10 Tips Ketika Membuka Atau Menjalani Usaha Bisnis Fotografi Acara Pernikahan

Ada bulan-bulan tertentu yang sering dijuluki sebagai “musim nikah”. Di saat seperti itu,  orang-orang yang sudah merencanakan hajatan besar dalam hidupnya tentu menginginkan hal terbaik. Salah-satunya terkait dokumentasi, demi menyimpan memori yang dikenang di kemudian hari.

Memang, kita sudah difasilitasi peralatan canggih. Kamera berkualitas bagus dengan paket yang praktis pun sudah bisa diboyong dengan harga terjangkau. Demikian juga dengan fitur kamera yang terdapat pada smartphone, semakin hari semakin bagus saja. Semua orang pun berpeluang untuk memilikinya.

Namun soal skill Fotografi, kita tak bisa menampik kalau tak semua orang menguasainya. Karena itu, para calon suami-isteri tetap mengandalkan jasa fotografer di acara pernikahan mereka. Pebisnis di bidang ini pun kadang kebanjiran job, sampai musti “melempar” ke rekan-rekan fotografer lain.

Untuk income-nya sendiri tentu terbilang menggiurkan. Apalagi kalau kita sudah punya relasi atau pelanggan tetap. Proyek dan tentu laba yang datang akan berjalan stabil. Nah, bagaimana tips atau trik ketika mulai menjalaninya? Jom!

fotografer nikahan, fotografi nikah, fotografer akad nikah, harga fotografer nikah, fotografer akad nikah jakarta

Credit : ZepAquarel Prewedding Asep & Winda

1. Lakukan Studi Kelayakan

Ketika memutuskan berkarier sebagai fotografer, kita memiliki aneka opsi. Entah fotografer fashion, makanan, hewan, periklanan, jurnalis, dsb, termasuk juga pernikahan. Jika kita memang sudah memutuskan di satu bidang, alangkah baiknya untuk mempertebal kemampuan dan konsentrasi di ranah tersebut. Termasuk juga meningkatkan pengetahuan terkait kamera, alat bantu Fotografi, klien, pose, dsb.

2. Sekolah atau Kursus Fotografi

Menguasai suatu skill secara otodidak memang keren. Namun akan makin keren lagi jika kita mendukungnya dengan pengetahuan atau jalan yang lebih profesional. Kita bisa mendaftar di sekolah atau tempat khusus Fotografi. Harganya mungkin akan lebih istimewa, tetapi dampaknya juga sangat besar. Kita mendapat ilmu Fotografi, dicap sebagai fotografer profesional, mendapat sertifikat, dan memiliki nial jual lebih di mata klien nantinya.

3. Melakukan Perencanaan Bisnis

Jika seorang guru memiliki RPP, maka pebisnis pun bisa membuat perencanaan. Tahap ini cukup vital jika kita tak mau asal bergerak dan beroperasi tanpa arahan sama-sekali. Setelah mengurangi bahkan menghilangkan keraguan untuk terjun berbisnis, kita bisa menyusun skemanya sendiri ataupun menggunakan bantuan orang lain. Secara garis besar, perencanaan bisnis itu mencakup berbagai hal. Antara lain deskripsi bisnisnya, strategi pemasarannya, analisa kompetisi di bidang tersebut, budget untuk modal, koneksi, dsb.

4. Mendaftarkan Bisnis yang Hendak Dibangun

Tanpa surat apapun atau dari manapun, orang tetap bisa menjalani usaha ini. Hanya saja, kemungkinan kita akan stuck di tempat. Tak ada upaya lebih untuk menebarkan sayap. Untuk itu, jika berminat melakukan ekspansi usaha, kita bisa menjadikan bisnis yang sedang dijalani sebagai sesuatu yang “legal” atau berkekuatan hukum. Pergerakan tersebut tentu menjadi poin tersendiri.

