Bunga-Bunga Potong Populer

Jenis Bunga-Bunga Potong Ekslusif yang Populer

bunga potong laris manis, bunga potong yang ramai dipasaran, bunga potong paling laku dan laris dijual dipasaran, jenis bunga potong, harga bunga potong, budidaya bunga potong, bunga potong segar, bunga potong krisan, bunga potong mawar, jual bunga potong, bunga mawar

Bunga-bunga potong dalam vas disimpan di atas meja sangat indah & enak dipandang
gambar : ourgardengate.com

Bunga potong eks impor kini semakin luas ditanam orang, prospek pasarnya terutama di kota besar semakin cerah. Penampilan aneka bentuk dan gradasi warna yang menakjubkan, membuat orang segera jatuh hati pada bunga-bunga baru ini. Konon diantaranya termasuk jenis silangan mutakhir dengan kualitas terbaik di dunia.

Disamping bunga potong lokal yang bisaa dijumpai sehari-hari kini ada ‘trend’ baru mengirimkan rangkaian bunga yang terdiri dari bunga-bunga eksklusif. Disebut eksklusif karena selain jarang dapat dijumpai, mutu yang ditampilkannya juga serba prima, mulai dari bentuk, ukuran serta pilihan warna yang nyaris tidak berbatas. Harganya pun mencapai 4 – 5 kali lipat bunga lokal, tetapi hingga saat ini permintaan justru bertambah besar sedangkan suplainya masih jauh dari mencukupi. Berikut ini hasil pengamatan pada tujuh jenis bunga kesklusif yang mulai merambah pasaran bunga di kota-kota besar, menurut urutan popularitasnya.

1. Bunga Chrysanthemum (Krisan / Seruni)

arti bunga krisan, budidaya bunga krisan, manfaat bunga krisan, sejarah bunga krisan, harga bunga krisan, cara merawat bunga krisan, bibit bunga krisan, jenis bunga krisan

Bunga Chrysanthemum (Krisan / Seruni)
gambar : juniekrishan.wordpress.com

Sebenarnya bunga ini sudah lama dikenal, tetapi yang ada di pasaran lokal hanya jenis berbunga tunggal besar dengan warna putih atau kuning saja. Kedua jenis ini dianggap sebagai standar bunga krisan di Indonesia karena sejak jaman Belanda dulu hingga saat ini masih saja ditanam para petani tradisional. Padahal jenis-jenis krisan hasil pemuliaan mutakhir, seperti di Belanda dan Jepang, telah menghasilkan ratausan varietas barun yang telah diproduksi dan dijual secara komersial. Demikian beraneka ragamnya jenis-jenis krisan baru ini sehingga seringkali orang tak menyangka bahwa bunga yang dilihatnya itu adalah krisan, sama seperti halnya anggrek yang varietasnya seolah-olah tak terbatas.

Dari cara penanamannya saja, krisan dibagi atas dua kelompok yaitu krisan yang ditanam di tanah sebagai bunga potong dan krisan yang ditanam dalam pot sebagai bunga hias. Lalu dari jenis bunganya dikenal jenis berbunga tunggal besar dan ada lagi yang berbunga banyak kecil-kecil pada satu tangkai (jenis ‘spray’). Dari bentuk mahkota bunganya masih juga dibedakan atas beberapa kelompok seperti : single, anemone, pompon, spider, spoon dan lain-lain. Dan terakhir dari perbedaan warna mahkota dapat dikatakan gradasi warnanya begitu lengkap sehingga sulit untuk menyebut jenis warnanya. Tetapi pada umumnya warna dasar yang dikenal adalah putih, kuning, merah jambu, oranye, merah dan ungu. Dari warna dasar inilah lahir ratusan kombinasi warna yang bagitu indah.

Nama varietas tampaknya belum begitu populer atau mungkin karena terlalu banyak sehingga susah untuk diingat-ingat. Konsumen pun tampaknya lebih mudah memilih berdasarkan bentuk dan warnanya saja, misalnya varietas Shamrock yang berbentuk seperti laba-laba (spider) dengan warnanya yang hijau kekuningan sungguh unik dan mudah diingat. Juga varietas ‘Regal Mist’ yang berbunga tunggal besar dengan warna ungu keperakan sehingga memberi kesan mewah dan anggun.

Krisan termasuk tanaman yang mudah sekali penanamannya, perbanyakan dengan stek batang atau anakan akan menghasilkan bunga dalam tiga bulan saja. Jarak tanamnya sangat bervariasi tetapi tergolong sangat efisien diantara bunga-bunga potong lainnya. Krisan asal Balanda umumnya ditanam dengan jarak 20 x 20 cm, sedangkan krisan Jepang ditanam dengan jarak 8 x 40 cm, sehingga dalam satu meter persegi saja dapat dihasilkan 25 – 30 tangkai bunga. Tetapi salah satu hambatan terbesar adalah kebutuhannya akan penyinaran selama 16 jam sehari, sehingga untuk daerah tropis seperti Indonesia diperlukan penambahan penyinaran dengan menggunakan lampu pijar pada malam hari.

Bunga krisan potong pada umumnya tahan antara 4 – 7 hari dalam satu rangkaian atau vas, sedangkan bunga krisan hias dalam pot dapat tahan antara 8 – 10 hari sebelum penampulannya memudar. Harga bunga potong krisan berkisar antara Rp. 1.500 per tangkainya, Harga ini dapat melonjak drastis pada hari libur/raya/besar, terutama karena permintaannya yang meningkat dan persediaannya yang sangat terbatas. Rasanya tidak berlebihan bila dikatakan bunga krisan merupakan primadona bunga potong sekarang ini.

2. Bunga Gerbera

perawatan tanaman bunga, gerbera cultivation, gerbera care, gerbera meaning, gerbera seeds, growing gerbera, gerbera cuidados, gerbera care indoor, gerbera pronunciation

Sejak dahulu juga sudah ada di Indonesia, bisaanya disebut sebagai ‘Herbras’ atau bahkan ‘Air Beras’. Pada umumnya tidak ditanam sebagai bunga potong tetapi lebih sebagai tanaman bunga hias di pekarangan, terutama di daerah pegunungan yang beriklim sejuk. Bunga ini seolah-olah akan terlupakan begitu saja, kalau saja tidak masuk jenis Gerbera baru yang ‘Super Quality’ dari Belanda. Sepintas lalu memang tidak terlalu istimewa penampilannya, karena berbunga tunggal dan tangkainya tidak berdaun. Tetapi sebagai rangkaian bunga dalam vas, bunga ini berkesan tenang, cantik dan sederhana.

Gerbera generasi terbaru hasil pemuliaan di negeri Belanda memang menampilkan sosok bunga yang lain dari yang telah dikenal. Ukurannya yang semakin besar, warnanya yang semakin cerah dan beragam serta produktivitas tanamannya yang tinggi, membuat bunga ini dapat bersaing dengan bunga-bunga potong lainnya. Sekurang-kurangnya 200 varietas baru telah dihasilkan dan seperempat dari jumlah ini telah memasuki pasaran produksi komersial. Menurut catatan statistik di Belanda, bunga ini menduduki urutan ketiga dari besarnya jumlah produksi, yaitu setelah mawar dan krisan. Sejarahna pada tahun 1985 saja produksi Gerbera di rumah-rumah kaca telah mencapai 292 hektar dengan produksi total sekitar 320 juta tangkai per tahunnya.

Sejak beberapa tahun yang silam, sudah banyak pengusaha yang mulai mengebunkan bunga ini di Indonesia. Bibit-bibit jenis mutakhir diimpor dari Belanda dan ditanam dengan hasil yang baik di daerah pegunungan di sekitar Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Kendala yang dihadapi adalah masalah pengadaan bibitnya, karena bibit asal Belanda ini dilarang untuk diperbanyak, karena dilindungi hak paten. Boleh dibibitkan, asal membayar royalty yang besarnya ditentukan oleh suatu kontrak persetujuan. Masalah lain adalah sulitnya memperoleh produk dengan mutu prima sebagaimana bunga induknya di negara asalnya. Untuk itu perlu dibuatkan rumah plastik sederhana untuk menaungi bunga dari terpaan air hujan. Tetapi usaha ini tentu saka mengakibatkan investasi semakin besar, sehingga berakhir dengan harga jual yang jauh lebih mahal daripada jenis Gerbera tradisional yang ditanam di udara terbuka.

Baca Juga :  Tanaman Ulmus Indah Kalau Dibonsaikan

Gerbera termasuk tanaman perenial (tahunan) tetapi berbatang lunak. Perbanyakan bisaanya dari anakan, tetapi sekarang sudah digunakan bibit hasil pembiakan kultur jaringan. Jarak tanam di lapangan dapat 20 x 20 cm sampai 30 x 30 cm. Usia produktif tanaman antara 1 – 1,5 tahun, dalam masa itu dapat dihasilkan bunga sebanyak 25 – 35 tangkai per tanaman. Serangan penyakit dapat menurunkan produksi bunga dengan drastis. Cendawan yang bisaa menyerang adalah Phytium, Phytophthora dan Rhizoctorial, sedangkan serangan hama paling ganas adalah kutu putih. Karena itu menanam bunga ini di alam terbuka sudah tentu banyak sekali kesulitannya.

Harga Gerbera hybrida di Jakarta antara Rp. 1.500 per tangkai, jarang sekali harganya turun, bahkan di hari besar malah naik drastis. Bunga Gerbera dapat tahan antara 3 – 7 hari sebelum tangkainya layu walaupun mahkotanya masih segar. Sebaliknya tangkai yang masih segar mudah sekali patah, sehingga packingnya harus ekstra hati-hati.

3. Bunga Alstroemeria

Arti dan makna bunga alstroemeria, alstroemeria meaning, alstroemeria records, alstroemeria care, alstroemeria plants, alstroemeria cultivation, alstroemeria cats, alstroemeria seeds, alstroemeria pronunciation

Bunga Alstroemeria
gambar : ngasih.com

Termasuk pendatang baru yang cepat sekali disukai karena penampilannya yang menawan dan ragam warnanya yang cerah. Bentuknya maupun susunan mahkota bunganya menyerupai anggrek. Disebut juga ‘Peruvian Lily’ walaupun sebenarnya asalnya dari Chili dan Brazil tetapi juga ditemukan di Bolivia, Paraguay dan Argentina.

Seorang ahli botani Swedia bernama Von Alstroemer membawa biji-biji A. pelegrina dari Amerika Slatan ke Eropa ternyata berhasil dengan baik, sehingga atas jasanya mengembangkan tanaman ini maka bunganya disebut Alstromeria. Tanaman ini termasuk famili Amaryllidaceae, dengan beberapa spesies seperti Alstroemeria aurantiaca, a. pelegrina, A. ligtu. Spesies-spesies ini diduga merupakan tertua dari bunga-bunga hybrida yang sekarang terkenal dengan mahkotanya yang lebih besar dan ragam warnanya yang lebih menarik.

Satu tangkai bunga dapat mencapai panjang satu meter dan terdiri dari 2 – 4 kuntum yang terkumpul pada ujung tangkainya. Dalam satu rumpun dapat dihasilkan 3 – 7 tangkai bunga. Perbanyakannya dengan cara memecah rumpun, karena rhizomanya tumbuh sangat cepat dan terus-menerus. Jarak tanam yang optimal 45 cm x 52 cm. Pada bedengan dengan luas satu meter persegi dapat ditanam empat rumpun tanaman. Hasilnya dapat mencapai 200 tangkai bunga per tahun. Tanaman ini dapat tumbuh sampai tinggi dua meter, karena itu diperlukan jala penyangga agar tanamannya tidak rebah. Alstroemeria membutuhkan sinar matahari penuh agar pertumbuhannya kekar, tangkainya tegak, daunnya rimbun serta bunganya besar dan banyak. Tanaman ini termasuk tanaman yang resisten terhadap serangan hama dan penyakit, kecuali terhadap serangan busuk batang.

Warna bunga meliputi warna dasar putih, kuning, merah jambu, oranye, merah dan ungu, bahkan dari hasil pemuliaan kini telah diperoleh bunga dengan berbagai kombinasi warna dasar tadi. Penelitian menunjukkan bahwa untuk memperoleh warna baru, dilakukan radiasi sinar X antara 350 – 700 rad pada rhizoma yang sedang aktif tumbuh. Mayoritas dari spesies-spesies ini bersifat steril, kemungkinan karena merupakan hasil persilangan antara tetua dari spesies yang berbeda atau sebagai akibat dari usaha pemuliaan dengan cara radiasi sinar-X tadi. Tetapi justru varietas baru yang steril inilah yang semakin populer karena bentuk bunganya indah, ragam warna cerah, daya sumpannya cukup lama dan juga produktivitasnya meningkat.

Di Belanda produksi Alstromoeria sedang diusahakan sepanjang tahun, walaupun kenyataannya pada musim dingin (Desember, Januari dan Februari) produksi sedikit sekali. Namun demikian pada tahun 1985 saja sudah mencapai 104 juta potong per tahun, dengan harga rata-rata 38 cent Gulden per tangkai. Produsen Alstroemeria di luar Belanda adalah Columbia dan Kenya. Sementara di AS ditanam di California.

Di Eropa warna yang paling populer adalah dasar putih dengan garis-garis merah jambu atau ungu. Sedangkan di Jakarta warna merah cerah Var. ‘King Cardinal’ dan merah-ungu (liliac-purple/magenta) Var. ‘Jubilee’ paling disukai. Harga bunga ini di florist Jakarta cukup mahal antara Rp. 2.000 per tangkainya, tetapi ini sepadan dengan daya simpannya dalam vas yang mencapai 10 hari.

4. Bunga Anyelir / Carnation

bunga teluki, cara merawat bunga anyelir, ms pokok bunga teluki, teluki, gozdziki kwiaty, gozdzik kwiat, caryophyllus, moonlight carnations, bunga anyelir merah, bunga anyelir di indonesia, bunga anyelir putih, bunga anyelir pink, bunga anyelir indigo

Tanaman bunga anyelir merah
gambar : wikipedia.org

Menurut sejarah bunga anyelir bernama latin (Dianthus Caryophyllus) ini telah dibudidayakan sejak 2000 tahun yang lalu. Kata ‘Dianthus’ kurang lebih berarti ‘bunga para dewa’, sedangkan ‘caryophyllus’ diambil dari nama bunga cengkeh, sesuai dengan aroma dasar bunga anyelir ini. Sedangkan nama ‘Carnation’ berasal dari kata ‘coronation’ yang artinya penobatan atau naik tahta. Konon dahulu bangsa Yunani menjalin bunga ini dalam suatu rangkaian seperti mahkota untuk dianugerahkan kepada para pahlawan atau atlet-atlet yang memenangkan suatu pertandingan.

Pada masa sekarang bunga anyelir sudah jauh berbeda dari bunga asalnya, sejak William Sim pada tahun 1938 berhasil menyilangkan bunga ini, maka lahirlah ratusan varietas baru dengan sifat-sifat yang unggul seperti tangkainya yang lebih panjang, mahkota bunganya lebih besar dan ‘penuh’, gradasi warnanya semakin halus serta mampu berbinga terus-menerrus sepanjang tahun.

Baca Juga :  Kumbang Penggerek Batang

Ada dua jenis bunga yang dikenal yaitu standard-carnation dan spray-carnation. Standard-carnation berbunga tunggal dengan ukuran relatif besar, sedangkan spray-carnation merupakan kumpulan bunga-bnga kecil pada satu tangkai bunga. Masing-masing jenis mempunyai puluhan varietas yang setiap tahunnya selalu muncul lagi varietas baru, seperti halnya mode pakaian.

Diantara negara-negara panghasil anyelir terbesar adalah Belanda, Kenya dan Colombia yang menghasilkan ratusan juta tangkai anyelir setiap tahunnya. Belanda banyak menghasilkan silangan jenis baru yang hasilnya dipasarkan ke Eropa Barat. Kenya sudah mampu menghasilkan sekitar 125 juta tangkai per tahun yang sebagian besar dijual ke Eropa terutama pada saat produksi negara Eropa menurun pada musim dingin. Sementara Colombia pernah menghasilkan hingga 310 juta tangkai yang pasar utamanya adalah Amerika Serikat. Hanya saja kelemahan kedua negara berkembang ini adalah sebagian negara berkembang ini adalah sebagian besar produksinya dilakukan di alam terbuka, sehingga kualitas bunga yang dihasilkan seringkali beragam. Hal ini berbuntut fluktuasi harga yang tajam dan ketidak  stabilan pendapatan para petaninya. Di Indonesia, beberapa tahun terakhir ini anyelir semakin banyak ditanam orang, terutama jenis hybrida yang bibitnya didatangkan dari luar negeri. Persyaratan tumbuhnya relatif mudah sehingga banyak yang berhasil membudidayakannya dengan sukses. Kecenderungan ini membuat produksinya meningkat, tetapi dengan tingkat harga jual yang semakin menurun bila dibandingkan dengan bunga potong lainnya. Teknologi budidayanya belum dapat dikatakan canggih seperti halnya di Belanda yang menggunakan rumah kaca, sehingga mutu bunga yang dihasilkan belum dapat mencapai standar kualitas ekspor. Alternatif yang ada adalah memasarkan bunga ini di kota-kota besar di dalam negeri. Harganya juga fluktuasi antara Rp. 1000 – Rp. 1.500 per tangkainya.

5. Bunga Anthurium

desa anthurium, anthurium care, anthurium meaning, anthurium scientific name, anthurium propagation, anthurium poisonous, anthurium andreanum, anthurium plants for sale, harga bunga anthurium, jenis bunga anthurium, jual anthurium, pesan anthurium, cara merawat bunga anthurium, bunga anthurium jenmanii, bunga anthurium jemani

Bunga Anthurium
gambar : youtube.com

Tanaman ini telah lama dikenal di Indonesia tetapi lebih sebagai tanaman hias karena daunnya yang lebar-lebar seperti kuping gajah itu. Sosok bunganya yang unik dan merupakan ciri khas yang tidak dimiliki bunga lain, dahulu tidak populer sebagai bunga potong. Tetapi sejak masuknya varietas Anthurium baru dari Belanda yang bunganya lebih besar dan menarik, maka tanaman kuping gajah ini lebih terkenal sebagai bunga potong Anthurium. Nama lain yang populer di luar negeri adalah ‘Flamingo Flower’ atau ‘Painter’s Palette’. Varietas-varietas yang populer antara lain ‘Cuba’ yang berwarna putih, ‘Avoanneke’ berwarna pink dan ‘Avoclaudia’ berwarna merah.

Produktivitas berbunganya termasuk rendah untuk golongan bunga potong, baik dilihat dari jumlah tanaman per meter perseginya maupun dari jumlah tangkai bunga yang dihasilkan per tanamannya. Maka tidak heran bila harga bunga Anthurium termasuk mahal, berkisar antara Rp. 1.000 – Rp. 3.000 per tangkainya. Keuntungan lainnya adalah daya simpan bunganya antara 7 – 14 hari tergantung varietasnya, karena itu jenis bunga ini lebih cocok untuk komoditi ekspor, mengingat daya simpannya yang cukup lama dan terutama harganya yang relatif mahal, sehingga kurang terjangkau oleh pasar bunga lokal.

