Kebahagiaan yang sejati itu ada di dalam jiwa - ngasih.com

Kebahagiaan yang sejati itu ada di dalam jiwa

Untuk Anda pertimbangkan dan renungkan.

Jangan mudah heran, jangan langsung kagum, jangan suka iri, kalau melihat pasangan yang (seolah-olah) hidupnya bahagia. Jangan silau melihat pasangan yang (seolah-olah) rukun, serasi, kompak dan manis. Jangan pula langsung merasa down dan rendah diri kalau melihat pasangan yang (seolah-olah) hidupnya agamis, moralis, dan sempurna harmonis.

Awal penyakit jiwa dan petaka hidup berpangkal dari penyikapan atau persepsi. Biasakan mengelola dan mengendalilkan persepsi anda, jangan buru-buru menilai, jangan tergesa menyimpulkan, dan jangan segan meragu dan mempertanyakan kebenaran penglihatan Anda.

Kita kagum pada kilau mutiara, tapi hampir tak pernah membayangkan keruhnya dasar laut dan pekatnya lumpur tempat si kerang berada. Kita terpukau pada hal-hal yang memesona, tapi jarang memikirkan besarnya ongkos dan pengorbanan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.

Semakin hebat parade pasangan mesra yang Anda saksikan, semakin besar pula pengorbanan yang harus mereka bayarkan. Mustahil ada kerukunan yang tercipta karena kedua belah pihak sama-sama waras otaknya. That’s not the working of nature, believe me. Sebagian besar kedamaian yang Anda saksikan adalah hasil kompromi, buah negosiasi, atau efek dari sebuah transaksi. Untuk menampilkan kesan rukun seiring sejalan, harus ada ego yang dikorbankan, harus ada gejolak yang sekuat tenaga diredam.

Kita sering terpukau oleh apa yang disebut ‘halo effect’–pesona instan yang tercipta dari keglamoran. Melihat pasangan rangkulan di profile picture kita langsung ngiler pengin ketularan. Melihat foto keluarga yang seolah-olah sakinah-mawaddah-warrahmah (bapak ibu senyum lebar diapit putra-putri yang semua bertoga sarjana dengan leher dipenuhi medali dan gordon, dan ketiak kiri-kanan mengempit lusinan piala dan diploma penghargaan) kita langsung ndoweh lupa daratan… Semua itu bisa palsu, bisa sungguhan.

Baca Juga :  10 Merek Produk Olahraga Terbaik dan Terkenal Di Dunia

Jangan bingung membaca tulisan saya kali ini. Saya tidak meleceh orang yang seolah-olah atau sungguhan berbahagia. Saya hanya ingin meyakinkan diri sendiri dan anda semua: kebahagiaan yang sejati itu ada di dalam jiwa, pikiran dan hati kita. Kalau Anda tidak bisa mempertontonkannya lewat jejaring sosial atau media, tak usah gundah gulana. You are on the right track. Just make sure that happiness of yours lasts longer and never let go.

Kebahagiaan yang sejati itu ada di dalam jiwaArif Subiyanto

Loading...