Taman Burung Bali (Bali Bird Park)

Taman Burung Bali (BALI BIRD PARK) Kolektor Terlengkap Burung Eksotis 

taman burung bali asia, taman burung bali review, do taman burung, bali bird park & reptile park, bali bird sanctuary, taman burung tmii, taman burung kulim, taman burung sri kembangan

Taman burung bali review
gambar : water-sport-bali.com

Sejak September 1995 obyek wisata di Bali bertambah lagi dengan dibukanya taman burung modern pada lahan seluas 2 ha. Dengan koleksi 12 jenis koleksi macaw, 10 jenis cendrawasih, 10 jenis kakatua, 2 ekor amazon mahkota ungu, dan 10 jenis nuri, Taman Burung Bali dapat mengklaim diri sebagai kolektor terlengkap burung eksotis berharga mahal.

Memasuki komplek taman burung dari tempat parkir mobil, pengunjung langsung disambut panorama taman kering bernuansa padang pasir. Lima batang pohon kurma yang khusus didatangkan dari Arab Saudi diselingi beberapa jenis kaktus dan palem ditanam dihamparan pasir berwarna gading setebal 1,2 m.

Taman kering itu dibatasi jalan setapak terbuat dari batu paras selebar 1,5 m. Dipinggir jalan setapak terlihat tanaman hias drasena, yucca, soka, lantana, nolina, dan pandan bali. Ada pula beberapa jenis bromelia dan helikonia.

Kesan memasuki taman tropis memang lebih menonjol daripada suasana taman burung saat pengunjung pertama kali masuk. Namun begitu duduk di restoran dan melayangkan pandangan ke depan, tampaklah deretan kandang burung berukuran rata-rata 4 m x 6 m dengan tinggi 3,5 m. sementara, didepan restoran seekor beo nias melantunkan lagu Indonesia Raya, mengucapkan assalamu’alaikum dan “hallo cewek” kepada setiap pengunjung yang mendekati sangkarnya.

Dibandingkan Jurong Bird Park di Singapura, variasi tanaman dan arsitektur bangunan jelas lebih variatif. Paduan kandang berwarna kuning gading dengan jenis tanaman yang diseleksi secara ketat tampak harmonis. Menurut Edi Swoboda, Managing Director Taman Burung Bali, sebagian ide model taman ini meniru Taman Burung Walsrode di Jerman. Tapi seluruh bangunannya khas arsitektur Bali.

1. 250 Lebih spesies, 1.000 ekor burung

Pola jalan setapak dibuat sedemikian rupa sehingga pengunjung seakan ‘digiring’ untuk menyaksikan seluruh koleksi burung, mulai dari kandang ke-1 sampai kandang ke-55. Kandang pertama terletak persis di depan taman padang pasir. Kandang ini berisi merak biru, merak putih, bayan, ayam hutan mas, dan pergam bodas. Kandang kedua sampai keenam masing-masing diisi oleh pasangan macaw sayang hijau, macaw biru emas, macaw byacin, macaw scarlet, dan macaw buffon. Macaw terakhir ini merupakan koleksi paling langka dan paling mahal yang dimiliki Taman Burung Bali. Ia termasuk Appendix 1 CITES karena populasinya di seluruh dunia tinggal enam ekor. Harganya sekitar Rp 750 juta.

Baca Juga :  Wisata Alam di Kabupaten Pesawaran, Lampung

Di kandang-kandang berikutnya pengunjung diajak menyaksikan love bird, jalak afrika, ayam hutan cina cokelat, punai, jalak bali, bondol, dan wydah ekor panjang. Koleksi kakatua ditemui setelah pengunjung sampai ke kandang nomor 23, diselingi kandang berisi kasturi raja dan macaw severa.

Dominasi koleksi nuri mulai terlihat setelah pengunjung sampai ke kandang nomor 28. Dari kandang ini sampai ke kandang nomor 38 sebagian besar diisi nuri, dengan selingan betet jawa, betet raja, julang, dan perkici garis kuning.

Sedangkan sepuluh jenis cendrawasih diletakkan di kandang nomor 43 sampai kandang ke-53 dengan diselingi kandang komodo dan kasturi. Taman Burung Bali memiliki izin dari Departemen Kehutanan untuk menangkarkan ke-10 jenis cendrawasih yang dilindungi ini.

Dari ke-55 kandang tersebut, yang terbesar ukurannya adalah kandang nomor 43. Dengan ukuran 22 m x 18 m x 12 m, kandang ini menjadi salah satu daya tarik utama. Pengunjung ‘dipaksa’ masuk karena inilah satu-satunya jalan untuk kembali. Suasananya memang tidak mengecewakan. Udara di dalam kandang terasa sejuk, kontras dengan suhu di luar kandang yang panas akibat sengatan sinar matahari. Kelembapannya tinggi mirip hutan tropis asli, akibat saking rimbunnya pepohonan dan adanya hujan buatan yang dipancarkan dari sprinkler di langit-langit kandang. Burung-burung bebas beterbangan di sela-sela kerimbunan pohon. Karena tidak pernah diganggu, mereka tidak takut pada pengunjung yang memasuki kandang raksasa tersebut. Tercatat ada 40 jenis burung asli Indonesia di kandang ini, termasuk cendrawasih, dengan jumlah total 139 ekor.

Baca Juga :  24 Gitaris Dunia Paling Keren, Populer dan Terbaik Sepanjang Masa

Taman Burung Bali mengoleksi 250 spesies burung yang berasal dari segala penjuru dunia. Tapi, dari jumlah 1.000 ekor tak ada satu pun burung pemakan daging. “Kita memang bisa memasukkan burung itu ke kandang yang ada. Tapi karena makannya daging, timbul pemandangan tidak bagus untuk di-display. Apalagi daging mengeluarkan aroma tidak enak”, papar Edi Swoboda, “Suara burung itu juga akan menakutkan burung lain sehingga stres dan tidak mau bertelur”.

2. Penangkaran Burung langka

do taman burung, bali bird park & reptile park, bali bird sanctuary, taman burung tmii, taman burung kulim, taman burung sri kembangan, Bali Bird Park, taman burung bali asia, taman burung bali reviewBerbeda dengan tempat wisata lain, ada satu bagian dari Taman Burung yang tidak boleh dimasuki pengunjung. Bahkan karyawan pun tidak semua boleh masuk ke sana. Tempat terlarang tersebut ialah baby bird nursery (laboraturium) dan areal penangkaran. Disinilah anak-anak burung yang lahir dipelihara dan dibesarkan, sebelum dilepas ke alam bebas atau ke kandang.

Manajemen Taman Burung Bali memang bertekad untuk turut serta mencegah kepunahan burung yang sudah langka, seperti jalak bali atau cendrawasih, misalnya. Caranya dengan membuat program penangkaran burung-burung yang dilindungi. Program tersebut sudah berjalan dan banyak pecinta burung dari mancanegara yang datang meninjau. “Mereka mengakui bahwa di Indonesia sudah ada set up untuk melakukan breeding burung langka”, papar Edi Swoboda. Pengkuan ini penting untuk ‘mencuci bersih’ nama Indonesia. Sebab di mata pecinta burung mancanegara nama Indonesia agak cacat lantaran banyak burung yang dilindungi dijual secara ilegal.

Baca Juga :  10 Nama Jembatan Terkenal di Dunia

Indonesia menjadi perhatian pecinta burung dunia karena paling banyak memiliki spesies burung daripada negara lain. Di seluruh dunia tercatat ada 356 spesies burung dan 24% diantaranya terancam punah.

Untuk menjalankan program penangkaran tersebut, Taman Burung Bali sudah mengantungi 20 izin penangkaran burung langka dari Departemen Kehutanan, anatara lain untuk sepuluh jenis cendrawasih, kasturi raja, kasturi, merak, dan kakatua jambul kuning besar. Yang sudah berhasil bertelur dan menetas disana ialah jalak bali, merak hijau, kakatua, betet jawa, dan beberapa jenis burung dari luar negeri.

Burung hasil penangkaran tersebut akan dilepas di kandang raksasa yang kelak akan dibangun. Disini tingkah lakunya diamati sebelum dilepas ke alam bebas. Rencana lain pihak taman burung ialah membuat display untuk reptil. Reptil dipilih lantaran berdaasarkan teori evolusi burung berasal dari reptil. Buktinya, fosil archeotheryx. Makhluk ini memiliki kepala dan ekor berbentuk reptil, tapi bulu dan sayap seperti burung. Reptil yang kini sudah dipertontonkan disana ialah komodo.

Pengembangan taman burung dengan reptil jelas akan mempertinggi daya tarik obyek wisata baru ini. Sekarang jumlah pengunjung pada hari biasa berkisar 300-400 orang. Pada hari libur/besar, jumlahnya meningkat menjadi 400-500 orang. Sekitar 70% pengunjung merupakan wisatawan domestik.

Taman Burung Bali terletak di Desa Batubulan, sekitar 200 m dari jalan raya yang menghubungkan Batubulan dan Singapadu. Hanya diperlukan waktu 30 menit bermobil dari Pantai Kuta  ke Batubulan. Kalau naik kendaraan umum, ambil jalur menuju Gianyar. Di persimpangan antara Gianyar dan Batubulan berhenti dan kemudian berjalan kaki sekitar 1 km untuk sampai ke lokasi. Untuk menyaksikan keindahan koleksi Taman Burung ini, setiap pengunjung mesti merogoh kocek Rp. 80.000 / orang.

Loading...
error: