Silence is golden atau Diam itu emas

Silence is golden. Diam itu emas.

Memang iya, tapi kalian belum tentu paham maksudnya. Kalau diam hanya kau artikan ‘yang waras ngalah,’ maka kau belum sepenuhnya menangkap roh dari adagium ini. Dalam pertikaian orang memilih diam dengan berbagai alasan.

– Kalau kau diam hanya karena malas berdebat, berarti pamormu tetap gelap di mata lawan. Kebisuanmu dia pandang sebagai kekalahan, pengakuan bersalah, atau minim kecerdasan.

– Kalau kau diam karena merasa percuma melayani ocehan orang dungu, bukan kemenangan yang kau dapatkan, sebab kau tidak mendidik dia dan membuka celah sempit di batok kepalanya.

– Kalau kau diam karena takut terjebak oleh omonganmu sendiri, berarti kau manusia defensif yang takut mengambil risiko, kuatir dibully.

Apapun alasannya, diam itu emas – artinya, kau selamat dari konflik yang lebih gawat, tapi kadar emasmu itu tak lebih dari 10 karat, sebab sikapmu tak membawa manfaat.

Tapi diam bisa berlangsung heboh, dahsyat dan riuh rendah: itu terjadi ketika dalam diam kau berdialog dengan akal budimu sendiri, menimbang pilihan strategi, berjuang mencari jalan dan cara terbaik untuk keluar dari jebakan situasi.

Apa untung dan rugi yang kau dapat kalau kau bersuara, apa faedah yg akan musuhmu dapat dari jawabanmu; akankah dia jadi lebih bijak atau justru menjauh karena merasa kau lumat dengan diplomasimu? Pada akhirnya, diam juga tak bisa dipertahankan: pada momen yang tepat, dengan pendekatan dan ‘editorial’ yang benar, kau harus sampaikan hasil permenunganmu itu kepada si dia.

Jelaskan dengan santun dan disertai niat baik, kristal-kristal pikiran yang kau endapkan setelah badai emosimu redam.

Diam adalah seni penantian, mencari momen yang tepat untuk sebuah kemenangan. – Arif Subiyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *