Ihwal Guru yang Mulia

Di negeri antah berantah orang kembali marah karena merasa guru junjungannya dihina. Hebohlah semua orang karena hawa musim penghujan yang mestinya adem dijerang ontran-ontran.

Andai saja para patriot di negeri antah berantah itu mau mengirim anggota parlemennya untuk studi banding ke Indonesia, mereka bakal terkesima menyimak paparan wakil rakyat dan para bestari di sini tentang hebatnya pemikiran para sesepuh bangsa Indonesia dalam menjunjung tinggi guru dan menjaga kemuliaannya.

Tapi untuk meraih posisi mulia, para guru pandita itu juga musti paham kewajibannya. Guru, tokoh masyarakat, pembesar, luminaries dan dignitaries negeri antah berantah itu musti belajar tentang beberapa kredo yang merupakan warisan budaya adi luhung bangsa kita.

Hendaknya guru, sesepuh, pamong atau siapa pun dia yang menempatkan diri sebagai pemimpin orang banyak, paham pentingnya konsep-konsep khas Indonesia ini:
(1) Ing ngarsa sung tuladha (tampil di depan memberi teladan nyata dan konsisten, menebarkan contoh yang baik, bukan pamer watak manja dan kekanakan-kanakan, gampang tersinggung dan ngamukan. Dia itu jadi pusat perhatian, makanya jangan sembarangan).
(2) Ing madya mangun karsa (di tengah-tengah membangun prakarsa atau menyebarkan semangat yang baik, bukan memanas-manasi orang dan meneror khalayak dengan dogma yang monolitik. Dia harus menyemangati para pengikutnya menciptakan kehidupan yang layak dan bermartabat, jangan membiarkan bangsanya terus terpuruk karena kebodohan).
(3) Tut wuri handayani (kalau berada di belakang harus tetap mendorong dan memberdayakan orang-orang yang jadi asuhannya agar mau mawas diri, mengevaluasi keadaan, dan tidak malu mengakui kalau dia salah atau kepleset omongan. Koreksi diri dan mengaku salah secara jantan, bukan ngarang argumen atau balapan saling melaporkan).

Baca Juga :  Resep Hidup Tenang dan Semangat Nomor 99 - 103

Jangan lupa juga pepatah bangsa kita: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru pura-pura tolol, maka muridnya akan menghalalkan segala kekonyolan.

Yang jadi pengikut, murid atau mereka yang menjunjung tinggi seorang guru, pamong atau tokoh panutan juga musti paham makna dari adagium ini: “mikul dhuwur mendem jero.” Literally artinya adalah ‘memikul tinggi-tinggi dan mengubur dalam-dalam.’ Artinya tidak segampang yang dikira orang.

Mikul duwur artinya bersikap hormat dan memuliakan, itu kalau yang bersangkutan memang punya kapasitas dan ahlak lurus yang memenuhi kriteria untuk dimuliakan. Tidak wishy-washy alias plin-plan, tidak suka lempar batu sembunyi tangan memanfaatkan kedudukan, tidak gemar main hanky-panky alias kong-kalikong dengan penjahat demi tujuan jangka pendek yang bermuara pada kekuasaan.

Kalau guru, pamong atau junjungan bisa melepaskan dirinya dari vested interests dan tidak memanfaatkan fanatisme pengikutnya, monggo kita junjung setinggi-tingginya dia.
Jangan lupa pula kepada dia kita harus mendem jero alias mengubur dia dalam-dalam.

Mengubur dalam-dalam itu bukan membabi buta menyembunyikan cela dan aibnya demi memoles pamornya yang berantakan, bukan mbah!!! Mendem jero itu berani menegur atau mengoreksi dia kalau orangnya salah, jangan sampai ada tokoh salah atau ngeles tapi semakin ditimang-timang seolah dia immune dari kesalahan, itu ngawur bos! Imam shalat yang error menghitung rakaat, salah bacaan atau keliru gerakan saja wajib diingatkan, apa lagi pimpinan perserikatan yang mustinya jadi portal kejayaan peradaban, bangsa atau agama. Gitu lho boss. Tolong orang-orang dari negara jiran itu diingatkan ya boss: musuh mereka itu kepicikan dan fanatisme tanpa kompromi. Ajari mereka, biar mereka bisa hebat seperti negara kita yang bangsanya soleh, toleran, adil makmur berkarakter, amiiin allohuma amiiin… Silakan share dengan niat yang bersih.

Ihwal Guru yang MuliaArif Subiyanto

Loading...
error: