Bahasa Inggrisnya Durhaka Kepada Orang Tua itu Apa?

Posted on

Itu pertanyaan sobat saya pada suatu malam waktu saya sedang wisata ke Seoul. Kalau tak salah tanggal 21 Mei. Saya yang saat itu cuma bawa smartphone jelas kerepotan menjawab soal yang dia sodorkan.

Bahkan memikirkan konsep durhaka dalam bahasa simbok kita sendiri saja sudah demikian ribetnya. Durhaka itu bukan konsep monolitik. Dia adalah sesuatu yang multi-dimensional. Seorang cicit Adam bisa dilabel durhaka hanya karena satu sebab saja. Dengan mudah kita mendapat gelar ‘anak durhaka’ dan anda tinggal memilih satu pasal saja untuk itu:

  • Anak yang abai pada orang tua yang sudah uzur.
  • Lelaki yang meski rajin beribadah, ternyata lebih tunduk kepada bini ketimbang ibunya.
  • Bekerja keras mengejar cita-cita agar jadi kebanggaan keluarga, tapi setelah jadi orang besar maling duit negara,
  • Patuh sama ibunda, tapi nyumbang kegiatan keagamaan ratusan juta dengan duit garongan.

Dan masih banyak lagi, belum termasuk contoh-contoh durhaka klasik yang acap kita dengar dari guru agama dahulu: membantah perintah orang tua, kasar kepada orang tua, tidak membalas budi jasa orang tua, dan sebagainya.

Jadi apa kata yang tepat untuk mewakili seluruh dosa durhaka itu dalam bahasa Inggris? In my very humble opinion: nggak ada.

  • Tidak tau berterimakasih kepada orang tua = ungrateful.
  • Tidak patuh kepada orang tua = disobedient / disobeying.
  • Jahat kepada orang tua = unkind / harsh.
  • Tidak berbakti kepada orang tua = undevoted.
  • Berkhianat dan mencederai kepercayaan orang tua = perfidious…

Dengan mudah saya bisa mencarikan padanan untuk berbagai kata sifat busuk dari seorang anak yang berwatak najis. Tapi mencari satu adjectiva atau nomina yang bisa mewakili semua itu sungguh tak bisa. Dalam kitab Injil ada dikisahkan tentang seorang anak yang hilang, yang minggat meninggalkan rumah orangtuanya, dan akhirnya kembali dengan membawa sesalan. Di Alkitab dia disebut ‘anak yang hilang’ (bukan anak durhaka). Dalam bahasa Inggris dia disebut ‘the Prodigal Son’. Minggat meninggalkan orang tua cuma satu kepingan dari mosaik dosa durhaka.

Waktu masih remaja dulu saya pernah membaca habis buku terjemahan Kitab Bakti “Hau King” yang saya dapatkan cuma-cuma dari Rumah Pembakaran Mayat (Krematorium) di kampung saya. Isinya adalah rangkuman ajaran Confucianisme tentang bakti kepada orang tua. Setelah saya kenal Google, saya browsing mencari versi bahasa Inggrisnya. Tetap saja tidak saya temukan kata atau frasa yang secara komprehensif bisa mewakili konsep ‘durhaka.’

Kesimpulannya: semakin kita merasa menguasai bahasa asing atau bahasa kedua, semakin takut kita untuk asal nulis atau bicara. – “Arif Subiyanto