5. Menyediakan Peralatan Fotografi yang Bagus

Di masa-masa belajar, kita bisa sekalian mencari tahu mana kamera yang terbaik. Tak hanya itu, kita juga musti menggali informasi seputar peralatan atau alat bantu Fotografi yang diperlukan. Sebut saja lensa, flash eksternal, lampu studio, payung reflektor, softbox, dsb. Jika ada dana yang cukup, sebaiknya membeli yang terbaik dan paling berkualitas. Bagaimanapun, semua itu akan jadi aset penting yang mendukung kinerja serta karier Fotografi kita. Tak lupa, kita pun musti melakukan perawatan ekstra. Jika suatu saat pengin upgrade peralatan, kita bisa menjual yang lama dan membeli yang lebih canggih lagi.

6. Menentukan Studio atau Kantor Pusat

Fotografer pernikahan lebih banyak jalan-jalan. Entah itu ke rumah orang yang hajatan atau gedung-gedung resepsi. Namun kebutuhan akan studio, atau minimal tempat yang menjadi kantor pusat, tetaplah diperlukan. Pelanggan jadi tahu ke mana mereka datang jika suatu saat membutuhkan. Syukur-syukur kalau sudah memiliki brand dan atau papan nama tersendiri. Kita juga bisa membuat studio poto, sebab barangkali calon pasangan memerlukan poto pre-wedding indoor. Selain itu, kita juga bisa menjadikan tempat tersebut sebagai pusat meeting untuk mendiskusikan proyek yang sedang dihadapi.

7. Membangun Jaringan

Ada kemungkinan jika fotografer ingin bekerja sendirian. Dia tinggal menunggu orang-orang yang berminat menggunakan jasanya. Namun tak bisa dipungkiri kalau kemungkinan tersebut terbilang kecil. Banyak pasangan yang cenderung mengandalkan jasa wedding planner atau perencana pernikahan. Banyak juga yang memilih menyerahkan segala sesuatunya pada jasa rias. Karenanya, sebisa mungkin kita membangun jaringan dengan mereka. Sehingga para klien yang datang akan dilimpahkan pada kita. Dengan demikian, proyek yang datang akan terbilang kontinyu alias terus-menerus.

8. Memasarkan Bisnis

Di era media sosial seperti sekarang, orang-orang jadi lebih mudah untuk memasarkan variasi bisnisnya. Memang, hasil kerja kita yang bagus akan otomatis menjadi berita dari mulut ke mulut. Namun promosi seperti itu saja belum cukup. Kita harus menggaet perhatian orang yang lebih luas lagi. Untuk hal ini, kita bisa memasrahkan pemasaran pada blog, twitter, facebook, Instagram, dsb.

fotografer prewedding kuningan jawa barat, fotografer prewed, fotografer prewedding murah, fotografer prewedding kuningan jawa barat, fotografer prewed, fotografer prewedding murah, bisnis fotografi pemula, bisnis fotografi online

Credit : ZepAquarel Prewedding Asep & Winda

 9. Menjaga Kepercayaan

Kepercayaan menjadi salah-satu elemen penting dalam bisnis. Ketika kita menciderainya, kolega bisnis atau pelanggan setia tak akan memandang dengan pandangan yang sama. Yang tadinya yakin akan mulai ragu, bahkan tak menaruh kepercayaan lagi. Oleh karena itu, bukan sesuatu yang bijak kita kita menjanjikan pengiriman poto hari anu, namun nyatanya baru sampai di hari yang lain.

 10. Meningkatkan Inovasi dan Kreativitas

Bisnis yang digarap ini tak jauh dari sentuhan teknologi. Dan karena teknologi itu dinamis, kita pun mau tak mau musti mengikuti iramanya. Kita tak bisa mempertahankan kamera yang sudah usang, sementara orang lain sudah beralih pada pembidik yang lebih mumpuni. Kita juga musti terus melakukan update akan Fotografi. Misalnya tentang trend poto pernikahan yang kekinian, tema pre-wedding yang booming, editing poto yang lebih smooth, dsb.

Semakin dijabarkan, rasanya masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam bisnis ini. Namun jika langkah-langkah di atas bisa dijalani dengan baik, operasi usaha kita kemungkinan besar akan berjalan lancar. Apalagi kalau kita tipikal yang tangguh dan tetap berjuang ketika menghadapi rintangan. Semangat berbisnis! 10 Tips Ketika Membuka Atau Menjalani Usaha Bisnis Fotografi #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *