Koro, Sayuran Yang Terlupakan

Koro, Sayuran Yang Terlupakan

sayur sayuran dan manfaatnya, sayur sayuran sehat, sayur sayuran dalam bahasa inggris, gambar sayur sayuran, sayur sayuran yang baik untuk ibu hamil, sayur sayuran yang baik untuk diet, sayur sayuran dan khasiatnya, sayur sayuran penambah darah

sayuran koro
gambar : echomesteadgardening.com

Meskipun banyak digemari masyarakat Jawa Barat, jenis sayuran yang satu ini masih jarang terdapat di pasar dan belum ada yang membudidayakan secara khusus. Padahal tanaman tersebut dikenal mempunyai kandungan gizi yang tinggi.

Koro, tanaman yang termasuk dalam famili Papilionaceae (Leguminosae) ini, di daerah Jawa Barat banyak dikenal dengan nama Roaj / Roay. Ia merupakan tanaman berbentuk perdu, bersifat menjalar serta merupakan tanaman yang berumur panjang (lebih dari 2 tahun). Untuk menanam Koro, sebenarnya tidaklah sulit sebab tanaman tersebut dapat tumbuh di dataran rendah maupun tinggi.

Disamping itu selama masa pertumbuhan, koro juga tidak memerlukan perawatan yang khusus. Namun demikian, tanaman ini masih jarang dibudidayakan secara khusus. Ia baru banyak digunakan sebagai tanaman pekarangan atau tanaman sela, karenanya tidak heran apabila buah koro sulit didapat di pasar-pasar.

Padahal buah koro ini dikenal memiliki kandungan protein yang cukup tinggi serta banyak mengandung vitamin A, B dan C. Selain memiliki kandungan gizi tersebut, tanaman ini juga dikenal mengandung asam sianida yang bersifat racun, akan tetapi kadar racun tersebut rendah dan tidak membahayakan kesehatan, kecuali terhadap hewan seperti; kambing, ayam dan sebagainya.

1. Jenis-Jenis Koro (Roaj / Roay dan Koas)

Dua jenis tanaman ini sama-sama berasal dari satu famili, hanya saja pada koas (koro pedang) masa pertumbuhannya tidak selama koro bisaa (roaj). Disamping itu bentuk buahnya besar, panjang dan pipih, karena itu ia dinamakan koro pedang (koas). Kedua jenis tanaman merambat ini, banyak dikenal mempunyai banyak jenis, dimana pada setiap jenisnya dapat dibedakan dari bentuk buahnya. Untuk koro (roaj) misalnya, secara gratis besar tanaman tersebut dapat dibagi dalam dua golongan yakni; Koro hijau atau kratek (phaseolus lunatus L) dan koro putih atau koro gajih atau komak (Deliches lalab L). yang termasuk dalam jenis koro hijau adalah :

  • Koro berbiji bulat, koro jenis ini mempunyai tekstur buah lunak, tidak rata (bertonjolan) akibat desakan dari biji serta buah mudanya berwarna hijau.
  • Koro berbiji pipih, warna buah muda koro ini adalah hijau dengan tekstur buah rata dan liat. Termasuk dalam bentuk seperti ini adalah koro ataom yang mempunyai bentuk daun kecil-kecil dan panjang.
Baca Juga :  9 Macam Bunga yang Bermanfaat di Tanam Halaman Rumah

Sedangkan untuk koro putih terdapat dua jenis yakni:

  • Koro gajih berbuah kembung, yang bercirikan panjang buah sekitar 13 cm dan lebar 1,3 cm, berwarna putih dengan letak biji sejajar dengan panjang buah.
  • Koro gajih berbuah pipih, koro ini mempunyai bentuk buah yang kecil, panjang dan ramping, sehingga di daerah Jawa Barat sering disebut dengan istilah ‘roaj cingir’. Panjang buahnya sekitar 7 cm dengan lebar 2 cm, berwarna putih dan mempunyai letak biji yang melintang pada panjang buahnya.

Pada masa pertumbuhannya, kedua jenis koro ini (hijau dan putih) dapat dibedakan dengan meneliti bentuk daunnya. Pada koro hijau, daunnya berbentuk agak halus, berwarna hijau, keel (layar)-nya tidak membeli secara spiral, tapi kaku serta condong berbentuk lurus. Sedangkan untuk koro putih, daunnya kasar berwarna hijau muda atau keputih-putihan dan layarnya membeli secara spiral.

Untuk jenis koro pedang (koas) dikenal dua macam yakni:

  • Koro parasman (Canavalia ensmormis L), merupakan jenis koro yang berbatang pendek dan setengah merambat. Berbeda dengan roaj, buah koas ini tidak beracun dan enak dimakan. Panjang buahnya sekitar 30 cm dengan lebar 3 cm serta berbiji panjang.
  • Koro bakul (Canavalia gladiata), batang dari koro ini panjang sekali serta membelit, panjang buahnya 50 cm, dengan lebar sekitar 5 cm. Buah dari koro ini dikenal banyak sekali mengandung racun dan tidak dapat dimakan mentah seperti koro parasman. Jika dimakan mentah dapat menyebabkan mabuk atau meninggal apabila berlebihan. Untuk menghilangkan racunnya, biji koro harus direbus dan direndam dalam air yang mengalir selama 2 sampai 4 hari. Karena itu buah koro bakul bisaanya dipetik setelah berumur tua untuk diambil bijinya, yang berwarna merah sampai kuning kecoklatan. Untuk daerah Jawa Barat bisaanya koro yang banyak ditanam adalah koro parasman. Sedang di Jawa Timur dan Tengah lebih banyak ditanam jenis koro bakul.
Baca Juga :  Waspada! Ancaman Tungau Di Musim Kemarau

2. Budidaya Koro

sayur sayuran dan manfaatnya, sayur sayuran sehat, sayur sayuran dalam bahasa inggris, gambar sayur sayuran, sayur sayuran yang baik untuk ibu hamil, sayur sayuran yang baik untuk diet, sayur sayuran dan khasiatnya, sayur sayuran penambah darah

Tanaman sayuran koro, yang buahnya jarang ditemukan di pasaran
gambar : wikipedia.org

Untuk membudidayakan kedua jenis koro ini (roaj dan koas), tidaklah terlampau sulit, ia dapat diperbanyak melalui biji. Hanya saja antara roaj dan koas ada sedikit perbedaan dalam hal cara tanam. Untuk koro bisaa (roaj), tanah yang telah akan ditanami cukup dicangkul sedang-sedang saja dan setelah diratakan baru dibuatkan lubang-lubang dengan menggunakan tongkat. Jarak antara lubang yang satu dengan yang lainnya sekitar 20 – 30 cm, dengan jarak antara barisan lubang 60 cm. untuk tiap lubang tersebut ditanam 2 – 3 biji koro, kemudian tutup lubang itu dengan tanah tipis. Untuk luas lahan sekitar 1 ha, bijo koro yang diperlukan sekitar 20 kg. Pemberian pupuk kandang atau kompos, ada baiknya hanya diberikan apabila tanah tempat menanam koro kering, sedangkan untuk tanah yang subur atau tanah bekas tanaman sayuran, pemberian pupuk tersebut tidak perlu dilakukan.

Untuk memperoleh hasil yang baik, pemberian pupuk buatan yang berupa campuran ZA dan DS dapat diberikan saat tanaman koro mencapai usia 20 hari setelah tanam. Perbandingan pupuk tersebut adalah 1 : 3 dan diberikan sebanyak 4 gram untuk tiap tanaman.

Pada tanaman yang baik, biji roaj akan tumbuh setelah berusia 6 hari. Ajir-ajir (lanjaran) dari bambu untuk tempat membelit roaj, seperti halnya pada kacang panjang. Bisa dibuat setelah tanaman mencapai tinggi sekitar 10 cm. Tinggi ajir-ajir tersebut usahakan jangan lebih dari 2 meter dan untuk roaj yang ditanam dekat pohon besar seperti turi, lamtoro dan sebagainya. Ajir-ajir tidak perlu dibuat tapi cukup ditambahkan pada tanaman tersebut.

Baca Juga :  Bertanam Keprok Siem

Setelah tanaman berumur 3 – 3½ bulan, buah pertama baru bisa dipetik dengan cara memetik buah-buah (polong) yang masih muda, yang perlu diperhatikan dalam pemetikan buah ini adalah jangan sampai terlambat memetik, sebab buahnya akan menjadi liat, berserat dan tidak enak dimakan. Hasil yang dapat diperoleh dalam setiap Ha lahan roaj sekitar 20 kwintal.

Untuk koro pedang atau koas, cara pembudidayaannya hampir sama dengan roaj, hanya saja untuk jarak antar lubang agak berbeda yakni, 40 – 50 x 50 cm untuk koro parasman dan 40 x 60 cm untuk koro bakul. Pada koro parasman tidak perlu diberi ajir-ajir perlu dilakukan seperti pada roaj.

Berbeda dengan roaj, untuk menanam koro pedang ini dibutuhkan sekitar 80 kg biji koro untuk setiap Ha-nya. Disamping itu pemberian pupuk buatan yang berupa campuran ZA, DS dan ZK dengan perbandingan 1 : 3 : 1 perlu diberikan untuk memperoleh hasil yang tinggi. Pemberian pupuk tersebut diberikan sebanyak 5 gram untuk tiap tanaman dengan cara meletakkannya di kiri kanan tanaman sejauh 5 cm dari lubang tanaman dan diberikan bersamaan waktu tanam.

Buah muda koro pedang ini baru dapat dipetik setelah tanaman berumur 3 bulan, sedangkan buah tuanya 5 bulan setelah tanam. Pada tanaman yang tumbuh baik, koro parasman dapat menghasilkan sekitar 20 kwintal buah muda tiap hekarnya dan pada koro bakul sekitar 6 kwintal biji kering tiap hektarnya.

Kegunaan dari kedua koro ini selain untuk sayuran, dilalap untuk dibuat tempe dan lain sebagainya. Dapat juga berfungsi sebagai obat gatal-gatal, setelah dicampur dengan kapur sirih. #DR

Loading...
error: