Membuat Tanaman Cepat Berbuah

Membuat Tanaman Cepat Berbuah

agar tanaman cepat berbuah, tanaman yang cepat berbuah, tanaman cepat berbuah, pohon buah yang cepat berbuah, daftar pohon cepat berbuah

Agar tanaman cepat berbuah

Tanaman yang sudah tumbuh besar, dan sudah saatnya berbuah, tapi belum juga mau berbuah, memang mengesalkan. Kenapa sampai ia bisa ngambek begitu? Berikut ini faktor-faktor penyebab dan jalan keluarnya.

Tak jarang pemilik tanaman buah merasa kesal, karena pohonnya ternyata tak juga mau berbuah. Padahal, menurut umurnya, tanaman itu seharusnya sudah mulai berbuah.

Mengapa tanaman tidak mau segera berbuah?

1.  Pohon berumah dua

Tanaman yang tak mau segera berbuah, mungkin tergolong tanaman berumah dua. Maksudnya, dalam satu pohon itu hanya ada bunga jantan atau bunga betina saja. Jika tanaman Anda termasuk yang berbunga jantan saja, sampai kapan pun tanaman itu tidak akan mau berbuah. Sebaliknya, kalau yang Anda miliki tanaman yang berbunga betina saja, masih mungkin berbuah, asal di dekatnya ada pohon berbunga jantan, yang sama-sama sedang berbunga.

2.  Perlu penyerbukan silang

Ada tanaman tertentu-seperti durian dan alpukat-yang bunganya baru bisa menjadi buah kalau diserbuki oleh pohon lain yang sejenis. Penyerbukan silang ini perlu dilakukan mengingat kemasakan bunga jantan dan bunga betina dalam satu pohon tidak bersamaan.

3.  Belum masanya berbuah

Mungkin sekali tanaman Anda yang tidak mau berbuah itu karena umurnya memang belum mencapai batas umur untuk berbuah. Batas umur mulai berbuah ini bergantung pada jenis tanaman dan jenis bibitnya. Apakah dari biji, setek, cangkok, atau okulasi.

4.  Bunganya mandul

Tanaman yang tidak mau berbuah bisa juga karena bunganya mandul. Perubahan ini biasanya terjadi karena adanya mutasi gen. Sifat tanaman yang semula bunga-bunganya seharusnya bisa menjadi buah, berubah dari sifat aslinya, karena pengaruh lingkungan.

5.  Iklim dan lingkungan tidak mendukung

Semua jenis tanaman buah akan hidup dan berbuah dengan baik kalau syarat hidupnya seperti iklim (curah hujan, angin, suhu, kelembapan udara, sinar matahari), keadaan tanahnya, dan lingkungan terpenuhi. Kalau tidak, tanaman akan terhambat pertumbuhan dan produktivitasnya.

6.  Perawatan dan perhatiannya kurang baik

Ada kemungkinan tanaman Anda itu enggan berbuah karena kebutuhannya akan cahaya (untuk fotosintesis), suhu dan kelembapan udara, pengairan, sirkulasi udara, dan zat hara kurang tercukupi.

Tanaman akan berbunga dan berbuah tepat pada saatnya dengan produktivitas tinggi kalau pemilihan bibit, keadaan lingkungan, dan cara perawatannya diperhatikan dengan baik.

Pemilihan bibit yang tepat

Pertumbuhan pohon akan bagus kalau bibit yang dipakai betul-betul bibit pilihan.

Bibit bisa berasal dari tanaman milik sendiri, pemberian teman, atau dari penangkar. Kalau bibit itu berasal dari tanaman sendiri, tentu bisa diseleksi. Bibit pemberian tenam mungkin kurang baik mutunya. Kita tidak tahu persis bagaimana sifat-sifat pohon induknya. Kalau Anda ingin membeli bibit pada penangkar, harus pilih penangkar yang terpercaya, yang mutu bibitnya terjamin.

Di kalangan hobiis, pohon buah-buahan yang dianggap unggul adalah yang genjah. Artinya, tanaman itu lebih cepat masa awal berbuahnya. Sifat unggul yang lain adalah mudah pemeliharaannya, daging buahnya tebal dan manis, tekstur dagingnya halus tak berserat, kulitnya tipis, ukuran buahnya besar, bijinya kecil, produktivitasnya per pohon tinggi, warna buahnya menarik, buah sepanjang musim, bentuk pohonnya bagus dan tidak terlalu besar. Sifat unggul semacam itu sulit didapat pada tiap jenis tanaman.

Ada pohon buah-buahan yang berbuah sepanjang tahun, ada yang hampir sepanjang tahun, dan ada pula yang berbuahnya hanya sekali dalam setahun. Tanaman yang mampu berbuah sepanjang tahun di antaranya salak, semangka, pepaya, pisang, dan nanas, sedangkan yang berbuahnya hampir sepanjang tahun anggur, apel, belimbing, jambu biji, kedondong, sirsak. Tanaman yang berbuahnya sekali setahun antara lain duku, rambutan, jambu air, lengkeng, mangga, dan durian.

Jenis bibit dan varietas juga sangat menentukan cepat lambatnya tanaman mulai berbuah

Jenis bibit dan varietas juga sangat menentukan cepat lambatnya tanaman mulai berbuah. Pohon yang bibitnya berasal dari biji, saat awal berbuahnya lebih lama (belimbing 5-5 tahun, durian 8-10 tahun, jambu air 4-5 tahun, jambu biji 3-4 tahun, jeruk siem 3-4 tahun, mangga 5-6 tahun, manggis 12-15 tahun, rambutan 5-6 tahun), tetapi kalau bibitnya berasal dari perbanyakan vegetatif seperti okulasi, saat awal berbuahnya bisa lebih cepat. Belimbing okulasi umur 3 bulan sudah belajar berbunga dan mulai produktif berbuah pada umur 8-12 bulan. Durian, pada umur 3 tahun belajar berbuah dan umur 4-5 tahun mulai produktif berbuah. Jambu air mulai belajar berbuah pada umur 18 bulan dan mulai produktif berbuah umur 2-3 tahun. Jambu biji mulai belajar berbuah pada umur 6 bulan dan mulai berbuah umur 12-18 bulan. Mangga, mulai belajar berbuah umur 18 bulan dan mulai produktif berbuah umur 3-4 tahun. Manggis, mulai belajar berbunga umur 4 tahun dan mulai produktif umur 5-6 tahun. Rambutan, mulai belajar berbuah umur 2 tahun dan mulai rajin berbuah umur 3-4 tahun).

Sifat-sifat unggul yang lain, sangat ditentukan oleh varietas atau sifat genetis tanaman. Tiap varietas memiliki ciri khas dan keunggulan tertentu dibandingkan dengan varietas lain. Pada belimbing dikenal varietas demak, bangkok, sembiring, filipina, dan wulan. Durian, ada suun, sunan, sitokong, kani, dan otong. Pada jambu air dikenal varietas cincalo, semarang darah, apel, dan lilin. Pada jambu biji dikenal varietas pasar minggu, susu, dan bangkok. Pada kedondong, ada varietas bangkok dan karimun. Pada mangga, dikenal adanya mangga arumanis, manalagi, gedong, golek, indramayu. Pada rambutan, dikenal varietas binjai, cilebak, simacan, dan rapiah.

Baca Juga :  Sejarah Burung Merpati Pos

Semua varietas tanaman itu umumnya berumur genjah, karena perbanyakannya dilakukan secara okulasi. Batang bawah yang digunakan adalah tanaman yang perakarannya bagus, sedangkan batang atasnya berasal dari tanaman yang produktivitasnya tinggi.

Ciri-ciri bibit okulasi yang baik yaitu adalah sebagai berikut :

1.    Panjang batang pokok terhitung dari sambungan okulasi sampai cabang pertama sedikitnya 60 cm. Kalau bibit itu tidak bercabang, panjangnya 1,5 m.

2.    Diameter batang pokok kurang lebih 1,5 cm atau sudah sebesar jari telunjuki.

3.    Arah tumbuh pokok batang lurus ke atas, tidak bengkok. Pangkal pokok batang utuh, kulitnya licin.

4.    Bentuk daun besar-besar, hijau mengkilat, tidak keriting. Ujung ranting bertunas.

5.    Perakarannya baik.

6.    Umur okulasi sekitar setahun.

Agar pohon buah-buahan yang akan Anda tanam bisa segera berbuah, sebaiknya dipilih bibit jenis tanaman genjah, berbuah sepanjang tahun, berasal dari perbanyakan vegetatif.

Keadaan lingkungan

Lingkungan yang mempengaruhi kehidupan tanaman dibedakan atas macroclimate dan microclimate. Lingkungan macroclimate mencakup iklim, ketinggian tempat penanaman dari atas permukaan laut, curah hujan, sinar matahari, jenis dan kesuburan tanah. Lingkungan microclimate meliputi air tanah, suhu dan kelembapan udara, kebun, dan ada tidaknya naungan. Kalau semua itu terpenuhi, tetapi tanaman masih ngambek berbuah, harus dicari penyebabnya yang terlupakan dan kemudian memperbaikinya.

Keadaan iklim dan ketinggian tempat sangat menentukan jenis pohon buah-buahan apa yang bisa ditanam. Jenis tanaman dataran rendah tidak cocok di pegunungan, demikian juga sebaliknya. Kalau kurang mendapatkan sinar matahari, tanaman tidak dapat tumbuh baik, mudah kena penyakit, dan tidak mau berbuah.

Tanaman buah-buahan umumnya membutuhkan tanah kering yang berstruktur sedang dan cukup mengandung hara. Tanah yang air tanahnya dalam (lebih dari 200 cm dari permukaan tanah) baik sekali untuk ditanami bibit okulasi, sedangkan tanah berair tanah dangkal (50-200 cm dari permukaan tanah) sangat cocok ditanami bibit cangkokan atau tanaman yang perakarannya menyebar ke samping.

Tanah yang padat, liat, dan miskin hara dapat diperbaiki dengan pengolahan yang baik, diberi kapur, pasir, dan pupuk kandang atau kompos. Kalau tanahnya tanah pasir, dapat diberi pupuk kandang atau kompos yang banyak. Tanah yang bagus bagi pertumbuhan tanaman adalah yang dapat mengedarkan udara, meneruskan kelebihan air siraman, banyak mengandung zat hara yang mudah diisap oleh tanaman dan memungkinkan akar tanaman tumbuh sempurna.

Ada beberapa jenis tanaman buah yang menghendaki curah hujan dan keadan air tanah yang khas. Rambutan, durian, duku, dan salak akan berbuah dengan baik kalau ditanam di daerah yang musim hujannya lama (9-12 bulan dalam setahun) dan air tanahnya dangkal. Mangga menyukai daerah yang musim kemaraunya panjang (8 bulan dalam setahun). Kalau mangga ditanam di daerah bercurah hujan tinggi, buahnya sering tidak jadi. Jeruk siem, jeruk keprok, jeruk nipis, jeruk sitrun, dan jeruk manis masih dapat tumbuh dengan baik di daerah yang jarang turun hujan, asalkan mendapatkan air irigasi/siraman cukup.

Setiap jenis tanaman buah menghendaki daerah yang berketinggian tertentu. (lihat tabel)

Faktor C/N ratio

Selain bibit yang baik dan lingkungan tumbuh yang cocok, perawatan yang tepat juga dapat membantu tanaman agar segera berbuah.

Sebagai “pabrik buah”, pohon merupakan satu kesatuan unit kerja yang terdiri dari akar, batang, dan daun. Kerja akar adalah mengisap unsur hara nitrogen (N), fosfor (P), Kalium (K), kalsium (Ca), dan sejumlah hara mikro lain yang terlarut dalam air. Unsur hara itu kemudian diteruskan ke daun melalui saluran xylem (pembuluh kayu) pada batang/cabang tanaman. Di daun, unsur hara itu “dimasak” bersama-sama karbon dioksida (CO 2) g bantuan sinar matahari, menjadi karbohidrat (C 6 H 12 O 6), protein, lemak, dan vitamin.

asimilasi adalah, asimilasi adalah biologi, asimilasi dan akulturasi, asimilasi akulturasi, asimilasi karbon

Proses asimilasi tanaman

Daerah Ketinggian yang Dikehendaki Tanaman

Jenis Tanaman Daerah Ketinggian di Atas Permukaan Laut
1. Anggur2. Apel

3. Alpukat

4. Belimbing

5. Durian

6. Jambu air kecil

7. Jambu air Semarang (Cincalo)

8. Jambu biji

9. Jeruk besar

10. Jeruk siem

11. Jeruk keprok

12. Jeruk nipis

13. Kedondong

14. Lengkeng

15. Mangga

16. Manggis

17. Nangka

18. Rambutan

19. Salak

20. Sirsak

21. Srikaya

22. Sawo

1 – 400 meter700 – 1.200 meter

200 – 1.000 meter

1 – 300 meter

100 – 800 meter

1 – 500 meter

1 – 700 meter

1 – 1.000 meter

1 – 400 meter

1 – 700 meter

700 – 1.200 meter

1 – 1.000 meter

1 – 500 meter

300 – 900 meter

1 – 300 meter

1 – 500 meter

1 – 700 meter

1 – 500 meter

1 – 500 meter

1 – 400 meter

1 – 800 meter

1 – 700 meter

Karbohidrat itu lalu diedarkan ke seluruh bagian tanaman melalui saluran phloem (pembuluh kulit). Oleh tanaman, karbohidrat dimanfaatkan untuk pertumbuhan vegetatif dan kelebihannya disimpan sebagai cadangan yang berperanan penting dalam pembentukan buah. Protein yang dihasilkan daun, dipakai untuk membentuk bagian-bagian pohon, seperti akar, batang, dan daun itu sendiri.

Unsur nitrogen memegang peranan penting dalam pembentukan daun. Dengan daun-daun yang sehat, perakaran akan tumbuh dengan kuat. Dampaknya, akar mampu menyerap lebih banyak garam mineral sebagai bahan baku untuk diolah di daun. Keseimbangan kerja antara akar, batang, dan daun ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya, seperti air, hara, udara, sinar matahari, angin, suhu, kelembapan, dan lain-lain.

Kesiapan tanaman untuk menghasilkan buah, secara teoritis, dapat dilihat berdasarkan perbandingan antara karbohidrat (C) dengan nitrogen (N) alias C/N ratio-nya. C/N ratio ini menunjuk pada perbandingan jumlah total antara cadangan karbohidrat dengan ketersediaan nitrogen. Tanaman akan siap berbuah kalau nilai C-nya sedikit lebih besar daripada nilai N-nya. Artinya, dengan nilai C yang besar itu jumlah karbohidrat yang terdapat pada tanaman cukup tinggi dan penyerapan nitrogen dari tanah pun cukup memadai, sehingga tanaman akan segera terangsang untuk berbunga dan mengeluarkan buah.

Perbandingan nilai C/N ratio ini dibedakan atas 4 tingkatan sebagai berikut :

1.    Karbohidrat rendah : nitrogen tinggi (C/NNNN)

Artinya adalah produksi karbohidrat di dalam tajuk tanaman sedikit sekali, sedangkan penyerapan nitrogen dari tanah besar sekali. Hal ini terjadi pada tanaman muda, pohon yang tajuknya dipangkas berat, dan pohon yang gundul daunnya akibat terserang ulat (hama) atau sengaja dirompes. Cirinya, pertunasan alias pertumbuhan vegetatifnya kuat sekali.

2.    Karbohidrat sedang : nitrogen tinggi (CC/NNN)

Artinya adalah produksi karbohidrat pada tajuk tanaman sudah cukup besar, tetapi penyerapan nitrogen oleh akar juga masih sangat besar. Ini terjadi pada pohon muda yang baru belajar berbuah, pohon yang terlalu rimbun daunnya, serta pohon yang kekurangan cahaya matahari sehingga kurang sempurna berfotosintesis. Pohon serupa ini pertumbuhan vegetatifnya telah berkurang dan sudah mampu membentuk bunga, tapi bunganya banyak yang rontok. Kerontokan itu terjadi karena karbohidrat yang sudah terbentuk lebih banyak termanfaatkan untuk pertumbuhan tunas.

3.    Karbohidrat tinggi : nitrogen sedang (CCC/NN)

Artinya adalah produksi karbohidrat dalam tajuk cukup tinggi, yang diimbangi oleh penyerapan nitrogen dari tanah yang memadai. Kelebihan produksi karbohidrat ini akan disimpan oleh tanaman sebagai makanan cadangan, yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan buah. Sementara itu, nitrogen yang cukup tersedia bisa dimanfaatkan untuk menunjang pertumbuhan daun. Perbandingan C/N ratio inilah yang dianggap ideal, karena tanaman sedang dalam kondisi yang benar-benar sudah siap berbuah. Biasanya hal ini terjadi pada pohon dewasa dalam usia produktif. Untuk memperpanjang usia produktif itu, tanaman mesti dipupuk dan dirawat dengan baik.

4.    Karbohidrat tinggi : nitrogen rendah (CCCC/N)

Artinya adalah  produksi karbohidrat dalam daun tinggi sekali, tetapi penyerapan nitrogennya rendah sekali. Akibatnya, tanaman tumbuh merana, karena kekurangan unsur N yang diperlukan untuk pembentukan tunas dan daun baru. Hal ini terjadi pada pohon yang sudah mulai tua, karena perakarannya sudah kurang aktif dan pembuluhnya pun sudah menyempit. Selain itu, hal demikian biasanya juga terjadi pada tanaman yang tidak pernah dipupuk setelah dipanen.

Di lapangan, tingkatan C/N ratio itu bisa disimpulkan langsung dari keadaan pohonnya. Kalau tajuk tanaman tampak rimbun, tetapi buahnya sedikit atau bahkan tidak ada, besar kemungkinan tingkat C/N ratio-nya CC/NNN. Agar tanmaan menjadi produktif, perbandingan C/N ratio itu harus diubah menjadi CCC/NN. Hal itu bisa dilakukan dengan memberikan perlakuan fisik pada tanaman seperti pemangkasan, pelengkungan dahan ataupun cabang, pelukaan batang ataupun akar, pengairan, pemupukan, maupun secara hormonal. Tujuannya, agar tanaman mau segera berbuah.

Perangsangan tanaman dengan perlakuan fisik

1.    Pemangkasan

Pemangkasan ini mutlak diperlukan, agar pohon cepat berbuah. Pohon yang tidak pernah dipangkas, pertumbuhan cabang dan tajuknya akan kurang teratur, saling berhimpitan, sehingga tidak bisa berfotosintesis dengan sempurna.

Pemangkasan ringan dengan menghilangkan ranting dan daun yang tidak produktif, tunas air, dan bagian tanaman yang rusak bisa menyehatkan tanaman. Matahari jadi bisa lebih leluasa menyinari seluruh pohon. Selain itu, sirkulasi udara pun bisa merata ke seluruh bagian tanaman. Dengan demikian, daun menjadi lebih produktif dalam menghasilkan karbohidrat. Kelebihan karbohidrat, yang tersimpan sebagai cadangan dalam jaringan itulah nantinya yang akan mendorong tanaman untuk segera berbuah.

agar tanaman cepat berbuah, tanaman yang cepat berbuah, tanaman cepat berbuah, pohon buah yang cepat berbuah, daftar pohon cepat berbuah

Pemangkasan ringan pada cabang, dan tunas yang tidak produktif. Pelengkungan dahan pada pohon berbentuk meja

2.    Pelengkungan Dahan Atau Cabang

Dahan atau cabang yang tumbuh tegak lurus sulit menumbuhkan bunga. Oleh karena itu, dahan ini harus dihambat pertumbuhan vegetatifnya dengan melengkungkannya sehingga posisinya mendatar. Caranya, dahan atau cabang ditarik ke bawah menggunakan tali yang diikatkan pada pasak. Kalau posisi dahan menegak, maka hormon auksin-lah yang berperan, sehingga tanaman lebih terangsang untuk menumbuhkan tunas-tunas baru. Sebaliknya, kalau dahan tadi telah ditarik sampai posisinya mendatar, maka etilen akan mempengaruhi tanaman agar segera menumbuhkan bunga.

Pelengkungan dahan pada apel, anggur, dan jambu biji bisa menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman tapi sekaligus juga merangsang pertumbuhan generatifnya. Biasanya, pelengkungan itu disertai dengan perompesan daun, untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru. Uniknya, beberapa lama kemudian tunas bunga akan turut muncul bersamaan dengan munculnya pucuk daun muda.

Pelengkungan dahan itu membuat pertumbuhan tunas terhambat. Sebaliknya, dengan pelengkungan itu proses asimilasi justru menjadi lebih besar, sehingga produksi karbohidrat dalam daun meningkat. Sementara itu, karena dahannya dilengkungkan, maka penyaluran karbohidrat menjadi tertahan. Akibatnya, karbohidrat lebih banyak menumpuk di bagian-bagian batang yang bakal menumbuhkan tunas bunga.

3.    Pelukaan Batang/Dahan

Pelukaan dengan mencacah kulit batang, mengerat kulit batang atau dahan secara melingkar, mengerok kulit batang, meneliti batang atau dahan dengan tali plastik atau kawat, dapat merangsang tanaman agar mau segera berbuah. Dengan memutuskan jaringan phloem di kulit batang itu, aliran karbohidrat dari tajuk pohon ke bagian perakaran terhenti. Dengan begitu, karbohidrat akan terkumpul di bagian tajuk pohon, sehingga pohon terangsang untuk berbunga.

Sayangnya, pelukaan batang ini kecil sekali pengaruhnya terhadap produktivitas buah. Pelukaan itu mengakibatkan pasokan makanan dari tanah menjadi terbatas, sehingga pertumbuhan tunas dan daun melemah. Padahal, daun merupakan pusat produksi karbohidrat. Dengan terbatasnya produksi karbohidrat ini, maka akan terbatas pula produksi buahnya.

agar tanaman cepat berbuah, tanaman yang cepat berbuah, tanaman cepat berbuah, pohon buah yang cepat berbuah, daftar pohon cepat berbuah

Pelukaan batang / dahan, pergelangan batang atau dahan, pelukaan, pelilitan dengan kawat

Selain kurang bisa memacu produktivitas buah, pelukaan juga mengandung risiko bakal berkurangnya produksi buah pada musim berbuah berikutnya.

Kalau perakaran pohon sama sekali tidak bisa menerima karbohidrat dari atas, karena lapisan kambium batang dikerat dan mengering, lambat-laun tanaman menjadi merana, lantaran akarnya mati gara-gara tidak mendapatkan makanan berupa karbohidrat dari daun. Selain dengan pelukaan batang, sebenarnya produksi buah juga bisa dirangsang dengan pelukaan akar. Hanya saja, karena sangat riskan sebaiknya cara ini tidak dipilih.

Perangsangan buah dengan pengairan dan pemupukan

1.    Pengairan

Pengairan bisa memacu pembentukan buah. Tanaman yang akarnya dangkal, seperti jeruk, belimbing, dan apel, membutuhkan penggenangan air pada musim kemarau. Penggenangan pada musim kemarau ini bisa merangsang tanaman jeruk memunculkan tunas-tunas bunganya. Sebaliknya, pada musim hujan, justru memerlukan saluran pembuangan air. Pembatasan air tanah dengan pembuatan saluran khusus, akan menghambat  penyerapan N oleh akar. Dampaknya, pertumbuhan ranting dan daunnya terhenti, sementara itu produksi karbohidrat oleh daun yang masih terus berjalan, disimpan sebagai cadangan makanan untuk pembentukan buah.

2.    Pemupukan

Pupuk daun berkadar P tinggi bisa merangsang tanaman agar segera beruah. Unsur fosfor di dalamnya bermanfaat mengurangi pertumbuhan vegetatif dan merangsang munculnya bunga.

Pupuk daun berkadar P tinggi ini disemprotkan ke permukaan bawah daun. Cara pemakaiannya sesuai dengan anjuran yang tertulis pada label kemasan. Saat menyemprot yang baik adalah pada pagi hari sampai pukul 09.00 atau sore hari pukul 16.00 sampai petang. Kalau penyemprotan dilakukan pada saat matahari terik, larutan pupuk akan cepat menguap dan mengering lalu butiran-butirannya melekat pada daun. Karena butiran pupuk itu bersifat higroskopis, cairan daun akan diisapnya. Akibatnya, daun akan mengering lalu “terbakar”. Sebaliknya, penyemprotan juga tidak dilakukan jika hari menjelang hujan, agar pupuk tidak larut terguyur air hujan. Penyemprotan itu diulang setiap 7-10 hari sekali.

Beberapa macam pupuk daun yang kadar P-nya tinggi antara lain BASF Foliar B (N 15%, P 30%, K 15%), Gandasil B (N 16%, P 20%, K 30%), Hyponex Biru (N 10%, P 45%, K 10%), Surplus Merah (N 9%, P 45%, K 21%), Special B (N 18%, P 33%, K 18%).

Perangsangan dengan pemberian hormon

Hormon tanaman, atau disebut juga zat pengatur tumbuh, merupakan senyawa kimia yang dapat mempengaruhi fungsi jaringan tanaman. Hormon bukan zat hara, tetapi ia bisa meningkatkan efisiensi penggunaan zat hara oleh tanaman. Hormon tanaman seperti auksin, etilen, dan giberelin itu sebenarnya sudah diproduksi sendiri oleh tanaman. Akan tetapi kini, sintesisnya justru sudah banyak diproduksi dan dijual di pasaran.

Beberapa merek hormon buatan yang bisa dimanfaatkan untuk merangsang tanaman agar segera berbuah adalah Atonik, Dekamon 22,43 L, Gibberelin Kyowa, Sitozim, dan Hydrasil. Penggunaannya harus sesuai petunjuk dalam kemasan hormon itu. Penyemprotannya dilakukan pada saat cuaca cerah dan udara tidak lembap lagi.

Pemberian hormon buatan ini harus diimbangi dengan pemberian pupuk NPK yang cukup. Tanaman yang akan dirangsang pembungaannya harus dalam kondisi sehat, sudah cukup dewasa, dan baik pertumbuhan vegetatifnya.

Pemilihan bibit yang unggul, kondisi lingkungan yang cocok, dan perawatan tanaman yang baik membantu tanaman untuk segera berbuah. Kemampuan membaca kondisi tanaman sangat diperlukan untuk mengetahui tingkat nilai C/N ratio dalam tanaman. Dengan begitu, bisa segera diupayakan pencapaian kondisi CCC/NN, sehingga tanaman bisa segera berbuah secara maksimal dengan mutu yang baik. #GTW

Loading...
error: