi, ambisi, syahwat dan keserakahan. Saya ingin kaya, jadi warga terpandang, ingin hidup berkelebihan. Saya suka itu, mengharap ini, ingin begitu, mau begini seolah tanpa henti.

Saat sendiri tafakur merenung mengaca diri, mengenang petualangan hidup di masa lalu, sampailah saya pada kesadaran dan cita-cita baru, yang teramat bersahaja…

Aku ingin jadi suami yang manis dan patuh bagi istriku.
Aku ingin jadi pahlawan buat anak-anakku.
Ingin jadi orang yang baik bagi tetangga di sekitarku.
Ingin jadi mahluk yang tawakkal, berpasrah diri dan disayangi Tuhanku.

Dan saya baru sadari ternyata banyak orang di sekitar yang sudah lama berhasil meraih dan mewujudkan keinginan itu. Mereka hidup tenang damai tanpa beban, bahagia dan selalu diliputi lindungan Tuhan. Tak pernah berlebih tapi selalu dicukupkan. Mereka orang yang lugu, lurus, rendah hati, tidak neko-neko dan benaknya suci dari kerak prasangka, lepas dari himpitan beban jiwa dan sungguh-sungguh merdeka.

Catatan : Bpk. Arif Subiyanto