Lazada Indonesia

20 Tips Terbaik untuk Mengatasi Hasrat Belanja atau Menjadi Shopaholic

20 Tips Terbaik untuk Mengatasi Hasrat Belanja atau Menjadi Shopaholic

Kenapa seseorang bisa menjadi shopaholic? Tak pandang pria atau wanita, kemungkinan untuk memiliki hobi belanja selalu ada. Apalagi kalau kita memiliki uang, dan kebetulan gemar mengunjungi pusat perbelanjaan. Tentu kegemaran tersebut akan semakin didukung keadaan.

Selain untuk memenuhi kebutuhan, belanja bagi shopaholic, menjadi sumber kesenangan. Ada kepuasan tersendiri ketika kita mampu menghabiskan uang, dan kemudian mendapatkan apa yang diinginkan. Mulanya mungkin sedikit teratur, namun lama-lama hobi ini bisa adiktif dan mengusik. Sampai-sampai ada yang belanja bukan hanya untuk kebutuhan belaka. Belanja jadi “obat” ketika merasa stress/ depresi, marah, cemas, dan kesepian.

Sekilas memang terkesan simpel, namun dampaknya tentu cukup buruk. Lebih lagi kita akan cukup kesulitan untuk mengurangi atau menghentikan sesuatu yang sudah bikin ketagihan. Namun berikut ini tips agar hasrat belanja para shopaholic bisa dikurangi. Jom!

belanja wanita, belanja boros, cerita belanja, tips belanja hemat ibu rumah tangga, tips belanja hemat di supermarket, tips belanja hemat untuk anak kost, tips belanja hemat bulanan, tips belanja hemat di singapura

Jaga Jarak dengan Sesama Shopaholic

Shopaholic bisa menjelma pada diri sahabat atau keluarga kita sendiri. Tiap kali berkumpul dan berbelanja, pengaruh mereka akan begitu kuat. Rasanya sulit bagi kita untuk menghilangkan hasrat belanja kalau terus-terusan berada di lingkaran mereka. Karena itu, kita bisa menghindar dulu kalau mereka menyusun rencana untuk hunting barang-barang kesukaan.

Jauhi Kartu Kredit atau Utang, Dekati Uang Tunai

Pemanfaatan kartu kredit membuat kita keenakan di awal, namun kemudian bikin stress karena angka tagihannya. Ketika memakainya, kita memang tak tahu berapa nominal uang yang sudah dihabiskan. Berbeda dengan uang cash. Kita tahu betul berapa banyak yang ada di genggaman, sehingga akan ada rasa hitung-hitungan tersendiri ketika hendak membelanjakannya.

Mulai Membuat Rencana Keuangan

Jika sekarang kita memiliki banyak uang, bukan berarti tak ada keharusan untuk mengatur pengeluaran dan pendapatan. Ada baiknya untuk melakukan manajemen. Selain untuk kebutuhan sehari-hari dan menyicil utang/ tagihan, pastikan kita alokasikan juga untuk menabung sebagai bekal hari depan. Kita juga tak tahu kapan ada kebutuhan mendesak.

Menggali “Penyakit Emosi” Sendiri

Sudah disinggung di awal, ada yang belanja lantaran memiliki masalah emosi yang tidak terpenuhi atau terluapkan. Apakah kita belanja karena pengin mencari sumber kepuasan? Karena kesepian? Karena pengin diperhatikan? Karena pengin pengakuan? Jika sudah tahu penyebabnya, kita akan lebih mudah untuk mencari solusinya. Umpamanya jika berbelanja karena merasa kesepian, kita bisa mengintrospeksi dan memperbaiki hubungan dengan orang-orang sekitar. Baik itu pasangan, keluarga, sahabat, tetangga, dsb.

Mengubah Mindset

Ketika kartu kredit di tangan, pikiran kita cenderung percaya diri, bahwa kita memiliki uang yang masih banyak dan cukup untuk shopping. Kontras jika kita taat pada penggunaan uang cash dan menyusun rencana keuangan. Hal ini akan menciptakan kesan kalau dana kita sebenarnya terbatas, sebab budget-nya sudah memiliki alokasi khusus. Karena itu, otomatis kita akan mengendalikan hasrat untuk menghambur-hamburkan uang.

Sisihkan Uang untuk Tabungan (Dulu)

Kalau sudah menginginkan sesuatu, seorang shopaholic akan berjuang habis-habisan untuk mendapatkannya. Namun tentu bukan keputusan bijak jika kita mengeluarkan dana besar untuk membeli mobil impian, sampai mengorbankan bayaran sekolah anak. Solusi alternatifnya, kita bisa mendidik diri sendiri untuk menabung, baru kemudian membelanjakannya pada sesuatu yang sudah ditargetkan.

Mengalihkan Pikiran atau Simpan di Wishlist

Shopaholic bisa terganggu tidurnya hanya karena tidak kesampaian membeli sepatu mahal yang didambakan. Dia ingat terus, dan mencari cara agar bisa kembali ke tempat belanja, serta memboyong item incaran tersebut. Situasi ini tentu bikin kita tak nyaman. Harus ada upaya tersendiri untuk mengalihkannya. Kalau tidak, kita bisa memasukkannya pada daftar barang yang diinginkan. Namun untuk mendapatkannya, kita musti menabung dulu, bukan menghabiskan uang sekaligus.

Terus Ingat-ingat Sisi Negatifnya

Sekaya apapun seorang shopaholic, jauh di lubuk hatinya ia tetap merasa tidak nyaman. Ada perasaan bersalah tersendiri karena ia terlalu tergila-gila pada belanja, khususnya kalau acara shopping itu sudah selesai. Ketika memilah-milah barang sih memang menyenangkan, namun begitu pulang, tak jarang yang menyesal dan depresi. Jadi meski sedikit memusingkan, kita harus terus mengingatkan diri sendiri akan seabreg efek buruk dari kegilaan pada belanja.

Stabilkan Emosi dan Stop Alkohol

Hati dan pikiran ketika belanja secara langsung atau via online shop sama-sama musti dalam keadaan jernih. Jangan sampai kita tengah ada dalam kendali emosi dan alkohol. Hal tersebut membuat pikiran kita keruh dan asal comot belanjaan saja.

Ajukan Pertanyaan-pertanyaan Pada Diri Sendiri

Pecandu shopping biasanya langsung membeli tanpa ada waktu untuk mempertimbangkan atau bertanya pada diri sendiri. Kebiasaan itu tentu memperparah ketergantungan kita pada shopping. Kita pun musti membiasakan diri dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Cukup enggak uangnya?”, “Ada kebutuhan lain yang lebih prioritas enggak ketimbang yang satu ini?”, “Apa benar-benar perlu? Di rumah sudah punya, enggak?”, dsb.

Jaga Pandangan, Jaga Pikiran

Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa memberi dampak cukup besar. Misalnya dengan mampir sarapan, makan siang, atau makan malam di tempat makan yang ada di pusat perbelanjaan. Kalau sudah terbentuk, biasanya kita akan mengandalkan kebiasaan tersebut. Jika sudah ada di sana, dorongan untuk window shopping pun semakin besar. Jika tak kuat menahan pikiran, kita bisa terus menguras uang.

Berhenti Berlangganan

Jika serius ingin mengurangi nafsu belanja, kita bisa memotong segala koneksi terkait shopping. Silakan unsubscribe dari newsletter blog yang terkait shopping. Kita juga bisa berhenti menjadi member, folower, atau pelanggan perusahaan tertentu. Paling tidak, semakin sedikit hal yang kita tahu, semakin tipis juga gairah belanjanya.

Mencari Hobi atau Aktivitas Asyik Lain

Shopping menjadi salah-satu hobi mahal, yang tak jarang bisa berefek merugikan. Meski awalnya asyik, namun bisa adiktif dan berubah jadi petaka. Untuk itu, kita musti banting stir pada aktivitas lain yang lebih mengundang manfaat. Masih ada kegiatan lain seperti budidaya tanaman, senam rutin, menjadi donatur sebuah panti, bermusik, menulis, dsb.

Belajar Hemat

Sikap hemat menjadi salah-satu upaya lain untuk menabung. Namun hemat bukan berarti pelit. Kita bisa tetap belanja, asal memprioritaskan kebutuhan. Alangkah lebih baiknya untuk mengurangi jajan atau melakukan pemborosan.

Setia Pada List Belanja

Begitu memeroleh uang, kita harus menggunakannya sebijak mungkin. Setia saja pada list atau daftar belanja, sebab semua dananya sudah dialokasikan secara teratur. Kalau pun di tengah jalan ada sesuatu yang pengin dibeli, kita bisa menulisnya di wishlist untuk dibeli di kemudian hari.

Terapkan “Pajak/ Upeti” untuk Diri Sendiri

Kita memang manusia biasa. Seketat apapun aturan, ada kalanya kita sendiri yang melanggar. Jika memang kita terperangkap untuk belanja barang yang masuk kategori “keinginan”, bukan “kebutuhan”, maka kita bisa terapkan sanksi berupa pembayaran pajak untuk diri sendiri. Jadikan biaya ekstra itu sebagai tabungan. Penerapan ini akan memotivasi kita untuk lebih bisa mengendalikan nafsu belanja.

Makan Dulu Sebelum Belanja

Belanja di saat perut lapar merupakan salah-satu kesalahan yang sering kita lakukan. Pihak supermarket menjadikan kondisi ini untuk menerapkan taktik agar pembeli merogoh kocek lebih dalam. Mereka akan mempertontokan aneka makanan yang menggiurkan. Belum lagi dengan semriwing aroma lezat seperti roti atau kue bolu. Keadaan lapar seringkali membuat kita anggaran belanja kita terkuras lebih banyak.

Tegas Membedakan “Keinginan” dan “Kebutuhan”

Perkara ini sebenarnya sederhana. Kebutuhan itu jadi sesuatu yang direkomendasikan untuk terwujud. Malah, kita musti memenuhinya. Namun keinginan jadi sesuatu yang bersifat sunah, dimiliki atau tidak, tidak memiliki efek yang signfikan.

Tantang Diri Dengan “Satu Hari Tanpa Belanja”

Berani? Kita sudah lama mengandalkan uang untuk mengatasi berbagai masalah, tak ada salahnya untuk menantang diri dari ketergantungan tersebut. Kita bisa tantang diri sendiri untuk tidak mengeluarkan uang sepeser pun, minimal selama satu hari. Adapun untuk makan siang di tempat kerja, kita bisa mensiasatinya dengan membawa bekal dari rumah.

Berkonsultasi Pada Psikolog

Langkah ini menjadi pilihan ujung apabila segala usaha sudah dikerahkan, namun hasilnya terasa nihil. Bagaimanapun, psikolog merupakan sosok yang lebih berilmu dan paham kondisi lain dari seseorang. Kita bisa percayakan pada mereka.

Sesuatu yang sudah jadi kebiasaan tentu akan sulit dihilangkan. Butuh proses, kesabaran, dukungan dari dalam dan luar, serta tentu konsistensi. Tak perlu berubah secara drastis, yang biasanya bersifat instan. Kita bisa menerapkan tips ini pelan-pelan.

Siapa tahu yang biasanya belanja sehari 3 kali, jadi tiga hari sekali. Siapa tahu juga, budget shopping biasanya 1 juta jadi bisa ditekan sampai 300 ribu saja. Intinya, kita pasti akan mendapat keuntungan tersendiri kalau sampai lepas dari kegilaan belanja ini. 20 Tips Terbaik untuk Mengatasi Hasrat Belanja atau Menjadi Shopaholic #RD