MANAJEMEN PENYAKIT UDANG ALA THAILAND - ngasih.com

MANAJEMEN PENYAKIT UDANG ALA THAILAND

CARA MENCEGAH MENGATASI PENYAKIT UDANG ALA THAILAND

Tambak intensif dengan padat penebaran 25 ekor/m2 atau lebih, sering mengakibatkan kondisi kesehatan udang yang buruk dan banyak kasus penyakit. Hal ini terjadi khususnya pada pertambakan luas dengan petak saling berdekatan, dan tambak-tambak tua. Berbekal manajemen yang baik, petambak Thailand berhasil menangkal kendala penyakit. Tidak heran jika kini negara itu mampu memproduksi 200.000 ton udang per tahun.

Pertambakan di Thailand lima tahun terakhir kian maju melampaui Indonesia, meskipun di tahun beberapa tahun lalu dihantam yellow-head disease. Dari pengalaman mereka, pencegahan masih tetap merupakan pilihan terbaik dalam manajemen penyakit. Penerapan manajemen yang tepat harus berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah, seperti pengelolaan fitoplankton, pakan, kualitas air, serta pembersihan dasar kolam secara teliti dan teratur. Semua ini sangat mengurangi kerugian akibat penyakit dan penyebarannya. Hal tersebut diungkapkan Chalor Limsuwan dalam Technical Bulletin terbitan American Soybean Association.

1. Pengelolaan Plankton dan Kualitas Air

mengatasi penyakit udang windu, menanggulangi penyakit udang vaname, penyakit udang vannamei, penyakit pada udang windu, early (mortality syndrome/EMS)

Penyakit udang
gambar : facebook.com/public/Tôm-Sú

Untuk mencapai ukuran sesuai permintaan pasar, udang windu dipelihara selama 4-5 bulan. Agar pertumbuhannya bagus, petambak mutlak membuat kondisi lingkungan yang sesuai bagi udang. Misalnya pengelolaan fitoplankton dan kualitas air.

Kerapatan populasi fitoplankton selalu diusahakan pada tingkat kecerahan 30-45 cm selama masa pertumbuhan udang. Caranya, dengan penggantian air dan pemupukan. Jika kecerahan kurang dari 30 cm, fitoplankton cenderung mudah mati dan dapat menurunkan jumlah oksigen terlarut. Sebaliknya, kecerahan di atas 45 cm (terlalu cerah) mengganggu pertumbuhan alga bentos, sehingga alga tersebut mati dan membusuk di dasar kolam. Selain itu, air yang terlalu cerah mengilangkan nafsu makan udang, yang berakibat menghambat pertumbuhan tubuhnya dan memungkinkan terjadinya overfeeding (penumpukan sisa pakan di tambak).

Pupuk yang diberikan sebanyak 3 kg/ha dengan perbandingan NPK (16-20-) tambak. Stabilitas plankton didukung dengan pemberian CaCO3 atau dolomit, di samping fungsi utamanya sebagai penstabil pH. Menurut Akhmad Rukyani, Ph.D, ahli udang di Puslitbangkan, Slipi, Jakarta, dosisnya 100-300 kg/ha/aplikasi, 2 kali seminggu.

Baca Juga :  Kumbang Penggerek Batang

2. Pond Bottom Management

“Petambak Thailand sangat memperhatikan kebersihan dasar tambak. Mereka menerapkan pond bottom management”, papar Rukyani yang dua bulan lalu berkunjung ke sana. Pasalnya, udang windu menghabiskan hampir seluruh hidupnya di dasar tambak. Di dasar tambak akan terakumulasi endapan sebagai akibat kikisan pematang tambak, atau air masuk, ganggang mati, kelebihan pakan, dan kotoran udang. Seluruh komponen kotoran ini tersebar di seluruh penjuru tambak, dan tidak semuanya bisa terbuang keluar. Untuk itu perlu senralisasi endapan dengan cara menempatkan kincir air pada posisi yang tepat.

Petambak Thailand tidak tanggung-tanggung dalam investasi peralatan tambak, khususnya kincir untuk aerasi berat. Biasanya, petambak Indonesia hanya memasang 4-6 buah kincir/ha, sedangkan mereka berani memasang 8 buah. Kincir-kincir berkekuatan 2 hp itu ditempatkan 5 meter dari tepi tambak, saat fase awal pertumbuhan udang selama 2,5 bulan. Setelah itu, kincir dipindahkan lebih tengah sejauh 8 meter dari garis tepi agar kotoran terkumpul di bagian tengah. Selanjutnya, kincir-kincir dioperasikan secara simultan untuk mendapatkan arus putar yang tetap.

3. Diagnosis tepat

Hal lain yang sangat penting dlam budidaya sistem intensif adalah diagnosis penyakit. Ini pun mesti dilakukan dengan cepat dan akurat, sehingga langkah-langkah pengendalian bisa segera direncanakan.

Pemeriksaan untuk menentukan penyakit tidak bisa dilakukan hanya bertumpu pada gejala luar. Sebagia contoh, udang terbukti kena Zoothamnium pada tubuh dan insangnya atau bakteri di dalam hepatopankreasnya. Pemecahan masalah ini dianjurkan dengan formalin untuk Zoothamnium-nya atau antibiotik bagi bakteri. Namun, cara ini bisa jadi tidak efektif. Karena, ternyata udang terserang banyak penyakit yang diakibatkan oleh berbagai faktor.

Untuk menghindari pengendalian yang tidak efektif, sebaiknya dilakukan juga pengamatan terhadap faktor-faktor terkait dalam metode budidaya. Termasuk di dalamnya ialah kecerahan air, laju pergantian air, kehadiran alga bentos, lamanya air laut pasang atau surut yang masuk ke tambak, kekeruhan air karena endapan, dan konsumsi pakan.

Baca Juga :  5 Tips dan Cara Memulai Bisnis Bengkel Motor dan Mobil

4. Gejala Klinis

Untuk mengetahui sehat tidaknya udang, seorang petambak mesti mengerti benar ciri-ciri udang yang sehat. Tubuh udang sehat berwarna cokelat kehijauan, kulit bersih dengan belang hitam putih kekuningan. Berikut beberapa gejala klinis penyakit yang mudah dikenali :

Loading...
mengatasi penyakit udang windu, menanggulangi penyakit udang vaname, penyakit udang vannamei, penyakit pada udang windu

Penyakit udang
gambar : sciencedirect.com

1. Perut Kosong

Udang yang mulai sakit biasanya makan lebih sedikit daripada biasanya. Bahkan ia bisa berhenti makan sama sekali bila sakitnya sudah parah. Perut kosong merupakan tanda udang sakit, jadi bila terlihat perutnya hampir kosong berarti ia berada pada fase awal terjangkit penyakit.

2. Ekor tidak mekar

Udang yang lemah tidak mampu bergerak lincah dan ekornya tidak melengkung.

3. Warna permukaan tubuh memuda dan jaringan otot putih keruh

Udang yang mulai sakit kulitnya mengeras. Warna jaringan otot akan menjadi putih buram atau kemerahan, ketika sakitnya bertambah parah.

4. Mata pucat dan gerakan lambat

Udang yang mulai sakit sering ‘nongol’ di permukaan dan mengapung di tepi tambak. Bagian matanya juga perlu dicek dengan lampu. Udang sehat akan menyingkir saat terkena cahaya dan matanya berwarna merah. Sebaliknya, ia positif sakit bila matanya memucat atau hampir putih dan gerakannya menghindari cahaya lambat. Untuk mendeteksi hal ini, petambak sebaiknya memeriksa tepi tambak di malam hari sebelum pemberian pakan terakhir.

Di samping gejala klinis utama, masih ada tanda sakit lain yang memerlukan analisis teliti, misalnya warna faeces (kotoran) yang tidak seperti biasanya, warna buram batang mata, dan mengembungnya mata pada udang muda.

Ketika gejala penyakit sudah muncul, petambak secepat mungkin memperbaiki kondisi tambak yang buruk, seperti air yang keruh, kurang baiknya aerasi dan pergantian air. Karena, aplikasi obat tanpa perbaikan kondisi umum tambak, sering kurang efektif dan hanya berguna dalam jangka pendek, lalu kejadian hal yang sama akan terulang lagi.

Baca Juga :  Lulusan SMP? Tidak Masalah, 7 Orang Ini Juga Bisa Sukses dan Terkenal!

5. Perlakuan Dengan Antibiotik

Salah satu cara pengendalian penyakit adalah aplikasi antibiotik. Cara ini hanya akan efektif saat udang berada pada fase awal penyakit dan selama ia masih mau makan. Pada fase lanjutan, udang tidak mau makan sehingga tidak mampu lagi menerima pengobatan. Penggunaan antibiotik menuntut petambak mengatur waktunya, supaya tidak ada residu tersisa di tubuh udang saat dipasarkan kelak-misalnya, berat udang baru mencapai 10-15 gram. Pilihan antibiotik masuk akal, sebab kalau pun dipanen akan mendapatkan harga sangat rendah.

Dosis antibiotik (oksitetrasiklin) untuk pengobatan penyakit akibat infeksi bakteri yang dianjurkan berkisar 3-5 gram/kg pellet. Obat harus dilarutkan dalam air, lalu dicampur dengan pakan dan dikeringkan. Kurang dari 3 gram, pengobatan tidak efektif karena oksitetrasiklin ‘tercuci’ dan tidak termakan oleh udang.

Ketika petambak menemukan sekumpulan udang terinfeksi bakteri atau mati di tepi tambak, maka kincir dan pusat drainas harus segera diperiksa. Selanjutnya, petambak mesti segera melakukan panen darurat kalau ternyata sejumlah udang nafsu makannya turun drastis dan yang mati cukup banyak. Panen ini beralasan, lantaran percuma mengobati udang yang tidak bernafsu makan. Di samping itu, akumulasi udang mati akan mendukung perkembangan bakteri dan memperburuk kondisi dasar kolam. Dalam hal ini menunda panen bisa menimbulkan kerugian lebih banyak.

Namun petambak tidak perlu panik, bila kematian udang hanya ditemukan di sekitar tepi tambak-tidak di tempat lain-dan nafsu makan udang hanya sedikit turun. Dengan penggantian air, mereka akan tetap sehat dan mau makan kembali. Penyelesaian masalah akan lebih mudah lagi, kalau kejadian ini berlangsung saat udang sudah mencapai ukuran layak jual. Apabila situasi tidak kunjung membaik, panen masih bisa dilakukan sewaktu-waktu. (PSP)

Loading...