Meski Bergaji Puluhan Juta, Fakta Ini Bikin Kamu Ragu untuk Daftar Sekolah Pilot!

Saat masih kecil, banyak sekali anak laki-laki yang bercita-cita jadi pilot. Kegemaran mereka pada pesawat terbang dan keseruan menjelajah angkasa, jadi alasan utama.

Namun, seiring waktu berjalan, jiwa anak-anak yang terkikis membuat mereka lebih realistis. Profesi pilot menjadi incaran, karena faktor gaji yang “kabarnya” menggiurkan.

cara menjadi pilot dengan biaya murah, syarat menjadi pilot bagi pria dan wanita, cara menjadi pilot di luar negeri, syarat menjadi pilot garuda, menjadi pilot setelah sarjana, menjadi pilot harus pintar, menjadi pilot yang baik, jadi pilot atau dokter, apakah menjadi pilot harus pintar

Tidak salah. Gaji pilot pada tahun 2017, memang mencapai puluhan juta dan hampir menyamai gaji presiden RI. Captain senior di maskapai sekaliber Garuda Indonesia bahkan dua kali lipat gaji Pak Jokowi.

Daya tarik berupa prestise, pekerjaan yang menantang, dan masa depan yang menjanjikan, membuat pendaftar sekolah pilot membludak. Mereka menggantungkan harapan demi impian dan penghidupan. Apalagi, biaya sekolah pilot swasta mencapai 500 juta – 1 miliar. Angka yang fantastis, bukan?

Wajar jika para pilot muda lulusan baru, berharap bisa segera mengembalikan “modal” tersebut. Hitung-hitung, dengan gaji mencapai puluhan juta, dalam beberapa tahun saja, mereka sudah bisa menutupi biaya sekolah tersebut. Namun, benarkah semudah itu?

Pasalnya, tahun 2017 ada 1200 orang lulusan sekolah pilot yang menganggur dan kebingungan mencari pekerjaan. Jumlah ini naik 30% dari tahun 2016, yang sebanyak 900 orang. Lisensi yang mereka dapatkan dari Kementerian Perhubungan belum cukup meyakinkan industri untuk merekrut para lulusan baru.

Baca Juga :  Hati-Hati Penipuan Modus Baru, Cermati Kode Aneh Pada Struk ATM Ini!

Terlebih, daya serap maskapai yang ada, tidak sebanding dengan jumlah pilot berlisensi. Pilot-pilot muda ab initio a.k.a pemula ini juga kesulitan melamar pekerjaan lain dengan ijazah dan kompetensi dari sekolah penerbangan. Akibatnya, banyak yang banting setir jadi pengusaha dan menerima nasib tanpa bisa menyalahkan siapa-siapa.

Apalagi, saling tuding soal jumlah pilot pengangguran ini masih semrawut. Kendati Kementerian Perhubungan mendesak industri untuk menyerap lulusan sekolah pilot, namun maskapai enggan merekrut pilot tanpa jam terbang tinggi dan rating yang belum mumpuni. Sementara di luar sana, Kementerian Perhubungan juga tertuding menjadi biang kerok tingginya jumlah pengangguran dari sekolah pilot.

Usut punya usut, ternyata Kementerian Perhubungan yang pernah salah prediksi perkara kebutuhan pilot di Indonesia. Pemberian izin sekolah pilot swasta, menjadi pemantik yang memberi harapan bahwa ada kebutuhan yang tinggi terhadap pilot di Indonesia. Dan, di saat ribuan orang merasa diberi angin segar, publik dikejutkan dengan tiga maskapai: Adam Air, Batavia Air, dan Merpati Nusantara Airlines yang gulung tikar.

Baca Juga :  5 Hal yang Perlu Kamu Pahami Tentang Lampu Hazard!

Jadilah pilot-pilot pada tiga maskapai tersebut pindah ke maskapai lain yang mau menerima mereka. Sementara, lulusan baru masih harus bergelut mengambil lisensi, mengikuti seleksi, dan mengisi penerbangan-penerbangan perintis di pedalaman bangsa.

Lalu, di saat taruna-taruna penerbang ini menapaki karir dengan susah payah di tengah persaingan dengan pilot asing yang rela dibayar murah, ada lagi yang menuduh bahwa mereka enggan “mengeluarkan keringat” dan tidak kompeten. Padahal, saat ada seleksi penerbangan perintis ke Papua, ada ratusan orang yang mendaftar. Kalau soal kompetensi, bukanlah lisensi juga telah diberikan dan dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan?

Hm, rumit ya. Bagaimana menurut kalian? Masih mau jadi pilot? Menjadi Pilot di Indonesia #NSP

Loading...
error: