5 Penemuan Ilmuwan Muslim yang Berperan Penting bagi Peradaban Dunia

ngasih.com. Pasca tragedi 911, tersebar stereotip yang kurang tepat dan tidak menyenangkan tentang umat Islam. Muslim dicap sebagai teroris. Doktrin tersebut, bahkan disisipkan pada kegiatan belajar mengajar sekolah dasar di Amerika. Singkat kata, islamophobia merajalela, sehingga membuat persepsi yang tidak benar tentang pribadi dan kehidupan seorang muslim.

Lantas, untuk memperbaiki kondisi chaos dan kecurigaan yang mengganggu hidup muslim/muslimah Amerika, muncul kampanye tandingan. Tidak hanya dilakukan karena agama, melainkan juga naluri sebagai manusia. Ya, salah satunya diwujudkan dalam kutipan film box office, “My name is Khan, and i am not a terrorist”.

Sudah seharusnya, dunia membuka mata dan pikiran, agar tidak salah duga. Islam yang dianggap agama bar-bar, nyatanya memiliki warisan yang membangun peradaban. Ilmu-ilmu yang berkembang pada masa kejayaan Islam masih memberi manfaat sampai sekarang, meski banyak yang telah dibumihanguskan dan ditenggelamkan.

Berikut ini segelintir dari banyak sekali penemuan penting dan warisan kebudayaan para ilmuwan muslim bagi peradaban dunia:

1. Sabun, penopang hidup higienis

Bagi umat Islam, kebersihan merupakan sebagian dari iman. Dialah, Ar-Razi asal Persia, yang berjasa menemukan komposisi dan formula untuk membuat sabun. Seorang ilmuwan bernama Abu Al-Qasim Al-Zahrawi a.k.a Abulcasis, bahkan menulis kitab Al-Tasreef yang menjelaskan cara dan metode pembuatan sabun. Produksi sabun berkembang dan dikenal pada masa kejayaan Islam di abad ke-7 M.  Sementara itu, dalam buku A History of Industrial Chemistry, Sherwood Taylor (1957) menyatakan bahwa dunia Barat baru menguasai pembuatan sabun di abad ke-18 M.

Baca Juga :  Sharkbanz, Penangkal Hiu bagi Perenang dan Peselancar

2. Parfum, sebagai pewangi tubuh

Masih dalam bidang kosmetik, cendekiawan muslim bernama Jabir Ibnu Hayyan (721-815 M) dan Al-Kindi (805-873 M), menulis sebuah kitab berisi formulasi dan metode pembuatan parfum, berjudul  Kimiya’ Al-‘Itr.

Jabir Ibnu Hayyan, menemukan dan menguasai teknik pembuatan parfum, yaitu penyulingan (distilation), penguapan (evaporation), dan penyaringan (filtration). Lantas, Al-Kindi menyempurnakan teknik tersebut  hingga akhirnya, mendapatkan 107 metode dan formulasi untuk memproduksi pafum dengan berbagai alat penunjang.

3. Universitas dan Prosesi Wisuda

Konsep institusi pendidikan, berangkat dari masjid yang digunakan sebagai tempat untuk menuntut ilmu dan segala aktivitas pencerdasan umat. Lalu, seiring dengan perkembangan peradaban Islam, dibuatlah madrasah. Pada tahun 859, didirikan universitas pertama di dunia bernama al-Qarawiyyin, di Maroko oleh cendekiawan perempuan, Fatima al-Fihri. Perguruan tinggi ini pula yang pertama kali memberi ijazah dan melakukan prosesi wisuda.  Tradisi keilmuan tersebut, lantas diadaptasi oleh universitas di Bologna, Italia dan Oxford di Inggris, pada abad ke-11 dan ke-12.

4. Algoritma, sebagai dasar komputerisasi

ilmuwan islam dan penemuannya, ilmuwan muslim yang menemukan aljabar dan logaritma, ilmuwan islam penemu angka nol, ilmuwan islam beserta penemuannya, nama nama ilmuwan islam laki laki, ilmuwan islam masa lampau, ilmuwan islam pada abad pertengahan, ilmuwan islam sedunia, ilmuwan islam yang terkenal di dunia, ilmuwan islam yang berpengaruh di dunia, ilmuwan islam yang menemukan angka nol, ilmuwan islam penemu angka 0

Generasi milenial wajib berterimakasih pada ilmuwan muslim yang satu ini. Melalui intelektualitas Muhammad Bin Musa al-Khawarizmi (780-850), kita mengenal metode perhitungan yang disebut Aljabar. Ilmu tersebut dituliskan dalam kitab fenomenal, Al-Kitāb al-Mukhtaṣar fī Hisāb al-Jabr wal-Muqābala, yang artinya Buku Ringkas Perhitungan Aljabar dan Keseimbangan.

Baca Juga :  Inilah 5 Bisnis Online Tanpa Modal yang Wajib Kamu Coba

Di Eropa, Al-Khawarizmi dikenal dengan nama Algoritmi, setelah Gerald de Cramona menerjemahkan bukunya ke dalam bahasa Latin. Metode perhitungan dan penyelesaian masalah yang besutan Al-Khawarizmi ini lantas menjadi konsep dasar algoritma komputer.

5. Kamera, konsep dasar fotografi

Cendekiawan muslim bernama Ibnu al-Haytham, dikenal sebagai orang pertama yang menemukan alat pemroses cahaya. Konsep yang menjadi induk segala kamera ini, ia dapatkan ketika menjadi tahanan rumah pada masa Dinasti Syah Fatimiyyah. Dalam momen tersebut, Al-Haytham fokus meneliti konsep dan cara kerja dari kamera obscura a.k.a kamera lubang jarum.

Dengan mengetahui warisan luar biasa para ilmuwan muslim zaman dahulu, umat Islam diharapkan bisa lebih bersemangat dan mendapat inspirasi. Karena, dalam Islam, terdapat ajaran itqan, yaitu bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan suatu urusan yang dapat memberi manfaat, bukan hanya kepada manusia, melainkan alam semesta. Hamasah! 5 Ilmuwan Muslim Zaman Dulu Beserta Bidangnya. -#NSP

Loading...
error: