BUDIDAYA KODOK BULLFROG - ngasih.com

BUDIDAYA KODOK BULLFROG

BUDIDAYA BULLFROG

budidaya kodok sawah, budidaya kodok katak, makalah budidaya kodok, budidaya kodok ijo, contoh budidaya kodok

Budidaya Kodok Bullfrog
gambar : youtube.com

Sampai saat ini permintaan importir luar negeri terhadap komoditas kodok dari Indonesia terus meningkat, sementara nilai ekspornya malah menurun karena kurangnya bahan baku dari alam. Budidaya bullfrog menjadi alternatif yang baik sekaligus peluang bisnis untuk memenuhi kebutuhan ekspor tersebut dan ini bisa dimulai dalam skala rumah tangga.

Sejak tahun tahun 90-an, kodok sudah menjadi primadona ekspor perikanan setelah udang beku di Jawa Timur, yang merupakan sentra budidaya kodok terbesar di Indonesia. Saat itu ekspor paha kodok beku mencapai 1.232.230 ton senilai US$ 4.959.054,65. Pada tahun 1995, ekspor komoditas yang sama tercatat 1.129.211 ton senilai US$ 4.800.756. ini berarti penurunan sebesar 8,28%. Hal tersebut disebabkan hasil tangkapan kodok di alam sebagai pendukung bahan baku ekspor terus menurun.

Budidaya bullfrog merupakan salah satu alternatif pemenuhan bahan baku kodok untuk ekspor. Pembudidayaan bullfrog tidak selalu memerlukan tempat yang luas. Usaha ini dapat dilakukan di halaman belakang rumah menggunakan sarana yang tidak terlalu mahal. Dengan teknologi sederhana, halaman bisa termanfaatkan sekaligus meraih tambahan penghasilan.

1. Tiga paket

Usaha budidaya bullfrog (Rana catesbelana) terbagi tiga berdasarkan tingkat kesulitannya : pembesaran percil sampai ukuran konsumsi; pemeliharaan cebong hingga menjadi percil; memproduksi bullfrog konsumsi sejak memijahkan induk. Dua paket pertama merupakan sistem budidaya skala rumahtangga yang diajarkan pada kursus yang dikelola Peter “kodok” di Desa Mojorejo, Kecamatan Djunrejo, Batu, Malang.

Paket pertama merupakan teknologi budidaya kodok sederhana yang ditujukan untuk latihan bagi pemula dan calon peternak bermodal kecil. Pada paket ini diajarkan pemeliharaan percil sampai menjadi kodok ukuran konsumsi atau siap jual. Sarana dan prasarana pendukung paket satu mudah dibuat dan tidak mahal. Kegiatan budidaya sepenuhnya dilakukan oleh peserta kursus yang sekaligus sebagai tenaga kerja. Untuk lokasi budidayanya peternak dapat memanfaatkan pekarangan belakang rumah, sehingga sistem ini lebih tepat disebut peternakan skala rumah tangga.

Baca Juga :  10 Perusahaan Terkaya di Dunia Saat ini, Ternyata Bukan Google atau Samsung!

Paket kedua berkonsentrasi pada cara memelihara cebong sampai percil yang digunakan untuk bibit pembesaran. “Dalam urutan budidaya kegiatan ini adalah yang pertama dilakukan, tapi di kursus menjadi paket dua, karena penanganannya lebih sulit daripada paket satu,” jelas Peter. Di sini peternak diajar membesarkan cebong sampai menjadi percil selama 3 minggu. Waktu pemeliharaannya sendiri makan waktu 3 – 4 bulan.

Paket ketiga meliputi kegiatan budidaya kodok secara keseluruhan, mulai dari memijahkan induk, memelihara cebong sampai percil, serta membesarkan percil sampai mencapai ukuran konsumsi. “Peternak yang melakukan budidaya paket tiga ini dibebani tanggung jawab untuk mempertahankan mutu bibit kodok yang baik secara genetis. Bila salah dalam memasangkan induk, keturunannya mungkin mempunyai berbagai kelemahan, di antaranya rentan terhadap serangan penyakit,”  papar Peter yang membuka kursus sejak bulan Oktober tahun lalu. Lantaran sulitnya tanggung jawab peternak, paket ini tidak dianjurkan untuk dibuka secara umum.

2. Minimal sepuluh kolam

Budidaya bullfrog skala rumah tangga membutuhkan minimal 10 buah kolam pemeliharaan. Kolam pembesaran percil berkuran 1,5 x 2 m dibuat dari beton setinggi 15 cm. tinggi kolam ini kemudian disambung kasa sampai setinggi 60 cm. salah satu sisi dasar kolam dirancang lebih dalam sekitar 2 –  3 cm untuk menciptakan dasar kolam yang sebagian terendam air, sebagian kering. Hal ini sesuai habitat kodok fase percil yang hidup di dua alam – di darat dan di air. Ia tidak menyukai hidup di salah satu habitat terus-menerus karena bisa berakibat buruk baginya. Misalnya, bila terendam terus percil akan dihinggapi penyakit bubble disease alias perut kembung.

Kolam pemeliharaan dilengkapi saluran pembuangan dari pipa PVC. Untuk menghindari penas matahari yang terlalu terik, kolam sebaiknya diberi naungan bambu atau rumbia. Sumber airnya bisa berupa air sumur (air tanah) atau air dari aliran sungai. Berdasarkan pengalaman Peter, air dari aliran sungai lebih baik untuk pembesaran percil.

Baca Juga :  10 Merek Pakaian Terbaik di Dunia

Untuk lebih menghemat biaya, bentuk kolam disusun secara baterai (seri). Satu kolam bisa diisi 200 ekor percil atau 1.000 ekor cebong. Apabila digunakan untuk pemeliharaan cebong, dasar kolam dilapisi plastik supaya volume air tetap utuh dalam kolam. Cebong adalah fase pertumbuhan kodok yang masih menggunakan insang sebagai alat pernafasan tunggalnya, sehingga tanpa air cebong akan mati. Kolam cebong juga harus diaerasi menggunakan blower untuk menyuplai oksigen ke dalam air.

3. Diberi pakan buatan

budidaya kodok sawah, budidaya kodok katak, makalah budidaya kodok, budidaya kodok ijo, contoh budidaya kodok

Artikel Budidaya Kodok

Meskipun menggunakan teknologi sederhana, pemeliharaan kodok sistem ini tidak tergantung lagi pada alam. Kegiatannya terdiri dari perawatan kolam, penggantian air dan pemberian pakan. Kolam dijaga keberihannya dari pertumbuhan lumut. Lumut disikat menggunakan sikat kawat. Air kolam untuk cebong diganti tiga hari sekali, sedangkan percil cukup dua kali. Penggantian air dilakukan sebelum pemberian pakan.

Pakan yang diberikan berupa pakan buatan khusus untuk kodok. “Pakan yang banyak dikenal dan digunakan peternak kodok di sini produksi PT Siar,” ujar Herman, salah satu “alumnus” lembaga kursus milik Peter. Pakan itu terdiri dari beberapa ukuran yang sesuai perkembangan umur kodok, misalnya PK 70 untuk cebong; PK 72, cebong putus ekor sampai percil umur satu bulan; PK 74, percil satu sampai dua bulan; PK 75, percil 2 – 3 bulan; PK 75 SB, percil 3 – 4 bulan; dan PK 76, calon induk dan induk. Di antara keenam jenis pakan PT Siar itu, PK 70 – PK 75 yang banyak digunakan peternak berskala rumah tangga.

Salah satu masalah yang menghambat budidaya sistem ini adalah penyakit bakteri Aeromous. Bakteri ini menyerang kodok pada fase percil hingga dewasa. Peternak biasanya melakukan pencegahan dengan memberikan antibiotik super tetra yang dicampurkan dalam pakan. Selain, mereka juga memberikan garam ke dalam air agar kodok tidak terinfeksi penyakit.

Baca Juga :  5 Perusahaan Asuransi Terbaik Terbesar di Dunia 2017

Kodok yang memperlihatkan gejala penyakit harus segera dipisahkan untuk menghindari penularan. Peternakan Herman hingga kini belum pernah terjangkit penyakit yang parah, karena ia selalu menomorsatukan faktor kebersihan kolam. Kenibalisme juga merupakan sifat kodok yang bisa menyebabkan tingginya mortalitas. Untuk mengurangi tingkat kenibalisme, pemberian pakan dijaga jangan sampai terlambat dan kepadatan populasinya per kolam dikurangi.

4. Contoh Analisa Keuntungan

Pembesaran percil sampai menjadi kodok konsumsi perlu waktu 4 – 5 bulan. Bobot kodok konsumsi berkisar 250 – 300 gram/ekor. Bila dalam tiap kolam ditebar sebanyak 2.000 ekor dan tingkat kehidupannya 90%, maka akan didapat sekitar 1.800 ekor atau setara dengan 450 kg. kalau harga per kilogramnya misalkan Rp. 6.500,00, hasil penjualannya Rp. 2.925.000. Jadi dari satu siklus pertama paket ini, peternak akan memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp. 823.500.

“Biaya produksi rata-rata Rp. 5.000/kg, jadi masih untung Rp. 2.000,”  papar Peter. Usaha ini dapat ditingkatkan ke skala yang lebih besar, misalnya tiga atau empat set paket satu. Bila waktu penebaran dilakukan setiap selang satu bulan, hasilnya dapat dipanen 1 – 1,5 bulan sekali.

Usaha pembenihan (paket II) dari cebong sampai percil juga cukup menguntungkan. Dengan penebaran cebong sebanyak 10.000 ekor dan tingkat kehidupan 80%, peternak akan mendapatkan percil sebanyak 8.000 ekor. Masa pemeliharaannya selama 3 – 4 bulan. Harga percil Rp. 300 – Rp. 400/ekor. Nilai jualnya mencapai Rp. 2.800.000. dengan demikian keuntungan bersih satu siklus pertama kurang lebih sebesar Rp. 738.000.

Loading...