6. Gypsophila/Baby’s Breath

bunga gypsophila, artificial gypsophila, bunch of gypsophila, bunches of gypsophila, bunga gypsophila monarch white, buy gypsophila, artificial gypsophila, how to grow gypsophila, dried gypsophila, agave gypsophila

Bunga Gypsophila
gambar : pinterest.com

Juga termasuk pendatang baru yang sedang digemari di kalangan tertentu, bunganya yang kecil-kecil menyebar demikian halusnya sehingga diumpamakan sebagai ‘nafas bayi’ atau dalam bahasa Inggir keren disebut Baby’s Breath. Varietasnya ada beberapa macam, dibedakan atas dasar warna bunganya, yaitu putih, merah jambu dan merah.

Tanaman ini dapat tumbuh pada iklim yang sama dengan tanaman krisan, terutama pada tanah yang agak kering, berkapur dan berpasir, dengan pH = 6,5 – 7,5. Drainase atau saluran pembuangan air sangat diperlukan, karena air yang berlebihan akan sangat mengganggu pertumbuhannya. Jarak tanam di lapangan bisaanya 1 x 1,5 meter karena tanamannya dapat tumbuh besar hingga saat panen.

Panen bunga dilakukan bisa sebagian kuntum di bagian pucuk sudah mulai membuka tetapi belum terlalu tua. Bunga segar dapat bertahan untuk 5 – 7 hari, tetapi bunga yang dikeringkan bahkan dapat tahan untuk jangka waktu satu tahun. Harganya amat bervariasi mulai dari Rp. 10.000 per ikat (berisi 10 tangkai) di kebun, sampai Rp. 25.000 untuk ikat yang sama di florist.

7. Limonium / Statice

limonium wrightii, limonium sp, pengertian limonium, limonium latifolium, limonium platyphyllum, yarrow, lamium, astilbe

Tanaman yang asalnya dari daerah Meditaranea ini juga telah memasuki pasaran bunga di Jakarta, bahkan beberapa nursery telah mencoba dan berhasil menanamnya dalam jumlah terbatas. Nama latin bunga ini adalah Limonium sinuatum tampaknya kurang dikenal dibandingkan nama populernya yaitu Statice atau Sea Lavender.

Dari spesies ini saja didapatkan beberapa varietas yang berbeda warna bunganya yaitu ungu, lavender, rose-pink, biru, merah, putih dan kuning. Ada lagi spesies lain yang dikenal sebagai Statice Jerman (L. latifolium) yang berwarna ungu lembut. Bunga spesies ini lebih kecil dan halus dari spesies ‘sinuatum’ tetapi tandan bunganya lebih besar dan lebat.

Bibit tanaman diperoleh dari semaian biji yang sangat halus. Konon menurut penelitian di Florida, berat 10.000 biji hanya mencapai 28 gram saja. Biji yang telah disemai akan tumbuh dalam 5 – 9 hari pada suhu udara 18 – 21 derajat celcius. Bibit ini kemudian disiram dengan air yang mengandung larutan pupuk 200 ppm Nitrogen selama 4 – 5 minggu. Setelah itu tanaman dipindahkan ke lapang dengan jarak tanam 0,75 x 1 meter. Tanaman ini akan menghasilkan panen bunganya yang pertama antara 90 – 150 hari setelah tanam, bergantung pada varietasnya. Bunga dipanen bila sebagian besar kuntumnya sudah mulai membuka atau bila warna bunganya mulai terlihat.

Bunga statica di Jakarta dijual dalam bentuk segar mau pun kering, bisaanya dalam satu ikat terdapat 7 – 10 tangkai bunga dan harganya tidak jauh berbeda dari bunga Gypsophila. Bunga segar dapat tahan 1 – 2 minggu dalam rangkaian/vas, sedangkan bunga yang dikeringkan tidak kehilangan warnanya sampai waktu satu tahun. #Ame & Team

error: