Pengertian Pencitraan dan Contohnya

Posted on

Di jaman keterbukaan informasi seperti hari ini dengan mudah orang menulis atau mangap di media untuk menohok individu yang tidak memuaskan selera politiknya. Apa pun yang diperbuat tokoh-tokoh itu pasti dilabel sebagai pencitraan. Orang jujur dibilang pencitraan. Orang tegas tanpa kompromi dituding pencitraan. Orang polos bersahaja pun distempel pencitraan:

Jokowi cuma pencitraan!!!

Ahok cuma pencitraan!!!

Si Anu dan menteri Anu pencitraan !!!

pencitraan adalah wikipedia, pengertian pencitraan, pencitraan puisi adalah, pengertian pencitraan dalam puisi, arti pencitraan diri, pengertian pencitraan dan contohnya, contoh pencitraan, kata kata pencitraan

Orang yang suka teriak ‘pencitraan’ itu lupa, pura-pura lupa, atau memang sudah payah nalarnya, bahwa kecenderungan melakukan profiling atau pencitraan adalah watak dasar manusia. Bahwa saya dan kalian semua selalu ingin tampil lebih baik dan mengesankan dari yang sebenarnya. Motif ini wajar dan menunjukkan iktikad baik dari pelakunya: mereka tak mau bikin orang jijik melihat keasliannya yang compang-camping ala kadarnya. Perempuan lelaki sama saja: cara bersolek, gaya bicara, cara berjalan, pilihan busana, gaya tulisannya, semua itu secara sadar mereka pilih untuk menampilkan kesan, image, atau citra. Jadi apa salahnya tokoh publik tampil heroik bersemangat, bicara penuh retorika demi menyulut optimisme rakyat, atau bicara galak memarahi saraf yang koplo demi meneguhkan kepercayaan rakyat yang memilihnya?

Pencitraan itu mutlak perlu, bahkan ada anggaran besar untuk hajat itu. Contoh : Politisi berkantong tebal suka menyewa biro survey untuk mengukur elektabilitas mereka. Orang-orang itu menyewa mahal konsultan politik, pelatih fitness, tukang rias, biro iklan, menggandeng kru televisi dan wartawan, bahkan tak jarang dukun pun dikerahkan. Untuk apa lagi kalau bukan untuk tebar pesona alias pencitraan? Ada tokoh bunglon yang biasanya pakai jas perlente naik mobil mewah, mendadak dia numpang kereta berbaur dengan masyarakat tingkat bawah, blusukan ke pasar beli jengkol, atau mendadak rajin beribadah. Buat apa? Tentu saja demi pencitraan, mbah! Burukkah itu? Tidak, selama citra yang dia coba pancarkan itu konsisten, authentic, kongruen, cocok luar dalam alias bukan bohong-bohongan.

Yang buruk adalah orang yang bergaya santun, rendah hati, tapi korupsinya sak hohah…

Jangankan manusia. Hewan dan unggas saja rajin melakukan pencitraan. Lihat saja tingkahnya ayam jago atau merak jantan yang lagi berahi. Dia bersolek, bergaya di depan betinanya. Kucing jantan pasti bersolek sebelum bergumul riuh dengan betinanya. Munyuk, lutung, orangutan dan segala jenis primata adalah maniak pesolek yang sangat peduli citra dirinya di kerajaan fauna. Monyet betina mana sudi dikawini pejantan kurus kerempeng kurang gizi. Dia pasti memilih bedhes macho yang gagah posturnya. Kalau hewan saja sibuk dengan pencitraan, kenapa manusia tidak? Saya rasa hanya kaum imbesil dan idiotic saja yang tidak hirau akan pentingnya self-image.

Hati-Hati Berbicara PencitraanArif Subiyanto