Indonesia Impor Garam Sejak Jaman Hindia Belanda

Posted on

Jokowi impor garam? Ya!
SBY impor garam? Ya!
Soeharto impor garam? Ya!

Berikut ulasan bagus tentang Garam dari status Ditya Danes yang cukup bagus untuk menambah wawasan kita.

GARAM (1). Kalau kita menyebut garam, haruslah merujuk pada 2 kata : Garam konsumsi atau garam Industri. Mengapa kita selama ini import garam, padahal mempunyai pantai terpanjang di dunia? Karena kualitas garam produksi petani garam kita sejauh ini baru memenuhi kualitas garam konsumsi, belum memenuhi kualitas garam industri. Jadi garam yg diimport oleh pemerintah Indonesia sejak jaman Belanda adalah garam industri bukan garam konsumsi.

Garam industri adalah garam yang diperlukan untuk industri kimia (industri obat, pangan, kosmetik, dll) yang mana mensyaratkan garam yang bagus dan sangat bersih, dengan NaCl di atas 97 dan magnesium yang lebih rendah. Dan sayangnya air laut dan petani garam kita belum bisa memenuhi standart garam kualitas industri tersebut. Hanya daerah pantai tertentu saja yang punya potensi mampu menghasilkan garam dengan NaCL di atas 97 persen dan ini murni faktor alam. Demi keamanan produk pangan, industri juga mensyaratkan garam industri memiliki batas maksimal kandungan logam berat seperti kalsium dan magnesium yang tidak boleh melebihi 400 ppm untuk industri aneka pangan.

kenapa garam langka, kenapa garam mahal, mahalnya harga garam, masalah harga garam mahal, garam paling mahal di dunia

Jadi sekalipun garis pantai kita terpanjang di dunia tidak serta merta mampu menghasilkan garam yg di butuhkan oleh industri baik secara kualitas maupun kuantitas. Supaya industri dalam negeri bisa terus berjalan maka mau tidak mau pemerintah harus selalu mengimport garam industri ini. Seiring peningkatan produksi industri dalam negeri maka otomatis import garam industri akan meningkat.

Selama ini, 80% produksi garam konsumsi yang dihasilkan di dalam negeri berasal dari petani garam. Kualitas produk yang dihasilkan masih belum maksimal karena tingkat kekotorannya masih tinggi. Bila diproses lagi, akan terjadi penyusutan hingga 30%. Belum lagi kegagalan petani garam karena faktor cuaca. Maka dlm kondisi tertentu pemerintah mau tidak mau harus mengimport garam konsumsi juga.

Nah yang menjadi masalah adalah, ketika import garam industri tapi peruntukannya di gunakan untuk garam konsumsi maka otomatis akan mematikan petani garam. Inilah yg terjadi ketika dirut PT Garam di tangkap polisi karena menyalahgunakan peruntukan garam industri untuk garam konsumsi.

GARAM (2). Bukan hanya rakyat yang bertanya-tanya kaitan antara panjang pantai Indonesia dengan produksi garam. Bahkan mantann menteri sekelas Prof Emil Salim dan politikus senior yang HNW pun mempertanyakannya (Aneh saja rasanya kalau mereka baru menanyakan saat ini tp tidak apa-apa).

Jika kita hanya berpedoman pada panjang garis pantai, bagaimana dengan negara Austria dan Belarus yang masuk 20 besar pengekspor garam tapi tidak memiliki garis pantai sama sekali (0km)? Bagaimana dengan Belanda yang cuma punya panjang pantai 1/45 dari panjang pantai Indonesia tapi menjadi pengekspor garam utama dan terbesar dunia?. Kenapa tidak Canada yang cukup mempunyai panjang pantai paling panjang yang menjadi eksporter utama garam dunia?. Sama seperti Indonesia, Canada juga paham bahwa tidak semua pantainya bisa dibuat ladang garam.

Negara-negara pengekspor garam rata-rata mempunyai tambang garam yang pastinya habis dalam ratusan tahun kedepan, biaya yang mereka keluarkan untuk menambang jauh lebih ringan dan murah serta ditambah kualitas garamnya yang lebih bagus. Sedangkan teknik penguapan air laut seperti yang ada di Indonesia yang sangat tergantung pada cuaca, menghasilkan garam yang kurang bagus. kalaupun Indonesia memaksakan kehendak untuk memakai rekayasa teknologi untuk penguapan garam tentunya akan menelan biaya sangat besar. Garam dari tambang sudah lama bahkan jutaan tahun dikeringkan alam, sementara garam dari hasil penguapan baru dikeringkan selama kurun waktu 1 bulan saja, itupun jika cuaca baik, maka hasilnya akan beda jauh.

Selama bertahun tahun, mengapa produksi garam di Indonesia tidak juga bertumbuh? Jadi apa yang salah? yang salah adalah kita berusaha melawan hukum Demand Suply dan Harga. Harga garam import Rp 500/kg sdh sampai Indonesia, harga garam lokal Rp 750-1200/kg. NTT adalah penghasil garam terbesar di Indonesia, tapi dengan harga Rp 750 – 1200/kg, maka berapa ongkir yg ditanggung jika harus dikirim keluar NTT? Ongkos logistiknya terlalu besar. Usaha yang sia-sia dan akan selalu menjadi dilema.

In my opinion, lebih baik maritim Indonesia di fokuskan ke perikanan, pariwisata, rumput laut dll dan tidak terlalu memaksakan untuk swasembada garam. Kalau bisa ya syukur kalau tidak ya import. Import tidak selalu jelek asal memang menjadi kebutuhan dan tidak diselewengkan. Kita harus menyadari bahwa kita bukanlah negara terlalu sempurna seperti lagu “tongkat kayu jadi tanaman, kolam susu..” sama seperti manusia, negara juga butuh negara lain. “Nasionalis juga harus realistis.” 

Credit : Arif Subiyanto – Ditya Danes